Indonesia Bahas Masa Depan Teknologi Antariksa

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rayi Putra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi antariksa tidak lagi hanya menjadi perhatian negara-negara besar. Indonesia juga terus berusaha mengembangkan kemampuan di bidang kedirgantaraan melalui penelitian, inovasi, dan kerja sama internasional.
Hal tersebut terlihat dari penyelenggaraan The 12th International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) 2026 yang berlangsung pada 6–8 Oktober 2026 di Yogyakarta. Forum ini mempertemukan peneliti, akademisi, dan pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi penerbangan dan antariksa.
ISAST 2026 mengangkat tema “Aerospace for Humanity”. Tema tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi antariksa tidak hanya ditujukan untuk eksplorasi luar angkasa, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia di Bumi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa bersama Universitas Gadjah Mada, i-CATS University College Malaysia, dan Vietnam National University. Pelaksanaannya dilakukan secara hibrida sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring.
Salah satu hal yang menarik adalah banyaknya bidang teknologi yang dibahas. Topiknya mencakup teknologi pesawat tanpa awak atau drone, rekayasa satelit dan penginderaan jauh, roket dan propulsi, astrofisika, cuaca antariksa, hingga kebijakan dan ekonomi antariksa.
Dari berbagai bidang tersebut, teknologi satelit menjadi salah satu bagian yang memiliki manfaat besar bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas, Indonesia membutuhkan teknologi yang mampu membantu pemantauan wilayah dari jarak jauh.
Satelit dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pemantauan lingkungan, pengamatan perubahan permukaan bumi, komunikasi, hingga membantu menyediakan data untuk kebutuhan penelitian. Data dari satelit juga dapat dimanfaatkan untuk memahami kondisi wilayah yang sulit dipantau secara langsung.
Teknologi drone juga memiliki peluang penggunaan yang cukup luas. Pesawat tanpa awak dapat digunakan untuk pemetaan, pemantauan wilayah, penelitian, hingga membantu berbagai kegiatan yang membutuhkan pengamatan dari udara.
Perkembangan teknologi tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan terhadap data yang cepat dan akurat terus meningkat. Dengan teknologi penginderaan jauh dan sistem pemantauan dari udara, informasi mengenai suatu wilayah dapat diperoleh tanpa harus selalu melakukan pengamatan secara langsung.
Di sisi lain, pengembangan teknologi roket dan propulsi juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan kedirgantaraan. Roket dibutuhkan untuk membawa muatan tertentu menuju luar angkasa, termasuk satelit yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.
Penguasaan teknologi tersebut tentu membutuhkan penelitian yang panjang. Pengembangan roket tidak hanya berkaitan dengan bentuk kendaraan, tetapi juga mencakup sistem propulsi, material, aerodinamika, kendali penerbangan, hingga keselamatan.
Karena itu, forum seperti ISAST menjadi penting bagi peneliti Indonesia. Pertemuan dengan peneliti dari berbagai negara memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kerja sama dalam penelitian.
Pada ISAST 2026, panitia menerima 138 abstrak dari peneliti di 14 negara. Dari 91 makalah lengkap yang diajukan, sebanyak 88 makalah dipilih untuk dipresentasikan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penelitian mengenai teknologi kedirgantaraan terus berkembang dan melibatkan banyak pihak.
Kehadiran mahasiswa dalam perkembangan ini juga tidak kalah penting. Teknologi antariksa membutuhkan sumber daya manusia dari berbagai bidang, mulai dari teknik elektro, teknik mesin, informatika, fisika, hingga ilmu material.
Bagi mahasiswa teknik, perkembangan kedirgantaraan dapat menjadi peluang untuk mengembangkan kemampuan di bidang sistem kendali, sensor, komunikasi, elektronika, pemrograman, dan robotika. Banyak teknologi yang digunakan pada satelit maupun kendaraan udara membutuhkan integrasi dari berbagai disiplin ilmu.
Indonesia sendiri memiliki tantangan yang cukup besar dalam mengembangkan teknologi antariksa. Biaya penelitian dan pengembangan teknologi tidak sedikit. Selain itu, dibutuhkan fasilitas penelitian, sumber daya manusia yang kompeten, serta kerja sama yang berkelanjutan agar hasil penelitian tidak berhenti hanya sebagai prototipe.
Namun, tantangan tersebut juga menjadi alasan mengapa kolaborasi menjadi penting. Pengembangan teknologi tidak harus dilakukan oleh satu lembaga saja. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan pemerintah dapat bekerja sama untuk menghasilkan teknologi yang dapat digunakan secara nyata.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil penelitian dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Teknologi antariksa sering kali dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, berbagai teknologi yang dikembangkan untuk kebutuhan penerbangan dan antariksa dapat memiliki manfaat untuk komunikasi, pemetaan, mitigasi bencana, pemantauan lingkungan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Tema “Aerospace for Humanity” dalam ISAST 2026 juga memperlihatkan arah tersebut. Teknologi tidak hanya dipandang sebagai pencapaian ilmiah, tetapi sebagai alat untuk membantu manusia menghadapi berbagai tantangan.
Ke depan, perkembangan teknologi antariksa berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam kemajuan teknologi Indonesia. Dengan penelitian yang konsisten dan kerja sama yang semakin luas, Indonesia dapat meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan teknologi sendiri.
Penyelenggaraan ISAST 2026 di Yogyakarta menjadi salah satu contoh bahwa Indonesia memiliki ruang untuk terlibat dalam perkembangan teknologi kedirgantaraan dunia. Bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai negara yang ikut melakukan penelitian dan menciptakan inovasi.
Jika pengembangan tersebut terus dilakukan secara berkelanjutan, teknologi roket, satelit, drone, dan sistem kedirgantaraan lainnya bukan tidak mungkin akan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Masa depan teknologi antariksa pun bukan lagi sekadar tentang menjangkau luar angkasa, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan di Bumi.
