Menambah Penjualan atau Mengurangi Pengeluaran, Mana yang Lebih Penting?

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu punya usaha kecil dan pengin untungnya lebih besar, mana yang lebih dulu kepikiran, cari cara supaya jualan makin laku, atau mulai memangkas pengeluaran biar sisa uangnya lebih banyak? Kedengarannya keduanya sama-sama masuk akal, tapi kalau dipikir lebih dalam, ternyata nggak sesederhana itu.
Aku sendiri sering mikirin pertanyaan ini, apalagi kalau melihat usaha kecil di sekitar yang naik turun. Ada yang penjualannya ramai tapi keuntungannya biasa saja. Ada juga yang penjualannya nggak terlalu banyak, tapi tetap bisa mendapatkan keuntungan karena pengeluarannya dijaga dengan baik. Jadi sebenarnya, mana yang lebih penting untuk difokuskan?
Menambah Penjualan Kelihatan Menggiurkan
Wajar kalau kebanyakan orang berpikir jalan paling cepat untuk menambah keuntungan adalah dengan meningkatkan penjualan. Logikanya sederhana, makin banyak yang terjual, makin besar juga uang yang masuk.
Coba bayangkan ada usaha makanan rumahan yang awalnya cuma bisa menjual sekitar 100 porsi per hari. Setelah gencar promosi lewat media sosial dan memberikan diskon untuk pembeli baru, penjualannya naik menjadi 150 porsi. Kedengarannya ini kabar bagus, kan?
Tapi masalahnya, untuk bisa memproduksi 150 porsi, kebutuhan bahan baku juga ikut naik. Belum lagi biaya kemasan yang semakin banyak digunakan, ditambah biaya promosi yang harus terus dikeluarkan supaya penjualan tetap stabil di angka tersebut.
Kalau semua biaya tambahan itu dihitung, belum tentu keuntungan yang didapat benar-benar naik banyak dibanding sebelumnya.
Ketika Omzet Naik tapi Untung Segitu-gitu Saja
Di sinilah biasanya orang baru sadar, ternyata omzet yang naik nggak otomatis membuat keuntungan ikut naik. Bisa jadi hasil penjualan memang lebih besar, tapi setelah dikurangi semua biaya tambahan yang muncul, keuntungan bersihnya malah nggak berbeda jauh dari sebelumnya.
Menurutku, ini yang sering luput dari perhatian pemilik usaha kecil. Fokus yang terlalu besar pada angka penjualan kadang membuat kita lupa mengecek apakah biaya yang dikeluarkan untuk mengejar angka tersebut masih sepadan atau justru membuat keuntungan per produk semakin kecil.
Jadi, menambah penjualan memang bagus, tapi bukan berarti keuntungan otomatis ikut membesar kalau nggak dibarengi dengan perhitungan biaya yang cermat.
Mengurangi Pengeluaran, Solusi yang Kelihatan Gampang
Di sisi lain, ada juga pemikiran kalau keuntungan kecil berarti pengeluaran harus langsung dipangkas. Cara ini kelihatan lebih gampang dibanding harus memikirkan strategi untuk meningkatkan penjualan.
Tapi coba bayangkan contoh lain. Usaha yang sama tadi tiba-tiba memutuskan mengganti bahan baku dengan yang jauh lebih murah demi menghemat biaya. Awalnya memang terlihat menguntungkan karena biaya produksi turun. Tapi lama-lama rasa dan kualitas produknya ikut berubah, dan pelanggan lama mulai merasa ada yang berbeda.
Efeknya bisa lebih buruk dari yang dibayangkan. Pelanggan yang tadinya loyal bisa mulai ragu untuk membeli lagi, bahkan memilih tempat lain yang kualitasnya lebih konsisten. Ujung-ujungnya, penghematan yang tadinya diharapkan bisa menambah keuntungan malah membuat penjualan turun karena kepercayaan pelanggan ikut terganggu.
Pengurangan Biaya Juga Butuh Perhitungan
Dari contoh tadi, menurutku poin pentingnya adalah mengurangi pengeluaran itu nggak salah, tapi caranya tetap harus dipikirkan matang-matang. Ada biaya yang memang bisa dikurangi tanpa mengorbankan kualitas, misalnya mengurangi pemborosan bahan yang terbuang sia-sia atau merapikan proses kerja supaya lebih efisien.
Tapi ada juga biaya yang kalau dipangkas sembarangan justru berdampak langsung pada pengalaman pelanggan, seperti kualitas bahan utama atau pelayanan yang menjadi bagian penting dari sebuah produk. Kalau bagian ini yang dikorbankan demi menghemat, risikonya dalam jangka panjang bisa lebih besar dibanding penghematan yang didapat di awal.
Jadi, sama seperti menambah penjualan, mengurangi pengeluaran juga bukan solusi instan yang otomatis aman kalau dilakukan tanpa perhitungan yang jelas.
Semua Kembali ke Kondisi Masing-masing Usaha
Menurutku, nggak ada jawaban pasti mana yang lebih penting antara menambah penjualan atau mengurangi pengeluaran, karena semuanya kembali pada kondisi masing-masing usaha.
Usaha yang masih memiliki ruang untuk meningkatkan penjualan mungkin bisa lebih fokus mencari pelanggan baru atau memperluas pasar. Sementara usaha yang pengeluarannya sudah terlalu besar mungkin perlu mengevaluasi biaya terlebih dahulu sebelum buru-buru mengejar penjualan yang lebih tinggi.
Yang jelas, keduanya perlu dipikirkan bersama, bukan memilih salah satu lalu mengabaikan yang lainnya. Menambah penjualan tanpa mengecek biaya bisa membuat pekerjaan semakin banyak, tetapi keuntungan tetap segitu-gitu saja. Sebaliknya, mengurangi biaya tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas juga bisa menjadi bumerang bagi usaha itu sendiri.
Bukan Soal Pilih Salah Satu, tapi Soal Menyeimbangkan
Kalau boleh memberikan pendapat pribadi, aku merasa pertanyaan “mana yang lebih penting” sebenarnya kurang tepat kalau harus dijawab dengan memilih salah satu.
Yang lebih masuk akal justru melihat bagaimana sebuah usaha bisa menyeimbangkan keduanya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang sedang dihadapi.
Kadang jawabannya memang perlu menambah penjualan. Kadang justru perlu merapikan pengeluaran terlebih dahulu. Semua tergantung situasi yang sedang dihadapi usaha tersebut.
Jadi, daripada sibuk mencari mana yang lebih penting, mungkin lebih berguna kalau kita mulai belajar melihat kondisi usaha secara utuh. Dari situ, barulah menentukan langkah mana yang paling masuk akal untuk dilakukan lebih dulu.
Pada akhirnya, tujuan bisnis bukan hanya membuat angka penjualan terlihat besar atau membuat pengeluaran terlihat kecil. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya bisa dikelola dengan baik sehingga usaha tetap berjalan dan keuntungan yang diperoleh juga masuk akal.
