94 Tim Robot Terbang Adu Inovasi di IKN

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rayi Putra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada September 2026 tidak hanya menjadi lokasi pembangunan kawasan baru, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa dari berbagai daerah Indonesia menguji kemampuan teknologi mereka.
Mulai 21 hingga 25 September 2026, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menjadi tuan rumah Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Kompetisi nasional ini mempertemukan 94 tim dari 43 perguruan tinggi dengan total 373 mahasiswa yang berkompetisi di bidang robot terbang dan teknologi pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Kehadiran puluhan tim tersebut menunjukkan bahwa teknologi pesawat tanpa awak tidak hanya dikembangkan oleh industri atau lembaga penelitian. Mahasiswa juga ikut terlibat dalam proses merancang, membangun, menguji, dan mengembangkan sistem UAV.
Bukan Sekadar Membuat Drone Bisa Terbang
Ketika mendengar istilah UAV atau drone, sebagian orang mungkin hanya membayangkan sebuah pesawat kecil yang dapat terbang menggunakan kendali jarak jauh.
Padahal, teknologi UAV jauh lebih kompleks.
Sebuah UAV membutuhkan berbagai komponen yang bekerja secara bersamaan. Ada sistem penerbangan, motor atau mesin penggerak, sumber energi, sensor, sistem komunikasi, hingga sistem kendali.
Kesalahan pada salah satu bagian dapat memengaruhi kemampuan pesawat menjalankan misi.
Karena itu, peserta KRTI tidak hanya dituntut membuat pesawat yang mampu mengudara. Mereka juga harus memikirkan bagaimana wahana tersebut dapat menjalankan tugas sesuai karakteristik divisi yang diikuti.
ITK menyebut KRTI menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang teknologi penerbangan tanpa awak, robotika, sistem kendali, dan inovasi teknologi pendukung.
Ada Berbagai Jenis Misi yang Harus Diselesaikan
KRTI 2026 tidak hanya mempertandingkan satu jenis pesawat.
Menurut informasi dari ITK, 94 tim finalis akan berkompetisi dalam lima divisi, yaitu Fixed Wing (FW), Long Endurance Low Altitude (LELA), Racing Plane (RP), Technology Development (TD), serta Vertical Take-off and Landing (VTOL).
Setiap kategori memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri.
Pesawat jenis fixed wing, misalnya, menggunakan sayap untuk menghasilkan gaya angkat seperti pesawat pada umumnya. Sementara itu, VTOL memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal.
Adapun racing plane menekankan kemampuan pesawat untuk bergerak cepat dan mengikuti tantangan yang diberikan dalam kompetisi.
Perbedaan tersebut membuat peserta harus menentukan desain yang sesuai dengan kebutuhan misi.
Artinya, tidak ada satu desain pesawat yang otomatis cocok untuk semua kondisi.
Teknologi UAV Semakin Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Perkembangan UAV sebenarnya bukan hanya soal kompetisi mahasiswa.
Teknologi ini sudah memiliki berbagai potensi penggunaan di dunia nyata.
Menurut ITK, UAV dapat dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan kawasan, navigasi, mitigasi bencana, hingga distribusi logistik.
Dalam pemetaan, misalnya, UAV dapat membawa kamera atau sensor untuk mengambil data dari udara.
Dalam situasi bencana, teknologi tersebut dapat membantu mendapatkan gambaran kondisi wilayah tanpa harus langsung mengirim manusia ke area yang sulit atau berbahaya untuk dijangkau.
Untuk wilayah yang luas, UAV juga dapat membantu proses pemantauan dengan lebih fleksibel.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan yang dikembangkan mahasiswa dalam sebuah kompetisi dapat memiliki hubungan dengan kebutuhan teknologi di masa depan.
Mengapa Kompetisinya Digelar di IKN?
Pemilihan IKN sebagai salah satu lokasi KRTI 2026 memberikan konteks yang menarik.
IKN dirancang sebagai kawasan baru dengan konsep pembangunan yang mengandalkan teknologi dan berbagai inovasi. Karena itu, penyelenggaraan kompetisi teknologi UAV di kawasan tersebut mempertemukan dua hal sekaligus: pembangunan kota masa depan dan pengembangan teknologi oleh generasi muda.
ITK menyebut penyelenggaraan KRTI di IKN menjadi kesempatan untuk mempertemukan gagasan teknologi mahasiswa dengan kebutuhan kawasan yang berkembang.
Bagi mahasiswa, lingkungan seperti ini juga dapat menjadi ruang untuk melihat bahwa teknologi yang mereka pelajari di kampus tidak hanya berhenti sebagai tugas atau proyek.
Sebuah sistem UAV yang awalnya dibuat untuk kompetisi dapat dikembangkan lebih jauh menjadi teknologi yang memiliki manfaat praktis.
Tantangan Besar Ada pada Sistem Kendali
Salah satu bagian menarik dalam teknologi UAV adalah sistem kendali.
