Konten dari Pengguna

Manfaat Kuliah Tidak Selalu Terlihat dari Pekerjaan

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

“Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya di rumah juga?”

Kalimat semacam ini mungkin pernah didengar oleh sebagian perempuan yang sedang kuliah. Kadang muncul dari saudara saat kumpul keluarga, dari tetangga, atau bahkan dari teman sendiri yang sebenarnya hanya bercanda. Tapi entah kenapa, kalimat seperti itu kadang tetap kepikiran.

Aku sendiri pernah mendengar versi lain, “Nanti juga jadi ibu rumah tangga.”

Awalnya aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Tapi lama-lama aku mulai berpikir, memangnya kalau suatu hari aku lebih banyak berada di rumah, berarti kuliah yang sedang aku jalani sekarang menjadi sia-sia?

Semakin lama menjalani kuliah, aku justru merasa jawabannya tidak sesederhana itu.

Pekerjaan Bukan Satu-satunya Tolak Ukur

Kita sering menganggap keberhasilan pendidikan akan terlihat dari pekerjaan setelah lulus. Punya pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, atau jabatan tertentu sering dianggap sebagai bukti bahwa pendidikan yang ditempuh benar-benar bermanfaat.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang setelah lulus memilih jalan yang berbeda?

Padahal, kuliah memberikan banyak hal yang tidak selalu berbentuk gelar atau jabatan. Selama kuliah, aku belajar berpikir lebih kritis sebelum mempercayai sesuatu. Aku belajar mencari sumber sebelum mengambil kesimpulan dan tidak langsung menerima informasi begitu saja.

Aku juga belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan mengatur waktu ketika beberapa tugas datang bersamaan.

Hal-hal seperti itu mungkin tidak tertulis di ijazah atau CV secara khusus. Tapi bukan berarti tidak berguna.

Justru kemampuan seperti itu bisa ikut terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika seseorang tidak bekerja di kantor.

Kalau Nanti Jadi Ibu, Ilmu Itu Tidak Hilang

Aku sering berpikir, kalau suatu hari nanti aku punya anak, apakah semua yang sudah kupelajari selama kuliah akan berhenti begitu saja setelah aku pulang ke rumah?

Rasanya tidak.

Misalnya, kebiasaan mencari informasi sebelum mempercayai sesuatu. Ketika menjadi orang tua, kebiasaan ini bisa membantu saat mencari informasi tentang tumbuh kembang anak, makanan, pendidikan, atau pola pengasuhan.

Bukan berarti semua informasi yang ditemukan di internet langsung benar. Justru karena terbiasa berpikir kritis, kita bisa belajar membandingkan sumber dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas.

Kemampuan berdiskusi juga bisa digunakan dalam keluarga. Ketika membicarakan pola asuh, pendidikan anak, pembagian tanggung jawab, atau berbagai keputusan lainnya, kemampuan untuk mendengarkan dan menyampaikan pendapat dengan baik tentu tetap dibutuhkan.

Begitu juga dengan kemampuan memecahkan masalah. Dalam kehidupan bersama anak, tidak semua situasi punya jawaban yang sudah tersedia. Kadang kita harus mencoba memahami masalahnya, mencari pilihan yang paling sesuai, lalu belajar dari hasilnya.

Di situlah ilmu dan pola pikir yang diperoleh selama kuliah bisa menemukan bentuk manfaatnya yang lain.

Pendidikan Bukan Jaminan Jadi Ibu yang Sempurna

Meski begitu, aku tidak berpikir bahwa pendidikan tinggi otomatis membuat seseorang menjadi ibu yang paling tahu tentang parenting.

Tidak seperti itu.

Menjadi orang tua tetap membutuhkan proses belajar, pengalaman, kesabaran, dan kemauan untuk terus memahami anak. Setiap anak juga berbeda, sehingga cara yang berhasil pada satu keluarga belum tentu cocok untuk keluarga lainnya.

Begitu juga dengan ibu yang tidak memiliki kesempatan untuk kuliah. Bukan berarti mereka tidak bisa menjadi ibu yang baik.

Pendidikan bukan ukuran siapa yang lebih layak menjadi orang tua. Pendidikan hanya menjadi salah satu bekal yang bisa membantu seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Anak Mungkin Tidak Tahu Ibunya Kuliah

Anak mungkin tidak memahami apa itu gelar sarjana atau berapa nilai IPK ibunya.

Tapi suatu hari nanti, anak bisa saja merasakan manfaat dari cara berpikir yang dimiliki ibunya.

Misalnya ketika anak bertanya tentang sesuatu dan ibunya mau mencari tahu bersama, bukan sekadar menjawab karena “memang begitu”. Atau ketika anak menghadapi masalah dan diajak berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya.

Hal sederhana seperti itu bisa menjadi bagian dari proses anak belajar.

Anak juga bisa melihat contoh dari keseharian ibunya. Ketika ibunya terbiasa mencari tahu sebelum percaya, mau mendengarkan pendapat, atau berusaha menyelesaikan masalah dengan tenang, anak bisa belajar dari kebiasaan tersebut.

Bukan berarti semua itu hanya bisa dilakukan oleh ibu yang pernah kuliah. Tentu tidak.

Hanya saja, pendidikan yang pernah ditempuh seseorang bisa menjadi salah satu hal yang ikut membentuk cara berpikirnya, dan cara berpikir itu kemudian bisa terbawa ke dalam kehidupan keluarga.

Pendidikan Tetap untuk Diri Sendiri

Tapi ada satu hal yang menurutku penting.

Perempuan tidak seharusnya kuliah hanya karena suatu hari nanti akan menjadi ibu dan harus mendidik anak.

Pendidikan tetap pertama-tama untuk dirinya sendiri.

Untuk menambah pengetahuan, memperluas cara pandang, belajar menjadi lebih mandiri dalam berpikir, dan berkembang sebagai seseorang yang memiliki kehidupan dan pilihan sendiri.

Manfaatnya bagi anak dan keluarga nantinya adalah salah satu dampak yang mungkin ikut muncul dari pendidikan tersebut.

Jadi kalau suatu hari seorang perempuan memilih untuk fokus di rumah, bukan berarti pendidikan yang sudah ditempuh menjadi gagal.

Begitu juga kalau ada perempuan yang memilih bekerja, berwirausaha, melanjutkan pendidikan, atau menjalani beberapa hal sekaligus. Jalan hidup setiap orang memang tidak harus sama.

Manfaatnya Tidak Selalu Terlihat

Aku akhirnya menyadari bahwa manfaat kuliah memang tidak selalu terlihat dalam bentuk pekerjaan, gaji, atau jabatan.

Ada manfaat yang jauh lebih sederhana dan mungkin tidak pernah tertulis di mana pun. Cara berpikir yang berubah, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan mengambil keputusan, dan kebiasaan untuk terus belajar.

Kalau suatu hari aku lebih banyak berada di rumah, bukan berarti semua yang kupelajari selama kuliah harus ikut berhenti.

Ilmu itu tetap bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mungkin suatu hari bisa ikut aku teruskan kepada anak melalui cara aku berbicara, mendengarkan, mendampingi, dan mengajarinya melihat dunia.

Karena pada akhirnya, pendidikan tidak selalu harus terlihat dari pekerjaan untuk bisa disebut bermanfaat.

Kadang manfaatnya justru terlihat dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, termasuk di rumah dan di dalam keluarga.