Konten dari Pengguna

Bukan karena Tidak Mau Kuliah, Aku Hanya Sempat Tidak Mampu

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Ada satu masa waktu itu, aku sempat mikir mungkin aku memang harus berhenti kuliah. Bukan karena capek belajar, bukan juga karena kehilangan minat. Aku cuma benar-benar nggak tahu lagi harus bagaimana soal biaya.

Kalau ada yang tanya kenapa waktu itu aku kelihatan lesu, aku nggak selalu bisa jujur menjawabnya. Susah rasanya bilang, “Aku takut nggak bisa bayar semester depan,” kepada orang yang mungkin nggak pernah mengalami hal yang sama.

Ketika Biaya Jadi Beban yang Nggak Kelihatan

Dari luar, kuliah mungkin kelihatannya cuma soal membayar biaya semester. Padahal, ada banyak kebutuhan lain yang ikut berjalan, mulai dari tempat tinggal, makan, transportasi, buku, sampai kebutuhan kecil yang kalau dikumpulkan ternyata jumlahnya nggak sedikit.

Aku sering menghitung ulang pengeluaran di kepala sebelum tidur. Bukan karena ingin terlalu hemat, tapi karena memang harus benar-benar diperhitungkan supaya semuanya tetap cukup.

Ada masa ketika aku harus memilih, membeli buku yang dibutuhkan atau menahannya dulu demi kebutuhan lain yang lebih mendesak. Pilihan-pilihan kecil seperti itu ternyata cukup melelahkan kalau harus dipikirkan terus-menerus.

Ingin Lanjut, Tapi Ragu Sanggup

Yang bikin berat sebenarnya bukan cuma soal uang. Ada perasaan bimbang antara masih ingin melanjutkan kuliah, tetapi di saat yang sama sadar bahwa kondisi sedang nggak memungkinkan.

Aku ingat beberapa kali berpikir untuk berhenti sementara. Bukan karena sudah nggak niat kuliah, tapi karena aku juga memikirkan keluarga di rumah yang sedang mengalami kesulitan.

Rasanya seperti egois kalau tetap memaksakan kuliah ketika ada kebutuhan lain yang juga penting. Tapi di sisi lain, meninggalkan kuliah di tengah jalan juga bukan keputusan yang mudah.

Sudah sejauh ini dijalani, jadi rasanya sayang kalau harus berhenti begitu saja. Di titik itu, aku sadar bahwa ada orang yang sebenarnya masih ingin belajar, tetapi keadaan membuat mereka harus berpikir ulang.

Setiap Orang Punya Kemampuan yang Berbeda

Dari pengalaman itu, aku jadi lebih mengerti kalau kemampuan finansial setiap mahasiswa memang berbeda-beda, meskipun kelihatannya sama-sama duduk di kelas yang sama.

Ada yang bisa fokus kuliah tanpa harus memikirkan biaya setiap saat. Ada yang harus bekerja di sela-sela kuliah, ada yang mengambil cuti untuk mengumpulkan biaya, dan ada juga yang akhirnya harus berhenti karena keadaan benar-benar nggak memungkinkan.

Keputusan seperti itu menurutku nggak bisa dinilai dengan standar yang sama. Orang yang berhenti kuliah karena masalah ekonomi bukan berarti dia malas, gagal, atau nggak punya masa depan.

Mereka mungkin hanya sedang menghadapi keadaan yang berbeda dan mengambil keputusan yang menurut mereka paling masuk akal pada saat itu.

Aku sendiri merasa beruntung karena akhirnya masih bisa melanjutkan kuliah, meskipun jalannya nggak selalu mudah. Tapi pengalaman itu juga membuatku sadar bahwa kalau keadaan sedikit berbeda, mungkin aku bisa saja berada di posisi yang sama dengan mereka yang harus berhenti.

Dukungan Kecil yang Ternyata Berarti Besar

Yang membuatku akhirnya bisa bertahan ternyata bukan hanya usaha sendiri. Ada dukungan keluarga yang tetap percaya aku bisa melanjutkan kuliah, meskipun mereka sendiri juga sedang menghadapi kesulitan.

Ada juga bantuan dari orang-orang di sekitar yang mungkin nggak sadar kalau hal kecil yang mereka lakukan ternyata berarti besar buatku.

Kadang dukungan nggak selalu berbentuk uang. Ada kalanya cukup dengan kalimat sederhana seperti, “Coba dulu, jangan buru-buru menyerah.”

Kalimat sesederhana itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tapi saat sedang berada di titik ingin berhenti, rasanya bisa memberikan sedikit alasan untuk mencoba lagi.

Dari situ aku belajar bahwa bertahan dalam pendidikan nggak selalu hanya soal seberapa kuat seseorang berusaha. Kadang ada dukungan dari orang lain yang ikut membuat seseorang punya kesempatan untuk terus berjalan.

Bukan Semua Orang Berangkat dari Kondisi yang Sama

Sekarang aku masih menjalani kuliah dengan segala naik turunnya. Aku belum tahu bagaimana cerita akhirnya nanti, tetapi pengalaman ini membuatku melihat pendidikan dengan cara yang sedikit berbeda. Nggak semua mahasiswa bisa menjalani kuliah dengan tenang. Bagi sebagian orang, bisa tetap terdaftar sebagai mahasiswa dan melanjutkan satu semester lagi mungkin sudah menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Karena itu, aku mencoba untuk nggak gampang menilai seseorang yang harus menunda, mengambil cuti, atau bahkan berhenti kuliah karena alasan ekonomi. Bukan berarti mereka nggak mau kuliah. Bisa jadi mereka justru sangat ingin melanjutkan, tetapi untuk sementara keadaan belum berpihak kepada mereka. Dan kalau sekarang aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan, aku nggak ingin menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja, karena aku tahu ada banyak orang yang punya keinginan yang sama, tetapi harus berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih sulit.