Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM di Era Digital: Tantangan Perusahaan Menghadapi Perubahan Dunia

Rayda Iskandar

Rayda Iskandar

Mahasiswi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayda Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat menggunakan AI.

Beberapa tahun lalu, lowongan kerja yang meminta kemampuan mengolah data atau menggunakan berbagai tools AI mungkin masih terdengar cukup khusus. Sekarang, kemampuan tersebut mulai muncul di berbagai posisi, mulai dari admin, marketing, hingga layanan pelanggan. Di sisi lain, otomatisasi membuat beberapa pekerjaan rutin dapat dibantu oleh sistem, sementara pola kerja hybrid dan remote juga semakin dikenal di dunia kerja.

Perubahan tersebut membuat perusahaan tidak bisa hanya berpikir untuk menambah karyawan ketika pekerjaan bertambah. Perusahaan juga perlu memikirkan berapa orang yang sebenarnya dibutuhkan, kemampuan apa yang harus dimiliki, dan pekerjaan seperti apa yang akan dihadapi ke depannya. Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi penting.

Perencanaan SDM di Tengah Perubahan Dunia Kerja

Materi mengenai perencanaan SDM yang disampaikan Dodi Prasada menjadi salah satu dasar pembahasan dalam artikel ini. Secara sederhana, perencanaan SDM berkaitan dengan bagaimana perusahaan memperkirakan dan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan tujuan organisasi.

Tujuannya bukan hanya untuk menghindari kekurangan tenaga kerja. Kelebihan karyawan tanpa pembagian pekerjaan yang jelas juga dapat menjadi masalah karena perusahaan tetap harus mengeluarkan biaya. Menurut saya, bagian ini cukup penting karena perencanaan SDM bukan sekadar soal mencari orang sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan orang yang ada memang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Teknologi Mengubah Kebutuhan SDM

Digitalisasi dan otomatisasi tidak hanya mengubah jumlah pekerjaan, tetapi juga isi dari pekerjaan tersebut. Tugas seperti memasukkan data, mengecek dokumen, atau membuat laporan sederhana kini dapat dibantu oleh sistem. Karena itu, perusahaan juga membutuhkan karyawan yang mampu memahami informasi, menganalisis hasil, mengambil keputusan, dan bekerja dengan teknologi.

Menurut saya, perubahan teknologi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa canggih sistem yang digunakan perusahaan. Kalau perusahaan membeli teknologi baru tetapi karyawannya belum memahami cara menggunakannya, manfaat yang diperoleh tentu belum maksimal. Kesiapan teknologi perlu berjalan bersama dengan kesiapan SDM.

Perusahaan Perlu Tahu SDM yang Dibutuhkan

Untuk mengetahui kebutuhan tersebut, perusahaan perlu melakukan analisis kebutuhan SDM. Analisis ini membantu perusahaan melihat pekerjaan apa saja yang harus dilakukan, berapa banyak tenaga kerja yang diperlukan, serta kompetensi apa yang dibutuhkan. Misalnya, ketika sebuah perusahaan ritel ingin membuka cabang baru, perusahaan perlu memperkirakan kebutuhan kasir, staf gudang, hingga pengelola toko beserta kemampuan yang diperlukan.

Selain melihat kebutuhan saat ini, perusahaan juga perlu memperkirakan kebutuhan SDM di masa mendatang. Peramalan SDM dilakukan dengan melihat kemungkinan perubahan kebutuhan tenaga kerja, kemudian membandingkannya dengan penawaran atau ketersediaan tenaga kerja yang dimiliki perusahaan. Dari sini perusahaan dapat mengetahui apakah kebutuhan tersebut bisa dipenuhi oleh karyawan yang sudah ada atau perlu mencari tenaga kerja dari luar.

Strategi Menghadapi Perubahan Kompetensi

Setelah mengetahui adanya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan SDM, perusahaan dapat menentukan strategi yang sesuai. Rekrutmen menjadi salah satu pilihan, tetapi perusahaan juga dapat melakukan pelatihan, upskilling untuk meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki, atau reskilling untuk membekali karyawan dengan kemampuan baru. Penempatan karyawan pada posisi yang sesuai juga penting agar kompetensi yang dimiliki dapat digunakan secara maksimal.

Menurut saya, kekurangan kompetensi tidak selalu harus diselesaikan dengan merekrut karyawan baru. Karyawan yang sudah memahami budaya dan proses kerja perusahaan juga memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pelatihan. Namun, jika perusahaan membutuhkan keahlian tertentu yang belum tersedia, merekrut tenaga kerja dari luar tetap dapat menjadi pilihan.

Perencanaan SDM Perlu Dievaluasi

Rencana yang sudah dibuat belum tentu berjalan sesuai dengan yang diharapkan ketika diterapkan. Karena itu, implementasi perlu dipantau dan dievaluasi, misalnya dengan melihat apakah pelatihan yang diberikan benar-benar membantu meningkatkan kemampuan karyawan atau apakah jumlah tenaga kerja sudah sesuai dengan beban pekerjaan.

Evaluasi juga penting karena kondisi perusahaan tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Perubahan teknologi, target bisnis, kondisi pasar, maupun pola kerja dapat membuat rencana SDM yang sebelumnya sesuai menjadi perlu diperbarui. Artinya, perencanaan SDM bukan sesuatu yang dibuat sekali lalu selesai, tetapi perlu disesuaikan secara berkala.

Perubahan dunia kerja di era digital membuat perusahaan perlu lebih cermat dalam merencanakan kebutuhan SDM. Bukan hanya jumlah karyawan yang perlu diperhatikan, tetapi juga kemampuan, penempatan, serta kesiapan mereka menghadapi perubahan pekerjaan.

Bagi mahasiswa yang akan masuk atau sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, perubahan ini juga menjadi pengingat bahwa kemampuan untuk terus belajar semakin penting. Dunia kerja bisa berubah, begitu juga dengan keterampilan yang dibutuhkan, sehingga kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus berkembang menjadi hal yang tidak kalah penting.

Sumber:

Dodi Prasada, Materi Perencanaan SDM.

World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025.

International Labour Organization, Skilling, Re-skilling, Digitalization and the Future of Work.

Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan SDM, dosen pengampu Dodi Prasada.