Konten dari Pengguna

Bukan Kampus Impianku Sejak Awal, Tapi UNPAM Jadi Jalan Kuliahku

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Tahun 2022, setelah lulus sekolah, aku sempat mikir kuliah itu bakal jadi hal yang cukup lurus buat dijalani. Ternyata jalannya nggak sesederhana itu, dan aku baru sadar hal itu justru dari proses yang paling awal.

Rencana yang Nggak Berjalan Sesuai Harapan

Awalnya aku sempat mempertimbangkan jalur masuk perguruan tinggi negeri. Tapi buat ikut SNMPTN, ternyata ada data yang harus disiapkan, dan waktu itu datanya belum lengkap. Dari pihak sekolah juga kurang mengusahakan proses itu, jadi akhirnya aku nggak bisa ikut jalur tersebut.

Aku sempat mikir masih ada SBMPTN sebagai jalan lain. Tapi belum sempat aku benar-benar fokus ke situ, orang tuaku ngasih tahu kalau kondisi ekonomi keluarga saat itu belum memungkinkan buat membiayai kuliah.

Ayahku waktu itu baru dapat kerjaan lagi setelah sebelumnya resign, tapi belum menerima gaji. Kondisi itu bikin rencana kuliahku otomatis harus ditunda dulu, meskipun sebenarnya aku masih pengin banget lanjut.

Bingung Cari Jalan Selama Sebulan

Setelah tahu kondisi itu, aku sempat bingung selama kurang lebih satu bulan. Bukan karena nggak niat kuliah, tapi karena aku bener-bener nggak tahu harus mulai cari jalan dari mana.

Waktu itu rasanya semua opsi yang tadinya aku pikirkan jadi nggak relevan lagi. Aku nggak bisa lewat SNMPTN, dan SBMPTN pun jadi kurang memungkinkan karena alasan biaya. Jadi selama sebulan itu, aku lebih banyak muter otak sendiri, mikirin kira-kira ada nggak sih pilihan lain yang masih bisa dijangkau.

Daripada berhenti sampai di situ, aku akhirnya mutusin buat mulai cari-cari sendiri. Aku coba lihat kampus mana yang biayanya kira-kira masih bisa disesuaikan dengan kondisi keluargaku saat itu.

Menemukan UNPAM di Tengah Proses Mencari

Dari proses cari-cari itu, aku akhirnya nemu Universitas Pamulang, atau yang biasa disingkat UNPAM. Aku tertarik karena biaya kuliahnya relatif fleksibel dan bisa dicicil, yang menurutku waktu itu jadi poin penting banget mengingat kondisi keuangan keluarga yang belum stabil.

Selain itu, kebetulan di tahun 2022, yang saat itu masih dalam masa setelah pandemi COVID-19, biaya pendaftarannya juga sedang gratis. Hal-hal semacam ini yang bikin aku ngerasa UNPAM jadi pilihan yang masuk akal buat aku ambil di kondisi seperti itu.

Aku nggak nemuin UNPAM karena udah lama jadi incaran atau karena pertimbangan besar soal reputasi kampus. Aku nemuinnya karena memang lagi cari opsi yang bisa dijangkau, dan UNPAM kebetulan cocok dengan kondisi yang aku dan keluargaku alami waktu itu.

Ternyata Ada Hal Lain yang Aku Dapat

Setelah mempertimbangkan itu semua, aku akhirnya memutuskan buat daftar dan lanjut kuliah di UNPAM. Awalnya memang alasan utamaku sederhana, yaitu mencari kampus yang memungkinkan buat aku kuliah dengan kondisi ekonomi keluarga saat itu.

Tapi setelah benar-benar menjalani perkuliahan, ternyata ada hal lain yang kemudian aku rasakan. Salah satunya dari cara dosen mengajar.

Menurut pengalamanku selama kuliah, aku cukup terbantu dengan cara beberapa dosen menyampaikan materi. Penjelasannya nggak cuma berfokus pada teori, tapi ada juga yang mengaitkan materi dengan contoh dan situasi yang lebih dekat dengan kehidupan atau dunia kerja.

Buat aku, hal seperti itu cukup penting karena materi kuliah jadi lebih mudah dipahami. Jadi, meskipun awalnya aku memilih UNPAM karena pertimbangan yang sangat realistis soal biaya, setelah menjalaninya aku menemukan pengalaman lain yang ternyata juga aku hargai dari kampus ini.

Akhirnya Tetap Bisa Kuliah

Kalau dipikir-pikir, keputusan memilih UNPAM waktu itu memang bukan bagian dari rencana yang sudah aku susun sejak awal. Aku hanya sedang mencari jalan supaya keinginan untuk kuliah nggak berhenti karena keadaan.

Dan ternyata, jalan yang awalnya aku pilih karena pertimbangan biaya juga memberikan pengalaman lain selama aku menjalaninya.

Sekarang kalau aku pikir ulang, jalan menuju kuliah ternyata nggak selalu lurus seperti yang aku bayangkan waktu masih di bangku sekolah. Ada banyak faktor di luar kendali yang bisa bikin rencana awal berubah total, seperti kondisi ekonomi keluarga yang aku alami.

Tapi dari situ juga aku belajar, kadang jalan lain itu baru kelihatan justru ketika kita mulai mencarinya, bukan waktu kita masih diam menunggu rencana awal berjalan mulus.

Buat aku, UNPAM bukan soal kampus mana yang paling bagus. UNPAM adalah salah satu bagian dari perjalanan yang akhirnya membuatku tetap punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, ketika rencana awalku ternyata nggak bisa berjalan seperti yang aku harapkan.