Mahasiswa KKN Unand Ajak Siswa SMPN 2 Palupuh Belajar Fisika Lewat Roket Air

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rayosama Maldefta Raheshy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
PALUPUH, 21 Juli 2026. Pelajaran fisika sering kali dianggap rumit dan menakutkan oleh sebagian siswa sekolah menengah.
Namun, persepsi tersebut coba diubah oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Nagari Nan Tujuah melalui program kerja interaktif bertajuk "Belajar Sains dengan Roket Air" yang sukses diselenggarakan di SMPN 2 Palupuh pada Selasa, 21 Juli 2026.
Program kerja lintas jurusan ini dengan Penanggung Jawab Proker oleh empat mahasiswa dari Rumpun Teknik Unand, yaitu Aflahul Fikri (Teknik Mesin), Aditya Ramadhan (Teknik Sipil), serta Farel Al Shadiq dan Dina Sabrina Nasywa (Teknik Industri).
Kolaborasi keilmuan ini berhasil menghadirkan metode edukasi sains dasar yang praktis, visual, dan memicu rasa ingin tahu para siswa.
Mengubah Botol Bekas Menjadi Wahana Edukasi Dalam kegiatan ini, para siswa diajak untuk memahami bahwa konsep-konsep fisika modern dapat dipelajari dari barang-barang sederhana di sekitar mereka, salah satunya botol plastik bekas.
Melalui prinsip kerja roket air, mahasiswa menjelaskan komponen penting pembuat roket, mulai dari ujung roket (nose cone), badan botol plastik, sirip penyeimbang (fins), air, hingga pompa udara.
"Kami ingin menunjukkan bahwa sains khususnya fisika bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Roket air adalah media yang sangat tepat karena memanfaatkan alat sederhana tetapi prinsip fisikanya sangat nyata," ujar Aflahul Fikri.
Memahami Hukum Newton III Lewat Peluncuran Para siswa SMPN 2 Palupuh diajak mempraktikkan langsung tahapan peluncuran roket air.
Proses dimulai dengan mengisi botol menggunakan air sekitar sepertiga bagian sebagai bahan pendorong. Selanjutnya, udara dipompa ke dalam botol hingga tekanan meningkat.
Ketika pengunci dilepas, tekanan udara mendorong air keluar dengan cepat melalui mulut botol ke arah bawah, yang secara otomatis meluncurkan roket melesat tinggi ke udara. Melalui eksperimen ini, para siswa belajar tiga konsep sains utama:
1. Hukum Newton III (Aksi dan Reaksi): Saat air dan udara bertekanan keluar dari botol ke arah bawah (aksi), botol akan terdorong ke atas (reaksi) dengan gaya yang sama besar tetapi arahnya berlawanan.
2. Tekanan Udara: Semakin besar tekanan udara yang dipompa ke dalam botol, semakin besar energi yang digunakan untuk meluncurkan roket.
3. Gaya Dorong (Thrust): Semburan air yang keluar menghasilkan dorongan ke atas.
Faktor yang Memengaruhi Ketinggian Roket tidak hanya sekadar meluncurkan, mahasiswa Rumpun Teknik Unand juga membimbing para siswa melakukan analisis sederhana.
Siswa diajak mengamati hal-hal yang memengaruhi mengapa roket tidak selalu terbang tinggi, antara lain: Banyaknya udara yang dipompa Jumlah air yang digunakan Bentuk aerodinamis roket sirip yang terpasang posisi/sudut saat peluncuran.
Kegiatan yang berlangsung pada 21 Juli 2026 ini disambut dengan penuh antusiasme dari seluruh siswa dan guru SMPN 2 Palupuh. Diharapkan melalui kegiatan edukasi interaktif ini, minat dan rasa ingin tahu para siswa terhadap ilmu sains dapat terus tumbuh hingga tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
