Konten dari Pengguna

Kepercayaan Pelanggan Lebih Sulit Dibangun daripada Mendapatkan Pelanggan Baru

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu tergiur promo diskon besar dari sebuah toko atau aplikasi yang belum pernah kamu coba sebelumnya. Mungkin baru kemarin, atau bahkan hari ini. Diskon, cashback, atau produk baru yang sedang ramai dibicarakan memang sering berhasil membuat orang penasaran dan akhirnya mencoba.

Tapi coba pikirkan lagi, dari sekian banyak tempat yang pernah kamu coba karena tergiur promo, berapa banyak yang akhirnya benar-benar jadi langganan? Kemungkinan besar jawabannya nggak sebanyak itu.

Dari sini kelihatan perbedaan antara mendapatkan pelanggan baru dengan membangun kepercayaan pelanggan. Membuat seseorang tertarik untuk mencoba mungkin bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tapi membuat seseorang percaya dan mau kembali lagi membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Menarik Perhatian Itu Gampang

Mendapatkan pelanggan baru sebenarnya bukan hal yang terlalu sulit di zaman sekarang. Promosi yang menarik, harga yang murah, atau produk yang sedang populer bisa membuat orang tertarik untuk mencoba. Apalagi informasi sekarang menyebar dengan cepat lewat media sosial. Satu konten yang menarik bahkan bisa membuat banyak orang penasaran dalam waktu singkat.

Masalahnya, pelanggan yang datang karena tertarik promo belum tentu akan bertahan. Ketika ada penawaran lain yang lebih menarik di tempat berbeda, mereka bisa saja pindah.

Menurutku, hal itu wajar. Pada tahap awal, hubungan antara pelanggan dan sebuah bisnis memang baru sebatas ketertarikan. Belum ada pengalaman yang cukup untuk membuat pelanggan benar-benar percaya.

Kepercayaan Butuh Waktu, Bukan Sekadar Transaksi

Berbeda dengan menarik perhatian, membangun kepercayaan pelanggan adalah proses yang lebih panjang. Kepercayaan biasanya nggak terbentuk hanya dari satu kali transaksi yang menyenangkan, tetapi dari pengalaman yang terus berjalan dengan baik.

Misalnya, ketika membeli sesuatu, barang yang diterima sesuai dengan deskripsi, dikirim tepat waktu, dan pelayanan yang diberikan juga baik. Pengalaman seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sanalah rasa percaya mulai terbentuk.

Namun, kepercayaan juga bisa berubah ketika pengalaman berikutnya berbeda. Kalau kualitas tiba-tiba menurun atau pelayanan menjadi kurang baik, pelanggan yang sebelumnya sudah percaya bisa mulai ragu.

Menurutku, kepercayaan memang seperti sesuatu yang dibangun sedikit demi sedikit. Bukan karena satu pengalaman yang luar biasa, tetapi karena banyak pengalaman kecil yang konsisten.

Satu Pengalaman Buruk Bisa Membekas

Yang menarik, pengalaman buruk sering kali terasa lebih membekas dibanding pengalaman baik yang sudah terjadi berkali-kali.

Bayangkan kamu sudah menjadi pelanggan suatu tempat selama bertahun-tahun. Selama ini semuanya berjalan baik, lalu suatu hari kamu mendapatkan pelayanan yang mengecewakan. Mungkin kejadian itu hanya berlangsung sekali, tetapi bisa saja membuat kamu berpikir ulang untuk kembali.

Bukan berarti semua pelanggan pasti langsung pergi setelah mengalami satu kesalahan. Tapi menurutku, kejadian seperti itu bisa membuat rasa percaya yang sudah terbentuk mulai berkurang.

Karena itu, ketika sebuah bisnis sudah mendapatkan kepercayaan pelanggan, mempertahankannya juga menjadi tanggung jawab yang nggak kalah penting.

Promosi Bisa Membuat Orang Datang, Tapi Belum Tentu Membuat Mereka Bertahan

Promosi memang penting dalam bisnis. Tanpa promosi, mungkin ada banyak orang yang bahkan nggak tahu sebuah produk atau layanan itu ada.

Tapi menurutku, promosi seharusnya bukan satu-satunya cara untuk mempertahankan pelanggan.

Pelanggan yang sudah percaya biasanya memiliki alasan sendiri untuk kembali. Mereka sudah tahu kualitas produk, pelayanan, dan apa yang bisa mereka harapkan. Mereka nggak selalu membutuhkan alasan berupa diskon untuk melakukan pembelian berikutnya.

Sebaliknya, pelanggan yang baru datang karena promo masih dalam tahap mencoba. Setelah promo berakhir, mereka bisa saja kembali atau memilih tempat lain.

Di sinilah menurutku perbedaan antara menarik perhatian dan membangun hubungan dengan pelanggan mulai terlihat.

Konsistensi yang Sering Diremehkan

Satu hal yang menurutku sering diremehkan dalam membangun kepercayaan adalah konsistensi.

Menjaga kualitas produk tetap baik, memberikan pelayanan yang sesuai, menjawab pelanggan dengan baik, dan memenuhi apa yang sudah dijanjikan mungkin terdengar sederhana. Tapi melakukannya secara terus-menerus tentu nggak semudah melakukannya sekali.

Bisnis bisa saja memberikan pelayanan yang sangat baik ketika sedang berusaha mendapatkan pelanggan baru. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah pelayanan tersebut bisa tetap dijaga setelah pelanggan mulai berdatangan.

Menurutku, justru di situlah kepercayaan benar-benar diuji. Pelanggan bukan hanya melihat bagaimana sebuah bisnis memperlakukan mereka ketika pertama kali datang, tetapi juga bagaimana mereka diperlakukan setelah menjadi pelanggan.

Kepercayaan Tidak Bisa Dibangun dalam Semalam

Kalau dipikir-pikir, kepercayaan pelanggan memang nggak bisa dibangun dalam semalam. Tidak cukup hanya dengan membuat iklan yang menarik atau memberikan promo besar.

Kepercayaan muncul dari banyak hal kecil yang dilakukan berulang kali. Produk yang sesuai, pelayanan yang baik, informasi yang jujur, dan kesediaan untuk bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan semuanya bisa menjadi bagian dari pengalaman pelanggan.

Hasilnya pun mungkin nggak langsung terlihat. Berbeda dengan promo yang bisa langsung mendatangkan banyak orang, kepercayaan membutuhkan waktu untuk tumbuh.

Tapi ketika sudah terbentuk, hubungan yang muncul bukan lagi sekadar antara penjual dan pembeli. Ada rasa yakin dari pelanggan bahwa mereka tahu apa yang akan mereka dapatkan ketika kembali.

Pada akhirnya, mendapatkan pelanggan baru memang penting bagi sebuah bisnis. Tapi menurutku, membuat mereka percaya dan tetap mau kembali adalah tantangan yang berbeda.

Promosi bisa membuat seseorang datang untuk pertama kalinya. Harga yang menarik bisa membuat mereka mencoba. Tapi pengalaman yang baik dan konsistenlah yang bisa membuat mereka merasa yakin untuk kembali.

Karena itu, dalam menjalankan bisnis, mungkin kita nggak hanya perlu bertanya, “Bagaimana caranya mendapatkan pelanggan baru?”

Kita juga perlu bertanya, “Apa yang membuat pelanggan yang sudah datang mau tetap percaya?”

Menurutku, jawaban dari pertanyaan kedua itulah yang sering kali menentukan apakah hubungan antara bisnis dan pelanggan hanya berhenti pada satu transaksi atau bisa berlangsung lebih lama.