Menjadi Ibu, Tapi Aku Masih Punya Mimpi yang Ingin Diselesaikan

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, kamu berpikir bahwa setelah menjadi ibu, ada banyak hal dalam hidup yang ikut berubah? Waktu, kebiasaan, bahkan cara melihat diri sendiri. Tapi di antara semua perubahan itu, ternyata ada hal yang tetap ingin aku lanjutkan, yaitu kuliah.
Menjadi ibu membuat banyak hal dalam hidupku memiliki prioritas baru. Ada anak yang harus diurus, ada rumah yang harus diperhatikan, tetapi di sisi lain masih ada pendidikan yang ingin aku selesaikan.
Awalnya aku sempat berpikir, bagaimana caranya menjalani keduanya? Apakah aku harus menunda kuliah, atau justru mengesampingkan hal-hal lain? Ternyata aku tidak harus memilih salah satunya.
Hidup yang Berubah, Bukan Berarti Harus Berhenti
Sebelum menjadi ibu, aku lebih leluasa mengatur waktu. Kalau ingin belajar, aku bisa menentukan sendiri kapan harus mulai. Kalau ada tugas, aku bisa mengerjakannya tanpa terlalu banyak menyesuaikan dengan keadaan.
Setelah menjadi ibu, semuanya tentu berbeda.
Ada waktu yang harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Ada pekerjaan yang harus ditinggalkan sebentar karena anak membutuhkan perhatian. Kadang sudah berniat mengerjakan tugas, tetapi akhirnya baru bisa membuka laptop setelah anak tidur.
Dari situ aku mulai belajar bahwa waktu yang sedikit tetap bisa berarti.
Aku tidak selalu punya waktu berjam-jam untuk belajar. Kadang hanya ada waktu sebentar, tetapi kalau dimanfaatkan, tetap ada sesuatu yang bisa diselesaikan. Satu halaman yang dibaca, satu bagian tugas yang selesai, atau beberapa paragraf yang berhasil ditulis tetap merupakan kemajuan.
Sekarang aku sudah sampai pada tahap mengerjakan tugas akhir. Prosesnya tentu tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hal yang harus diperbaiki, ada yang perlu dicari lagi, dan ada saatnya aku merasa hasil yang dikerjakan belum sebanyak yang diharapkan.
Tapi sekarang aku lebih memahami bahwa setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Jadi, aku tidak lagi merasa harus menyelesaikan semuanya dengan cara dan kecepatan yang sama seperti orang lain.
Belajar Menerima Bantuan
Menjalani kuliah sambil menjadi ibu juga membuatku belajar bahwa aku tidak harus melakukan semuanya sendiri.
Ada kalanya aku membutuhkan bantuan untuk menjaga anak ketika ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Ada juga orang-orang yang memberikan dukungan dengan cara sederhana, seperti menanyakan kabar kuliah atau mengingatkan agar aku tetap menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Hal-hal kecil seperti itu ternyata cukup berarti.
Aku juga mulai belajar untuk tidak merasa bersalah ketika membutuhkan bantuan. Dulu mungkin ada perasaan bahwa semuanya harus bisa dilakukan sendiri. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Meminta bantuan bukan berarti tidak mampu. Justru dengan mengetahui kapan harus meminta bantuan, aku bisa tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ibu sekaligus melanjutkan pendidikan.
Tidak Harus Sempurna
Aku juga tidak selalu bisa membagi waktu dengan sempurna.
Ada hari ketika rencana belajar tidak berjalan. Ada tugas yang akhirnya tertunda karena anak membutuhkan perhatian. Ada juga hari ketika aku memilih beristirahat karena tubuh memang sudah lelah.
Dulu mungkin hal seperti itu membuatku merasa gagal. Sekarang aku belajar untuk lebih realistis.
Menjadi ibu bukan berarti harus selalu bisa melakukan semuanya. Kuliah juga bukan berarti setiap hari harus produktif. Ada hari untuk mengerjakan sesuatu, ada hari untuk mengurus anak, dan ada hari ketika aku hanya perlu beristirahat.
Yang penting, ketika sudah punya kesempatan lagi, aku kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda.
Tidak Perlu Membandingkan Jalan
Ada masa ketika melihat orang lain sudah lebih dulu menyelesaikan kuliah membuatku merasa tertinggal.
Tapi semakin dijalani, aku sadar bahwa kehidupan setiap orang memang berbeda. Ada yang bisa menyelesaikan pendidikan tanpa jeda, ada yang harus berhenti sebentar, ada yang melanjutkan setelah memiliki keluarga, dan ada juga yang baru menemukan keinginannya untuk belajar di kemudian hari.
Tidak ada satu waktu yang berlaku untuk semua orang.
Aku mungkin tidak menjalani perjalanan yang sama dengan teman-temanku. Tapi bukan berarti perjalananku menjadi kurang berarti.
Menjadi ibu juga memberiku sudut pandang baru tentang pendidikan. Dulu mungkin kuliah hanya terasa sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Sekarang aku melihatnya sebagai sesuatu yang memang ingin aku selesaikan untuk diriku sendiri.
Mimpi yang Masih Ingin Aku Selesaikan
Sampai sekarang, aku masih berada dalam proses. Tugas akhirku belum selesai dan masih ada banyak hal yang harus dikerjakan.
Aku juga masih harus membagi waktu dengan kehidupan sebagai seorang ibu. Kadang berjalan sesuai rencana, kadang tidak.
Tapi satu hal yang aku tahu, menjadi ibu bukan berarti semua keinginan sebelum memiliki anak harus ditinggalkan.
Ada hal-hal yang memang berubah setelah menjadi ibu. Ada prioritas yang bertambah dan ada waktu yang harus dibagi. Tetapi bukan berarti kita tidak boleh memiliki sesuatu yang ingin kita capai untuk diri sendiri.
Aku masih punya mimpi yang ingin diselesaikan.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain, tetapi karena aku ingin melihat diriku sendiri sampai di titik yang dulu pernah aku bayangkan.
Mungkin jalannya tidak secepat yang aku inginkan. Mungkin juga tidak selalu mudah. Tapi selama masih ada kesempatan untuk melanjutkan, aku ingin terus melangkah.
Karena menurutku, menjadi ibu bukan akhir dari perjalanan seorang perempuan untuk berkembang. Kita masih boleh belajar, masih boleh memiliki tujuan, dan masih boleh menyelesaikan sesuatu yang pernah kita mulai.
Aku belum sampai di akhir cerita. Tapi aku masih menulisnya.
