Jalan Pintas Menuju Kebahagiaan Semu

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raya Fahriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen "Bohlam" mengisahkan tentang perjalanan seorang manusia yang putus asa dan memilih untuk mendatangi sosok mistis yang disebut sebagai ”Aku” demi mendapatkan kebahagiaan fana. Namun, bukan nya bertahan dan berserah kepada Tuhannya. Tokoh manusia ini merasa muak hidup dalam kegelapan dan sangat berhasrat untuk menggapai serta memiliki cahaya bohlam yang menggantung tinggi di langit-langit ruangan yang digambarkan sebagai sebuah kesuksesan atau kebahagiaan.
Sosok mistis tersebut pun menuruti permintaan tokoh manusia tersebut dengan konsekuensi tertentu. Ia menciptakan balok-balok es sebagai tangga agar manusia itu bisa memanjat mendekati cahaya. Namun, setiap kali manusia tersebut melangkah naik, ruang di bawahnya terus dipenuhi balok es, menjebaknya perlahan. Begitu berhasil meraih cahaya, si manusia baru menyadari bahwa ia terperangkap. Cahaya bohlam tersebut tidak bisa dimiliki karena menyatu dengan langit-langit, dan hanya bisa menghangatkan telapak tangannya saja, sementara sisa tubuhnya yang lain mulai membeku akibat dinginnya balok es.
Dalam kondisi terjebak, manusia itu terus memelas meminta bantuan. Setiap kali ia meminta kehangatan untuk bagian tubuhnya yang kedinginan, lalu sosok mistis tersebut menambahkan balok es hingga ruang geraknya mati total. Saat si manusia menyesal dan ingin kembali ke kehidupan asalnya, semuanya sudah terlambat. Karena si manusia terganggu oleh rasa panas di dada akibat menempel pada bohlam dan rasa dingin di punggungnya, ia menyetujui tawaran bantuan lain tanpa berpikir panjang. Si sosok mistis kemudian mematikan cahaya bohlam (membuat ruangan gelap gulita) lalu mengubah seluruh balok es menjadi genangan air yang menenggelamkan ruangan hingga si manusia tewas tenggelam dalam kesunyian. Pada akhirnya, jasad manusia tersebut dilenyapkan secara abadi ke tempat penuh penderitaan karena ia telah menyerah dan berpaling dari Tuhannya.
Ambisi dan Hasrat Pribadi Manusia
"Katamu, seraya menengadah, itu adalah kebahagiaan yang telah lama kau cari. Kau ingin menggapai cahaya yang menggantung jauh pada langit-langit ruangan ini. Kau berhasrat membawanya pulang dan memenuhi ruang kamarmu yang gelap dan kosong dengan cahayanya."
"Kau begitu memuja kilauannya. Matamu berbinar mencerminkan benderang yang dipancarkan oleh benda bulat itu, seolah-olah seluruh hidupmu yang malang akan langsung berubah jika jemarimu berhasil menyentuhnya."
Kedua kutipan di awal cerita tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi batin tokoh manusia yang mulai digerakkan oleh ambisi pribadi yang sangat kuat. Ia merasa muak dengan kegelapan hidupnya, lalu menaruh obsesi besar untuk menguasai cahaya bohlam demi memuaskan kebahagiaan dan hasrat nya sendiri. Cerita ini dibuka dengan menyoroti dinamika internal individu yang berpusat pada pemenuhan eksistensi dirinya sebelum konflik tersebut meluas ke masalah eksternal.
Untuk membedah konflik yang berfokus pada hasrat personal seperti ini, Burhan Nurgiyantoro (2002, hlm. 81) di bukunya mengategorikannya ke dalam Tema Tingkat Egoik. Tema ini berbicara tentang manusia dan segala pergulatan pribadinya. Ketika sebuah cerita digerakkan oleh ego, ambisi, atau obsesi yang berpusat pada kepentingan tokohnya sendiri, seperti perjuangan si manusia mengejar cahaya di atas hamparan es, maka yang tengah disorot adalah wilayah ego manusia.
