Konten dari Pengguna

Metil Bromida: Senjata Karantina Internasional untuk Ekspor

Raymond Setiyawan

Raymond Setiyawan

Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raymond Setiyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Ilustrasi diolah menggunakan ChatGPT (OpenAI Image Generator)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Ilustrasi diolah menggunakan ChatGPT (OpenAI Image Generator)

Peran Penting dalam Quarantine and Pre-Shipment

Metil bromida (CH₃Br) menjadi fumigan utama untuk QPS—proses karantina dan pra-pengapalan komoditas ekspor agar bebas hama. Gas ini memiliki kemampuan menembus bahan kemasan, celah kayu, dan tumpukan komoditas, membunuh serangga, tungau, serta organisme karantina lain pada semua tahap hidup.

Dalam perdagangan internasional, negara tujuan seperti Australia, Selandia Baru, dan China menetapkan fumigasi metil bromida sebagai persyaratan wajib untuk komoditas kayu, biji-bijian, dan hasil pertanian. Keberhasilan proses QPS menentukan kelancaran distribusi dan menghindari penolakan di pelabuhan tujuan yang dapat memicu kerugian besar.

Baca Juga Fumigasi Spesialis Industri Indonesia

Data Ekspor dan Penggunaan di Indonesia

Badan Karantina Pertanian mencatat pada 2023 lebih dari 70% fumigasi ekspor kayu menggunakan metil bromida. Volume terbesar berasal dari sektor kayu olahan, kopi, dan biji kakao yang dikirim ke negara dengan regulasi ketat.

Contohnya, ekspor kayu olahan ke Australia mencapai 1,2 juta m³ per tahun, dengan seluruh pengiriman menjalani fumigasi metil bromida sesuai ISPM 15. Prosedur ini memerlukan dosis 48 g/m³ selama minimal 24 jam pada suhu tertentu, tergantung jenis hama target dan regulasi negara importir.

Baca Juga Apa itu Metil Bromida

Tantangan dan Arah Masa Depan

Meskipun efektif, metil bromida termasuk bahan perusak lapisan ozon sehingga penggunaannya diatur ketat oleh Protokol Montreal. Penggunaan hanya diizinkan untuk QPS, bukan untuk fumigasi rutin di gudang.

Pengelolaan di lapangan harus memenuhi standar keamanan tinggi, termasuk pemantauan kebocoran gas dan pengolahan sisa gas agar tidak mencemari lingkungan.

Riset terus berjalan untuk mencari pengganti setara efektivitasnya, seperti fumigan fosfin atau perlakuan panas (heat treatment). Namun, untuk komoditas berisiko karantina tinggi, metil bromida masih menjadi pilihan utama karena kecepatannya membunuh hama dan fleksibilitas penerapannya pada berbagai jenis barang.

Penulis: Raymond Setiyawan