Inflasi dan Dompet Kita: Kenapa Uang Terasa Cepat Habis?

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak ngerasa, belanja bulanan kali ini isinya kurang lebih sama kayak bulan-bulan sebelumnya, tapi kok uangnya lebih cepat habis? Bukan karena belanja lebih banyak, tapi entah kenapa total di struk belanjaan makin lama makin bikin kaget.
Kalau kamu ngerasain hal ini, sebenarnya bukan cuma perasaan doang. Ada penjelasan ekonominya, dan istilah yang sering dipakai buat menjelaskan fenomena ini adalah inflasi.
Inflasi Itu Sebenarnya Apa Sih?
Sederhananya, inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam suatu periode waktu. Jadi, bukan cuma satu atau dua barang yang harganya naik, tetapi terjadi kenaikan tingkat harga secara umum.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y). Artinya, secara umum tingkat harga barang dan jasa yang tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025. Pada bulan yang sama, inflasi secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,21 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,86 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga memang bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kenaikan terjadi pada barang dan jasa yang rutin digunakan atau dibeli.
Kenapa Uang Bisa Terasa Lebih Cepat Habis?
Nah, di sinilah hubungannya sama dompet kita sehari-hari. Kalau harga barang naik sementara pendapatan tetap sama, otomatis uang dengan jumlah yang sama bisa membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini berkaitan dengan daya beli masyarakat.
Bayangin dulu belanja mingguan buat lauk-pauk bisa dapat lebih banyak dengan uang sekian. Sekarang, dengan uang yang sama, jumlah barang yang didapat bisa lebih sedikit. Padahal kebiasaan belanja nggak berubah, cuma harga-harga yang mengalami perubahan.
Efeknya nggak cuma terasa saat belanja makanan. Pengeluaran untuk transportasi, kebutuhan rumah tangga, pendidikan, atau kebutuhan pribadi juga bisa ikut memengaruhi kondisi keuangan. Ketika beberapa pengeluaran mengalami kenaikan secara bersamaan, total pengeluaran bulanan akhirnya terasa lebih besar.
Kenapa Dampaknya Bisa Berbeda-beda?
Menariknya, dampak inflasi nggak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap orang. Hal ini karena pola pengeluaran dan kebutuhan setiap orang berbeda.
Orang yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari mungkin akan lebih cepat merasakan perubahan harga barang dibandingkan orang yang memiliki pola pengeluaran berbeda.
Selain itu, perubahan pendapatan juga ikut berpengaruh. Kalau pendapatan seseorang tetap sementara berbagai kebutuhan mengalami kenaikan harga, uang yang tersedia tentu terasa lebih terbatas.
Jadi, kalau belakangan ini kamu ngerasa keuangan lebih ketat padahal gaya hidup nggak banyak berubah, bisa saja perubahan harga menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhinya.
Menyesuaikan Pengeluaran Saat Harga-harga Naik
Karena perubahan harga merupakan bagian dari kondisi ekonomi yang berada di luar kendali pribadi, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan cara mengelola pengeluaran.
Langkah paling sederhana adalah mengevaluasi kembali anggaran bulanan. Coba lihat pengeluaran mana yang mengalami kenaikan dan mana yang masih bisa dikendalikan. Dari situ, kita bisa menentukan kembali prioritas pengeluaran.
Kebutuhan yang memang penting tetap perlu dipenuhi, sementara pengeluaran yang sifatnya bisa ditunda dapat dipertimbangkan kembali waktunya. Bukan berarti harus dihilangkan, tetapi porsinya bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Membandingkan harga sebelum membeli juga bisa membantu, terutama untuk kebutuhan yang dibeli secara rutin. Selisih harga yang terlihat kecil bisa menjadi lebih berarti kalau terjadi berulang kali dalam sebulan.
Selain itu, memperhatikan pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin juga nggak kalah penting. Pengeluaran yang nominalnya terlihat sedikit bisa menjadi cukup besar ketika dikumpulkan dalam satu bulan.
Bukan Berarti Harus Berhenti Menikmati Hidup
Menghadapi kenaikan harga bukan berarti harus menghapus semua pengeluaran untuk hiburan atau kesenangan. Setiap orang memiliki kondisi keuangan dan kebutuhan yang berbeda, sehingga cara mengatur pengeluaran juga nggak bisa disamaratakan.
Ada orang yang mungkin memilih mengurangi frekuensi makan di luar. Ada juga yang memilih mengganti beberapa barang dengan pilihan yang lebih terjangkau. Sementara yang lain mungkin tetap mempertahankan pengeluaran tertentu karena sudah menjadi bagian dari anggaran bulanannya.
Yang penting adalah memahami kondisi keuangan sendiri dan menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan. Menghemat bukan berarti harus menghilangkan semua hal yang disukai.
Ujungnya Kembali ke Kebiasaan Mengelola Uang
Pada akhirnya, inflasi merupakan kondisi ekonomi yang nggak bisa dikendalikan secara pribadi. Namun, cara kita merespons perubahan tersebut masih bisa disesuaikan melalui kebiasaan mengelola keuangan sehari-hari.
Rasa "uang cepat habis" yang muncul ketika harga-harga meningkat bukan selalu berarti seseorang menjadi lebih boros. Perubahan harga juga bisa membuat jumlah uang yang sama terasa memiliki daya beli yang berbeda.
Karena itu, penting untuk lebih peka terhadap perubahan pengeluaran, mengevaluasi anggaran secara berkala, dan menentukan prioritas sesuai kondisi. Dengan begitu, uang yang dimiliki tetap bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus memberikan ruang untuk hal-hal lain yang dianggap penting.