Konsekuensi Logis & Keterjebakan
"Kau menyadari dirimu telah terperangkap pada tujuan agung yang ternyata tak pernah benar-benar agung... Kekhawatiranmu mulai muncul ketika hawa dingin perlahan mengisi kekosongan ruang."
"Setiap kali kakimu melangkah naik pada balok es yang kusediakan, kau tidak menyadari bahwa ruang di bawahmu telah tertutup rapat. Kau hanya fokus melihat ke atas, tanpa sadar hawa dingin di sekelilingmu mulai membekukan jalinan pakaian dan kulitmu."
"Cahaya itu menyatu dengan langit-langit. Kau hanya bisa menempelkan telapak tanganmu yang gemetar untuk mencuri sedikit kehangatannya, sementara seluruh punggung dan kakimu mulai mati rasa akibat es yang terus meninggi."
Rangkaian kutipan di cerita ini mulai bergeser dari sekadar ego batin menuju ke arah konflik realitas hidup yang nyata, di mana tokoh manusia mulai dirayapi rasa cemas dan takut akibat pilihannya sendiri. Secara kronologis, pengarang menjabarkan hukum sebab-akibat: manusia yang silau oleh impian besar dari kejauhan dan menghalalkan segala cara instan, pada akhirnya akan terjebak oleh konsekuensi logis yang menyengsarakan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan pandangan Burhan Nurgiyantoro bahwa tema selalu mengangkat dan memberi makna pada masalah kehidupan nyata, termasuk mengeksplorasi kecemasan dan ancaman maut yang timbul dari tindakan manusia itu sendiri.
Burhan Nurgiyantoro (2002, hlm. 71–74) juga menyebutkan bahwa tema pada dasarnya tidak pernah lepas dari cerminan pengalaman hidup nyata. Pengarang menyaring berbagai realitas, baik itu rasa cemas, ketakutan, kesombongan, hingga bayang-bayang maut, untuk dijadikan sarana penyampai pesan. Dalam konteks cerita ini, situasi terjebak yang dialami tokoh menjadi bentuk konkret dari bagaimana fiksi merekam dan memberi makna pada konsekuensi pilihan hidup manusia.
Masalah Religiusitas & Keputusasaan
"Karena kau telah menyerah dan mendatangiku, ketimbang bertahan pada Tuhanmu... Kau memilih menukarkan sisa imanmu dengan kehangatan semu yang kutawarkan."
"Ruangan kembali gelap gulita saat kumatikan bohlam itu, dan dalam sekejap balok-balok es mencair menjadi air yang menenggelamkan jeritan terakhirmu. Kau mati dalam kesunyian yang pekat."
"Sekonyong-konyong jasadmu menghilang ke suatu tempat yang tak satu makhluk pun akan senang berada di sana. Tempat yang penuh penderitaan. Membara hingga meleburkan seluruh tubuh dalam siklus yang berulang. Terus menerus. Abadi."
Rangkaian kutipan di bagian penutup ini membawa cerita pada klimaks teologisnya, di mana si manusia menerima balasan akhirat atas keputusasaannya. Bagian akhir ini menegaskan Tema Utama (Mayor Theme) dari cerpen "Bohlam", yaitu dampak fatal ketika manusia melepaskan keimanannya dan berpaling dari Sang Pencipta demi mengejar kenikmatan semu, yang berujung pada siksaan abadi. Berdasarkan teori Burhan Nurgiyantoro, penyelesaian cerita yang berfokus pada rusaknya hubungan makhluk dengan Penciptanya serta takdir keimanan ini masuk ke dalam tema tingkat divine (transenden/ketuhanan).
Burhan Nurgiyantoro (2002, hlm. 81–82) menempatkan persoalan religiusitas ke dalam tingkat divine atau transenden. Pada tingkat ini, perhatian cerita tidak lagi berfokus pada persoalan duniawi, melainkan pada hubungan manusia dengan Sang Pencipta, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianutnya. Penutup cerpen Bohlam yang memperlihatkan akhir tragis jasad si manusia akibat menggadaikan iman sangat tepat dibaca melalui tema ketuhanan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Fahleja, Reja. 2026. "Bohlam" Kompas, 1 Mei https://www.kompas.id/artikel/bohlam