Pesawat harus mampu menjaga kestabilan ketika berada di udara. Sistem tersebut harus mampu merespons perubahan kondisi penerbangan dan menjalankan perintah sesuai rancangan.
Karena itu, bidang seperti elektronika, pemrograman, mekanika, komunikasi, dan aerodinamika saling berhubungan.
Mahasiswa dari bidang teknik tidak bisa hanya memahami satu bagian.
Mereka perlu bekerja sebagai sebuah tim agar perangkat keras dan perangkat lunak dapat bekerja secara terintegrasi.
Di sinilah kompetisi seperti KRTI memiliki nilai pembelajaran yang berbeda dari sekadar kuliah di ruang kelas.
Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menghadapi persoalan nyata: bagaimana membuat sistem bekerja, bagaimana menemukan kesalahan, dan bagaimana melakukan pengujian berulang sampai perangkat mampu menjalankan misi.
Keselamatan Juga Menjadi Hal Penting
Teknologi pesawat tanpa awak tentu tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis.
Karena perangkat tersebut terbang di udara, aspek keselamatan dan perizinan juga harus diperhatikan.
Dalam persiapan KRTI 2026, ITK berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Lanud Dhomber Balikpapan, untuk mendukung aspek penerbangan, keselamatan, perizinan, serta kesiapan teknis di lapangan.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi UAV tidak bisa dilepaskan dari aturan dan prosedur keselamatan.
Semakin besar dan kompleks sebuah UAV, semakin penting pula pengujian dan pengoperasian dilakukan secara terkontrol.
Dari Kompetisi Menuju Teknologi yang Lebih Serius
Kompetisi mahasiswa sering kali dianggap hanya sebagai ajang untuk mendapatkan penghargaan.
Namun, KRTI memiliki potensi yang lebih luas karena peserta dituntut merancang dan menguji teknologi secara langsung.
ITK berharap kompetisi tersebut tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi dapat menjadi ruang lahirnya talenta yang mampu mengembangkan teknologi pesawat nirawak di Indonesia.
Hal tersebut menjadi penting karena penguasaan teknologi UAV membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan produk yang sudah tersedia, tetapi juga memahami cara merancang dan mengembangkannya.
Jika kemampuan tersebut terus dibangun sejak mahasiswa, Indonesia memiliki lebih banyak sumber daya manusia yang memahami teknologi penerbangan tanpa awak dari sisi teknis.
Teknologi Lokal Dimulai dari Proses yang Panjang
Membangun sebuah UAV bukan pekerjaan yang selesai dalam satu malam.
Mahasiswa harus melewati berbagai tahapan, mulai dari menentukan konsep, memilih komponen, membuat desain, melakukan perakitan, menguji sistem, menemukan kesalahan, hingga melakukan perbaikan.
Kegagalan dalam pengujian pun menjadi bagian dari proses.
Pesawat yang tidak stabil, sistem kendali yang tidak bekerja sesuai harapan, atau komponen yang mengalami masalah dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan berikutnya.
Proses semacam inilah yang membuat kompetisi teknologi memiliki nilai penting dalam pendidikan.
Mahasiswa belajar bahwa menghasilkan sebuah teknologi bukan hanya tentang mendapatkan ide, tetapi juga tentang mengubah ide tersebut menjadi sistem yang benar-benar dapat bekerja.
Apa yang Bisa Diharapkan dari KRTI 2026?
KRTI 2026 memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi UAV di Indonesia tidak hanya berlangsung di perusahaan atau lembaga penelitian.
Perguruan tinggi juga menjadi tempat penting untuk melahirkan eksperimen dan talenta baru.
Dengan 94 tim dari 43 perguruan tinggi, kompetisi tahun ini menjadi ruang pertemuan berbagai pendekatan dan gagasan dari mahasiswa di berbagai daerah Indonesia.
Yang menarik bukan hanya siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, kompetisi ini dapat dilihat sebagai gambaran mengenai bagaimana mahasiswa Indonesia mencoba menjawab tantangan teknologi melalui karya mereka sendiri.
Teknologi UAV juga menunjukkan bahwa bidang teknik memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemetaan, mitigasi bencana, pemantauan wilayah, dan distribusi logistik merupakan contoh kebutuhan yang dapat memanfaatkan teknologi pesawat tanpa awak.
Pada akhirnya, robot terbang bukan hanya soal membuat benda bisa terbang.
Di dalamnya terdapat ilmu elektronika, mekanika, pemrograman, kendali, komunikasi, dan berbagai disiplin lain yang harus bekerja secara bersamaan.
KRTI 2026 di IKN menjadi salah satu contoh bagaimana ilmu tersebut diterapkan langsung oleh mahasiswa.
Dari sebuah kompetisi, mungkin akan lahir bukan hanya pesawat yang mampu menyelesaikan misi, tetapi juga generasi insinyur yang nantinya mengembangkan teknologi UAV Indonesia lebih jauh.
