Ancaman Hama Gudang 2025: Dampak Serius bagi Pangan dan Ekspor Indonesia

Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Raymond Setiyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

1. Infestasi Hama Gudang Meningkat Drastis
Asosiasi Pest Control Indonesia (APCI) melaporkan kasus hama gudang di 2025 naik 30% dibandingkan tahun lalu. Serangga seperti Sitophilus oryzae (kumbang beras) dan Tribolium castaneum (kumbang tepung) menyerang lebih dari 1,2 juta ton komoditas yang tersimpan di gudang nasional.
Kerugian ekonomi akibat infestasi ini ditaksir mencapai Rp4,8 triliun hanya pada semester I 2025. Angka tersebut mencakup kerusakan beras, gandum, kopi, kakao, hingga rempah yang menjadi andalan ekspor Indonesia.
2. Ancaman terhadap Ketahanan Pangan Nasional
Hama gudang menurunkan kualitas stok pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat 10% cadangan beras pemerintah (CBP) mengalami kerusakan akibat infestasi pada periode Januari–Juli 2025. Jumlah itu setara dengan 300 ribu ton beras yang seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lebih dari 20 kota besar selama sebulan.
Jika masalah ini berlanjut, harga pangan berpotensi naik tajam. Bapanas memperkirakan inflasi bahan pokok bisa melonjak hingga 6% pada akhir 2025 bila pengendalian hama tidak segera dilakukan.
3. Penolakan Ekspor di Pasar Internasional
Infestasi hama gudang juga berdampak pada ekspor. Data Bea Cukai 2025 menunjukkan 510 kontainer ekspor ditolak di pelabuhan luar negeri, mayoritas karena ditemukan hama pada komoditas pangan dan kayu kemasan. Nilai kerugian dari penolakan ekspor ini mencapai Rp1,2 triliun.
Negara-negara tujuan seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat semakin memperketat inspeksi karantina. Tanpa fumigasi atau heat treatment sesuai standar ISPM 15, produk Indonesia terancam kehilangan daya saing di pasar global.
