Untuk Semua Lelah yang Tak Pernah Dirayakan: Selamat Hari Ibu

Mahasiswi Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Semester 1 di UIN Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Raudhatul Ikrimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bak kata pepatah, "kasih ibu sepanjang masa". Namun, dibalik kasih tanpa pamrih yang terus mengalir itu, ada lelah yang sering kali dipendam dan dianggap wajar dan tak pernah benar-benar memilik ruang untuk didengar.
Momentum Hari Ibu yang dirayakan setiap tanggal 22 Desember ini kerapnya diiringi dengan ucapan manis, bunga, dan juga unggahan-unggahan hangat di media sosial. Para ibu dirayakan sebagai sosok kuat, penuh pengorbanan, dan tak kenal lelah. Namun, di balik perayaan itu, ada satu hal yang jarang sekali disadari, yaitu kelelahan mental dan emosional seorang ibu yang tak pernah benar-benar mendapat ruang untuk diakui. Kelelahan tersebut kerap dianggap sebagai sebuah kewajaran dan hal yang tak perlu diperdulikan.
Kesehatan Mental Ibu dan Bebannya yang Terus Bertambah
Di era modern ini, peran dalam keluarga pun ikut bergeser. Pada keluarga modern, ibu tidak lagi hanya mengurus urusan domestik, seperti mengurus rumah, anak dan suami. Namun, Ibu juga bekera dan berkontribusi secara ekonomi sekaligus menjadi penjaga stabilitas emosi keluarga. Semua peran itu dijalani bersamaan, sering kali tanpa jeda.
Di tengah bersihnya kondisi rumah, anak yang sehat, suami yang bahagia, rutinitas yang tertata, perut yang terisi, seragam yang selalu rapi, ada sosok yang berperan besar didalamnya, ada lelah yang ia simpan rapi-rapi agar keluarganya selalu daam kondisi prima. Namun, bagaimana dengan keadaannya sendiri?
Budaya kita masih menempatkan ibu sebagai pusat pengasuhan dan pengelolaan emosi rumah tangga. Stigma masyarakat kerap menyalahkan peran ibu ketika terjadi sebuah kesalahan dalam keluarganya. Sehingga, ketika ibu merasa lelah, yang muncul justru rasa bersalah dan perasaan tidak pantas terhadap dirinya sebagai ibu. Padahal, kelelahan itu bukan semata keluhan dan persoalan individu, melainkan hasil dari ekspektasi sosial yang terus menumpuk tanpa diiringi dukungan yang memadai.
Rumah Ramai dan Sunyinya Dukungan
Peran ibu seringkali berada dalam kondisi paling rentan, dituntut kuat dan jarang diberi ruang untuk rapuh. Karena lelah ibu kerap dianggap sebagai resiko dan kewajiban yang harus dirasakan setiap ibu.
Kelelahan emosional yang terus dipendam membuat ibu terbiasa menyelesaikan segalanya sendiri. Tidak karena mampu, tetapi karena merasa harus. Perlahan, kelelelahan ini menjdi sesuatu yang dianggap wajar, bahkan dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak yang Diam-Diam Dirasakan Anak
Kelelahan emosional ibu tidak berhenti pada dirinya sendiri. Anak-anak, sebagai individu yang paling peka terhadap suasana rumah, kerap menyerap kelelahan itu secara diam-diam. Anak terkadang belajar emosi bukan dri nsihat panjang, melainkan dari relasi sehari-hari, dari cara orang tua merespons stres, lelah dan tekanan hidup.
Tak jarang anak tumbuh menjadi pribadi yang tampak mandiri dan "tidak merepotkan", tetapi menyimpan kecemasan, kesulitan mengekspresikan perasaan, atau merasa harus selalu kuat. Orang tua seringkali tidak menyadari sinyal tersebut, sehingga rumah perlahan menjadi tempat yang tidak aman secara emosional.
Hari Ibu sebagai Ruang Refleksi
Merayakan Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada simbol dan seremonial. Lebih dari itu, ia perlu menjadi momen refleksi bersama: tentang bagaimana keluarga modern memperlakukan ibu, tentang beban emosional yang sering dianggap wajar, dan tentang pentingnya dukungan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ibu bukan simbol ketangguhan tanpa batas. Ia manusia, dengan lelah, rapuh, dan kebutuhan untuk didengar. Kesehatan mental ibu bukan isu pribadi semata, melainkan fondasi penting bagi kesehatan emosional keluarga secara keseluruhan.
Untuk semua ibu yang terus menjalani hari dengan senyum, meski lelah tak pernah benar-benar usai, selamat Hari Ibu. Semoga suatu hari, lelah itu tidak hanya dipikul, tetapi juga diakui, dibagi, dan dirayakan dengan dukungan yang nyata.
