Panduan Budidaya Lele dengan Sistem Bioflok untuk Pemula

Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Padjadjaran. Penelitian mengenai Smart Farming dan Precision Agriculture
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Naufal Rauf Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah Bioflok
Konsep bioflok pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970-an oleh para peneliti yang tertarik pada pengelolaan limbah dalam budidaya perikanan. Mereka mengamati bahwa mikroorganisme dapat digunakan untuk mendekomposisi bahan organik dan mengubahnya menjadi sumber protein. Pada tahun 1990-an, sistem bioflok mulai dikenal di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Thailand. Para peternak mulai menerapkan metode ini untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang dan ikan, termasuk lele. Sejak awal 2000-an, teknologi bioflok semakin disempurnakan dengan penambahan probiotik dan pengelolaan pakan yang lebih baik. Penelitian tentang manfaat dan efektivitas sistem ini semakin meluas, dan bioflok mulai diadopsi secara lebih luas di berbagai negara.
Bioflok bisa diartikan sebagai gumpalan (flok) dari berbagai campuran heterogen mikroba (plankton, protozoa, fungi), partikel, polimen organik, koloid dan kaiton yang saling berinteraksi dengan sangat baik di dalam air.
Sistem bioflok bekerja dengan mengubah senyawa organik dan anorganik, termasuk karbon (C), oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N) menjadi massa sludge. Hal ini dilakukan dengan menggunakan bakteri yang dapat membentuk gumpalan floc untuk mengubah bio polymer menjadi bioflok. Teknologi bioflok mengubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organikyang tidak beracun yang dapat digunakan untuk budidaya lele dalam perairan. Nitrogen yang sudah diubah ini digunakan untuk pakan lele, yang membuatnya lebih murah.
Budidaya lele dengan sistem bioflok menjadi salah satu metode yang populer dalam akuakultur modern. Sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pakan tetapi juga menjaga kualitas air. Berikut adalah tahapan dalam budidaya lele menggunakan sistem bioflok:
1. Persiapan Kolam
Tahap pertama dalam sistem bioflok adalah mempersiapkan kolam. Secara umum ada 4 jenis kolam yang digunakan untuk budidaya lele, yaitu kolam dari beton, kolam dari tanah, kolam dari kotak terpal, dan kolam dari bulat terpal. Dari keempat jenis kolam tersebut, yang sering dipakai sama pembudidaya lele adalah kolam dari bulat terpal karena lebih efisien (bongkar pasang) dan hemat biaya. Selain pemilihan jenis kolam yang akan digunakan, pembudidaya juga harus memperhatikan lokasi yang strategis dengan akses air yang baik. Pastikan kolam memiliki sirkulasi air yang baik dan dilengkapi dengan aerator untuk menjaga oksigen terlarut.
Cara pembuatan kolam terpal bulat
Potong besi wire-mesh menjadi dua bagian sehingga terbentuk dua ukuran 5.4m x 1.05m sebanyak dua buah.
Gabungkan 2 besi wire-mesh tadi menggunakan las, maka terbentuk ukuran 10.8m x 1.05m.
Satukan kedua ujung besi wire-wesh sehingga berbentuk bulat dan rangka kolam sudah jadi.
Tentukan lokasi untuk menaruh kerangka kolam tadi. Buat dengan ukuran yang sama dengan kerangka dan bagian tengah lahan dibikin mengerucut. Lalu buat saluran pembuangan pada bagian tengah tadi dengan menggunakan pipa paralon.
Letakan pipa PVC di lubang saluran yang telah dibuat.
Letakan kerangka kolam pada lingkaran tanah berbentuk kerucut tadi.
Pasang karpet talang yang sudah dibuat sesuai ukuran di setiap sisi dalam kerangka besi dan diikat dengan kabel ties.
Kemudian pasanglah terpal dengan rapi hingga membentuk sebuah kolam bundar.
Pada bagian tengahnya di beri lubang untuk menempatkan pipa PVC untuk saluran pembuangan dan kolam sudah bisa digunakan.
2. Persiapan Air
Setelah pembuatan kolam, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan air untuk pembesaran lele. Masukkan air dengan ketinggian 80-100 cm. Pada hari kedua masukkan probiotik 5ml/m3, kemudian hari ketiga masukkan probiotik molase (tetes tebu) 250 ml/m, pada malam harinya taburkan dolomite 150/200 g/m3. Setelah semuanya tercampur, diamkan media pembesaran lele selama 7 hingga 10 hari. Kemudian di hari ke 11 lakukan penebaran benih ikan lele.
3. Penebaran Benih
Sebelum menyebarkan benih ke dalam kolam, penting untuk kita memperhatikan kualitas dari benih lele. Benih harus berasal dari induk unggulan, memiliki gerakan yang aktif, organ tubuh yang lengkap, bentuk proporsional, dan warna yang sama. Tebarkan benih dengan kepadatan yang sesuai, biasanya sekitar 20-30 ekor per meter kubik. Pastikan benih diletakkan dengan hati-hati untuk mengurangi stress pada ikan. Setelah menebarkan benih, keesokan harinya tambahkan probiotik 5 ml/m3.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan menjadi kunci dalam keberhasilan budidaya lele. Pantau kualitas air secara rutin, termasuk pH, amonia, dan nitrit. Berikan pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan lele, umumnya pakan terapung yang kaya protein. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan mulut ikan lele. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari dengan dosis 80% dari daya kenyang. Seminggu sekali harus dipuasakan. Pastikan keseimbangan antara pakan yang diberikan dan mikroorganisme tetap terjaga untuk mendukung pertumbuhan bioflok.
5. Panen
Tahap terakhir adalah panen. Lele dapat dipanen setelah mencapai ukuran yang diinginkan, biasanya dalam waktu 3-4 bulan. Gunakan metode yang minim stres untuk ikan selama proses panen, dan pastikan kebersihan tetap terjaga. Setelah panen, bersihkan kolam untuk persiapan siklus budidaya berikutnya
Dengan mengikuti tahapan-tahapan ini, budidaya lele dengan sistem bioflok dapat dilakukan secara efektif, memberikan hasil yang optimal dengan dampak lingkungan yang lebih kecil. Salam budidaya!!
