Konten dari Pengguna

Menjadi Sarjana Pertama, Bukan Berarti Berjalan Sendirian

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Biasanya kalau ngomongin gelar sarjana, yang kebayang duluan adalah pencapaian pribadi. Empat tahun kuliah, begadang ngerjain tugas, revisi skripsi berkali-kali, lalu akhirnya wisuda. Semua kelihatan seperti hasil kerja keras satu orang saja.

Aku juga dulu mikir begitu. Sampai suatu hari aku sadar satu hal yang bikin aku melihat perjalanan kuliah dengan cara yang sedikit berbeda.

Menyadari Jadi yang Pertama

Suatu waktu aku baru sadar, aku sedang menuju menjadi orang pertama di keluargaku yang punya gelar sarjana. Bukan hal yang langsung kepikiran sejak awal kuliah, tapi baru terasa ketika perjalanan ini sudah cukup jauh.

Awalnya biasa saja rasanya. Tapi semakin dipikir, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda dari sekadar “aku akan lulus kuliah”.

Ini bukan cuma soal aku menyelesaikan pendidikan. Ini juga tentang keluargaku yang untuk pertama kalinya akan punya anggota keluarga dengan gelar sarjana.

Orang Tua yang Berhenti di SMA

Orang tuaku sama-sama menempuh pendidikan sampai SMA. Bukan berarti mereka nggak mau melanjutkan, tetapi kondisi dan kesempatan pada masa mereka memang berbeda dengan yang aku jalani sekarang.

Aku nggak pernah menganggap pendidikan mereka sebagai sebuah kekurangan. Setiap generasi punya keadaan masing-masing, dan sesuatu yang bisa kita jalani sekarang belum tentu bisa dijalani dengan mudah oleh generasi sebelumnya.

Justru dari situ aku melihat bahwa pendidikan yang aku jalani sekarang adalah sebuah kesempatan yang berbeda. Sesuatu yang mungkin dulu belum sempat mereka rasakan, sekarang sedang aku jalani.

Dukungan yang Tidak Berasal dari Pengalaman

Orang tuaku nggak pernah tahu rasanya duduk di ruang kuliah, ikut ujian semester, atau begadang mengerjakan tugas. Tapi ketidaktahuan itu nggak pernah menghalangi mereka untuk tetap mendukung.

Mereka mungkin nggak bisa membantu menjelaskan materi kuliah atau memberi saran tentang skripsi. Tapi mereka tetap ada lewat perhatian, doa, dan usaha supaya aku bisa menjalani kuliah sampai selesai.

Dukungan ternyata nggak selalu harus datang dalam bentuk bantuan yang berkaitan langsung dengan kuliah. Kadang bentuknya sesederhana percaya bahwa anaknya mampu menyelesaikan apa yang sedang dijalani.

Perjalanan yang Tidak Pernah Benar-benar Sendirian

Kalau dipikir lagi, banyak hal dalam perjalanan kuliahku yang nggak pernah tercatat di transkrip nilai. Transkrip hanya mencatat mata kuliah dan nilai, bukan siapa saja yang ikut berperan di baliknya.

Ada orang tua yang terus mendukung, ada keluarga yang memahami ketika aku sedang sibuk, dan ada orang-orang di sekitar yang membantu dengan caranya masing-masing.

Karena itu, rasanya kurang tepat kalau aku bilang semua ini adalah hasil usahaku sendirian. Gelar itu nantinya memang akan tertulis atas namaku, tetapi proses untuk sampai ke sana melibatkan lebih banyak orang daripada yang terlihat.

Merenungkan Arti Gelar Ini

Buatku, gelar sarjana yang sedang aku perjuangkan bukan cuma soal selembar ijazah atau tambahan gelar di belakang nama. Ada perasaan bahwa pendidikan yang aku jalani sekarang menjadi bagian dari cerita baru dalam keluargaku.

Aku merasa bangga membayangkan bisa sampai ke sana, tapi bukan bangga yang membuatku merasa lebih tinggi dari orang lain. Lebih dari itu, ada rasa syukur karena aku mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikan yang lebih jauh.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan ini memang bukan cuma tentang aku. Ada keluarga yang ikut menunggu, mendukung, dan menjalani prosesnya dengan cara mereka sendiri.

Bukan Berarti Harus Jadi yang Paling Hebat

Meski begitu, menjadi sarjana pertama di keluarga bukan berarti aku otomatis harus menjadi yang paling hebat atau punya kehidupan yang sempurna setelah lulus.

Gelar ini juga bukan sesuatu yang harus dibayar dengan pencapaian besar setelahnya. Aku tetap punya jalan hidup sendiri, dengan segala kemungkinan yang belum tentu bisa aku tebak sekarang.

Aku juga nggak merasa perlu membuktikan bahwa aku lebih baik daripada orang tuaku. Pendidikan kami memang berbeda, tetapi itu nggak membuat satu lebih tinggi daripada yang lain.

Kami hanya menjalani kesempatan yang berbeda di waktu yang berbeda.

Nama yang Dibawa Bukan Milik Sendiri

Aku memang belum sampai di titik itu. Gelar sarjana tersebut masih menjadi sesuatu yang sedang aku perjuangkan.

Tapi kalau suatu hari nanti gelar itu benar-benar melekat di belakang namaku, aku tahu itu bukan cuma tentang aku. Ada banyak cerita dan orang yang ikut berjalan sepanjang proses sampai ke titik tersebut.

Mungkin orang lain hanya akan melihat sebuah nama dengan gelar sarjana di belakangnya. Tapi aku akan tahu bahwa ada dukungan, doa, dan perjalanan panjang yang ikut membawa nama itu sampai ke sana.

Dan mungkin, ketika hari itu benar-benar datang, hal pertama yang ingin aku rasakan bukan sekadar bangga karena berhasil lulus. Tapi bersyukur karena sejak awal, aku ternyata memang nggak pernah berjalan sendirian.