Konten dari Pengguna

Coretan Untuk Dua Renjana

Raudhatul Aslami

Raudhatul Aslami

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raudhatul Aslami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nak, Hidup ini layaknya berlayar. Selalu ada ombak dalam setiap pelayaran. Setidaknya, kamu punya mimpi serta penuh asa.

- Ayah

Am, hidup begitu singkat, luangkanlah dengan bersedekah.

- Umi

Makam KH. Ahmad Hasanuddin dan Hj. Munipah

KH. Ahmad Hasanuddin dan Hj. Munipah, sepasang suami istri yang terus melangkah dan bersandingan hingga akhir hayatnya. Ayah adalah seorang guru agama di MI. Nurul Anwar, Pondok Pesantren As-Syifa, dan turut berkeliling ke beberapa majelis taklim sekitar Bojonggede. Langkah ayah yang selalu kuat hingga tidak getir berdakwah, tentunya dibayangi oleh pelukan dan semangat hangat dari Umi. Lewat suratan takdir, keduanya kembali kepada-Nya pada Agustus 2020 dan hanya berselang satu hari. Ayah meninggal dunia pada 28 Agustus 2020. Satu hari setelahnya, 30 Agustus 2020, Umi menyusul.

Puisi-puisi tanpa judul ini saya persembahkan untuk dua renjana yang telah memeluk ke haribaan-Nya.

Hari-hari seakan lebih panjang,

Malam-malam menjadi telanjang.

Rintih,

Keluh,

Menyeru,

Menderu,

Dari sudut pintu-ruang.

Bogor,

23/08/20, 02.12.

20.00

Ramainya meredup,

Cahayanya mengatup,

Ruangnya melayu.

Kini, 20.05

Layak malam yang tinggi.

Sedang aku,

Kembali terpojok

Dalam sudut kamar.

Dengan embun mata,

Ramai kuharap,

Dalam ruang,

Dalam hati.

Bogor,

Setelah hujan mereda.

12 September 2020.

Bayang-bayang halu

Pada tanda tanya

Di setiap koma dan titik.

Lalu lalang dalam mimpi

Tak jua bersapa temu

Baiklah,

Aku layangkan tanda seru.

Gerakmu sudah kupanah.

Bayangmu, kini otoriterku.

Bojonggede,

Tumbuh setelah layu.

01/10/2020.

Tabik, Umi.

Tabik

Tabik

Jumpa dikit sapa

Pada

Rajutan koma kerinduan.

Hangat pelukmu,

Kecil kalammu,

Manis senyummu.

Ah,

Jelita menyelimutimu,

Dengan balutan daster.

Tabik,

Sang Renjana Jelita.

4 hari pra-40 hari.

4/10/2020

Nanti malam, dekap saya di mimpi, ya.

Kilo-kilo meter jalan terlewat.

Puluh-puluh toko dihampiri.

Ragam wajah bertatap.

Ratus-ratus langkah berjejak.

Saya luput,

Untuk pulang.

Menyapa kedua sayap hidup.

Saya, terlalu lunglai .

Beribu maaf, Yah, Mi.

Gerbong 1,

20.56, 3/3/21.

Dalam perjalanan pulang.

Ingat-ingat,

Jelas-jelas, sungguh.

Dekapan hangat selepas shalat maghrib.

Mukenamu amat wangi kala itu.

Selepas dicuci, ya, Bu?

Amat lembut belaian tanganmu.

Menenangkan seisi kepala yang kalut.

Amat syahdu untaian doa-doamu,

Kala itu, Bu.

Sungguh.

Ah, ya, juga amat jelita wajahmu, Bu.

Meski, raut-raut letih menyertai.

Ciputat,

31 Maret 2021.

Halo, Ayah & Umi.

Amat berseri saya bisa bertemu kembali.

Lampau kesibukan duniawi yang memenatkan.

Rasanya pulang tak hingga masuk pintu.

Sebatas sampai depan pelataran.

Ramadan,

Saya sudah masuk kamar.

Berjumpa lagi, kita?

Bojonggede, 14 April 2021.