Tukar Baterai Jadi Langkah Baru Kendaraan Listrik

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Rayi Putra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia terus memasuki tahap baru. Selain memperbanyak kendaraan dan stasiun pengisian daya, kini sistem penukaran baterai atau Battery Swap System mulai dikembangkan untuk membuat penggunaan kendaraan listrik menjadi lebih praktis.
Salah satu perkembangan terbaru terjadi di Kabupaten Klungkung, Bali. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali bersama PT INAKO Kreta Udhaya, Korea Smart e-Mobility Association (KEMA), dan Korea Automotive Technology Institute (KATECH) menyiapkan proyek percontohan sistem penukaran baterai di lima lokasi strategis di Klungkung. Proyek tersebut direncanakan mulai berjalan pada Oktober 2026.
Sistem penukaran baterai memiliki konsep yang cukup sederhana. Ketika baterai kendaraan sudah hampir habis, pengguna tidak harus selalu menunggu baterai terisi kembali. Baterai yang sudah kosong dapat ditukar dengan baterai lain yang telah memiliki daya cukup, sehingga kendaraan dapat kembali digunakan dalam waktu yang lebih singkat.
Konsep tersebut menjadi menarik karena waktu pengisian merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan kendaraan listrik. Pengisian menggunakan listrik membutuhkan waktu tertentu, tergantung kapasitas baterai dan teknologi pengisian yang digunakan. Dengan sistem penukaran, proses pengisian baterai dapat dilakukan secara terpisah dari kendaraan.
Dalam proyek di Klungkung, PLN berperan dalam mendukung kebutuhan kelistrikan dan penyambungan daya untuk pemasangan serta pengoperasian fasilitas penukaran baterai. Sementara itu, mitra lainnya menangani berbagai kebutuhan terkait perizinan dan pengembangan sistem.
Menariknya, proyek ini tidak hanya ditujukan untuk kendaraan yang digunakan masyarakat sehari-hari. Tahap awal akan melibatkan lima kendaraan listrik roda tiga untuk kebutuhan khusus. Kendaraan tersebut direncanakan digunakan untuk mengangkut sampah, membawa barang, serta menjadi kendaraan pendingin.
Teknologi kendaraan listrik juga akan dikembangkan untuk mendukung sektor pertanian. Kendaraan listrik berukuran kecil dengan tiga atau empat roda dapat dimanfaatkan untuk mengangkut berbagai kebutuhan di area pertanian maupun membantu kegiatan penyemprotan. Hal ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan transportasi pribadi, tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung kegiatan produktif.
Jika proyek percontohan berjalan sesuai rencana, pengembangan ekosistem kendaraan listrik tersebut direncanakan diperluas pada 2027 dengan jumlah lebih dari 30 kendaraan listrik di Bali. Perluasan tersebut dapat menjadi tahap berikutnya dalam melihat apakah sistem penukaran baterai mampu diterapkan secara lebih luas.
Bagi Bali, perkembangan ini juga memiliki kaitan dengan upaya menciptakan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah Kabupaten Klungkung mengaitkan pengembangan kendaraan listrik dengan rencana menjadikan Nusa Penida sebagai green island pada 2030. Ekosistem kendaraan listrik diharapkan dapat mendukung pariwisata berkelanjutan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal.
Namun, membangun kendaraan listrik saja belum cukup. Infrastruktur pendukung juga menjadi bagian penting. Pengguna membutuhkan tempat pengisian atau penukaran baterai yang mudah ditemukan, pasokan listrik yang memadai, sistem yang aman, serta baterai yang kompatibel dengan kendaraan.
Karena itu, proyek di Klungkung tidak hanya berfokus pada pemasangan fasilitas. Kerja sama tersebut juga mencakup pengujian kesesuaian dan kualitas sistem penukaran baterai di lapangan. Data penggunaan dan hasil pemantauan sistem nantinya dapat digunakan untuk mengevaluasi sekaligus mengembangkan teknologi tersebut.
Tantangan lainnya adalah bagaimana membuat sistem tersebut dapat digunakan secara luas tanpa menimbulkan masalah baru. Standar baterai, ketersediaan fasilitas, biaya penggunaan, keamanan, dan perawatan menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Semakin banyak kendaraan yang menggunakan sistem tersebut, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang konsisten.
Meski demikian, hadirnya proyek percontohan seperti di Klungkung menunjukkan bahwa perkembangan kendaraan listrik di Indonesia mulai bergerak ke arah ekosistem yang lebih lengkap. Fokusnya bukan lagi sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar minyak dengan kendaraan listrik, tetapi juga membangun infrastruktur yang membuat kendaraan tersebut mudah digunakan.
Jika sistem penukaran baterai dapat berjalan dengan baik, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk mendukung mobilitas listrik, khususnya kendaraan berukuran kecil dan kendaraan yang digunakan untuk kegiatan operasional.
Perkembangan di Klungkung juga menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Pemerintah daerah, perusahaan listrik, pengembang teknologi, pelaku usaha, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing.
Pada akhirnya, keberhasilan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kendaraan yang terjual. Ketersediaan infrastruktur, kemudahan penggunaan, keandalan sistem, serta kesiapan masyarakat juga akan menentukan apakah kendaraan listrik benar-benar dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya proyek percontohan sistem Battery Swap System di Klungkung, Bali menjadi salah satu wilayah yang kembali menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membangun sistem transportasi yang lebih praktis dan berkelanjutan. Jika hasilnya positif, bukan tidak mungkin konsep serupa akan semakin banyak diterapkan di wilayah lain di Indonesia.
