Konten dari Pengguna

PLASMA

Rayhan Naufal Hibatullah

Rayhan Naufal Hibatullah

Financial writer, startup enthusiast, embedded system engineer, polyglot

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rayhan Naufal Hibatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak terasa Januari ini adalah Januari ke-9 yang aku lalui di Jerman. Butiran salju lembut jatuh membekukan tangan yang telanjang ini. Beku, kaku, merah, dan susah digerakkan. Untuk bisa menggerakkannya lagi, ku hampiri sebuah kios penjual kopi di pinggir jalan. “Ein Kaffee bitte”. Panasnya kopi membuat jari jemariku bangun dari hibernasi singkatnya. Sembari menunggu acara dimulai, ku sempatkan waktu untuk memandangi hamparan putih salju seluas mata memandang. Kali ini latarnya bukan di Berlin, melainkan sebuah kota sederhana di negara bagian lower saxony. Kotanya tidak seprogresif yang ku kira, tapi tidak sekonservatif yang aku dengar. Meskipun beda negara bagian tapi bisa ditempuh dalam satu setengah jam dengan kereta cepat dari ibu kota.

Seperti biasa, starter pack perjalanan adalah turtle neck dengan dibalut blazer. Untuk mengarungi suhu -9 derajat, ku selimuti diri ini dengan mantel tebal, tak lupa dengan scarf hangat di sekitar leher. Jalanan yang licin harus ku tembus dengan pantofel tanpa alur yang sudah menemaniku ke berbagai penjuru dunia. Lambat laun dengan tanpa malu mulailah dia memperlihatkan battle scars nya setelah berkelana mencicipi berbagai macam jenis butiran debu.

Kali ini berjalan sendiri, tanpa teman, tanpa penunjuk arah, tanpa pendamping, dengan tujuan yang selalu sama, menambah teman dan pengalaman. Acara memang dimulai tengah hari, jam 12.30 tapi kuputuskan untuk datang sedikit lebih awal. Selain karena ada kopi dan beberapa finger snack gratis, rasanya sayang untuk melewatkan waktu tanpa berkenalan dengan orang-orang baru. Seperti biasa, impostor syndrom selalu menemani lidah dalam merangkai kata-kata. Kadang bahasa inggris, kadang jerman, atau kadang keduanya dalam waktu yang bersamaan.

Sejak dari pertama kali masuk, hal yang kuamati adalah adanya larangan untuk mengambil foto dimana-mana. Mulai dari lobby sampai ke ruang pertemuan. Acara dimulai dan peserta mengeluarkan buku catatan masing-masing. Mencatat boleh, tapi tidak dengan mengambil gambar. Tentu saja tidak ada rekaman digital, baik suara maupun video. Beberapa penjelasan terasa dipersingkat dan sengaja dibiarkan kabur.

Sepanjang acara kulihat seisi ruangan yang diisi peserta acara dengan perawakan tinggi besar kaukasian. Bagi seorang kurcaci sawo matang sepertiku, capek juga selalu mendengak ke atas ketika berbicara dengan para peserta lain. Hal yang aku sadari adalah absennya peserta dari Cina. Padahal biasanya, mereka selalu ada di acara-acara seperti ini.

Acara kali ini membahas mengenai teknologi plasma. Secara sederhana, plasma adalah kondisi ketika suatu zat sedang terionisasi. Kegunaannya banyak sekali, terutama di industri coating. Mulai dari coating kaca supaya tahan beku, tahan panas, tahan gores, coating engine block supaya lebih keras dan licin, hingga tentu saja, semikonduktor.

Di industri semikonduktor sendiri, plasma itu layaknya tinta dalam proses penyablonan. Tentu saja ini penyederhanaan. Kalo kita ibaratkan industri semikonduktor sebagai tubuh manusia, maka plasma adalah darahnya. Tanpanya tidak akan kita mengenal AI sampai seperti hari ini. Tanpanya tidak akan ada moore’s law. Tanpanya tak akan ada chip yang bisa tercipta.

Karena rumitnya mengendalikan plasma maka para expert dibidang ini saling bertukar pikiran untuk menemukan best practice. Akademisi dan industri bertukar ilmu dan pengalaman. Karena itulah acara ini diadakan.

memahami plasma itu layaknya baking a cake. Kuncinya bukan hanya ada di resepnya tapi juga di parameter lainnya seperti suhu pembakaran, jarak antara adonan dan sumber panas, dsb. Salah memasukkan satu parameter saja, maka kuenya akan bantat. Kondisi ini diperumit dengan parameter-parameter yang intertwined dan tightly coupled satu sama lain. Bahasa gampangnya, mengubah satu paramter saja maka paramter lainnya harus diubah juga. Di dunia ini, paten tidak lagi berarti karena paten sama saja memberikan resep yang sudah dicari susah-susah dengan percuma.

Saking rumitnya mengetahui dengan pasti how the plasma behave, maka beberapa orang memberikan pendekatan-pendakatan dan penyederhaan dari dunia yang kompleks ini berdasarkan eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan. Pendekatan-pendekatan itulah yang dikemudian hari kita kenal sebagai model, kemudian kita sebut sebagai rumus. Tentu saja rumus itu bukan gambaran pasti apa yang terjadi di dunia kita, hanya sebagai prediksi, karena hanya sebatas itulah level manusia dalam mencoba memahami dunia ini.

Sebagai contoh presiden ke 3 kita dulu membuat sebuah model untuk memprediksi bagaimana keretakan menjalar dalam struktur pesawat terbang, lebih tepatnya untuk pesawat militer. Model itu kemudian dikenal dengan nama Habibie model, atau juga dikenal dengan Habibie factor.

Dalam setiap perjalanan yang ditempuh, selalu ada pelajaran hidup yang dipetik. Kali ini pelajaran itu datang dalam bentuk sebuah mindset baru. Sebuah pola pikir bahwa ternyata menciptakan sebuah rumus atau formula itu ternyata bukan hexenwerk (sorcery). Rumus justru adalah pengakuan kalah dan berserah diri karena keterbasan manusia dalam memahami dunia yang begitu luas dan kompleksnya. Karena semua manusia punya keterbasan yang sama dalam memahami kompleksnya dunia ini maka semua manusia juga punya kesempatan yang sama untuk menciptakan rumus-rumus tersebut. Seperti kata Steve Jobs, dunia yang kita kenal ini dibuat oleh orang yang tidak lebih pintar dari kita. Demikian juga rumus-rumus tersebut, dibuat oleh orang yang tidak lebih pintar dari kita.

Rayhan Hibatullah

Braunschweig, 01.02.2026