Konten dari Pengguna

Pengalaman Saya Saat Membagikan Jamu Sehat ke Masyarakat di Tengah Pandemi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathan Raysyam Achmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Fathan Raysyam Achmad, Mahasiswa KKN UNDIP Membagikan Jamu ke Rumah Salah Satu Warga (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Fathan Raysyam Achmad, Mahasiswa KKN UNDIP Membagikan Jamu ke Rumah Salah Satu Warga (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Cepokokuning, Kabupaten Batang (06/08) Pada periode 30 Juni-12 Agustus 2021 UNDIP menyelenggarakan KKN sebagai mata kuliah wajib mahasiswa. Di semester 6 ini sendiri saya mengambil KKN secara daring. Program KKN UNDIP ini dilaksanakan secara daring dan bertempat di domisili masing-masing untuk mencegah penularan COVID-19. Menurut saya penyelenggaraan KKN secara daring adalah solusi terbaik yang dapat diambil karena apabila dilakukan secara konvensional maka berisiko menularkan virus. Saya sendiri mengambil penempatan KKN di tempat tinggal saya yaitu Desa Cepokokuning, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.

Kegiatan Kemasyarakatan yang Dilaksanakan

Kegiatan KKN yang saya laksanakan adalah kegiatan sepenuhnya daring, dengan diperbolehkan melakukan kontak fisik seperlunya. Pada kegiatan KKN Tim II UNDIP 2021 ini, salah satu dari dua program yang saya laksanakan adalah program pembuatan dan pembagian jamu tradisional berlabel "Jamu Tauuuu" yang dibuat dari bahan-bahan alami berupa jahe, kunyit, dan temulawak. Jamu ini merupakan minuman sehat yang mampu menghangatkan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Yang saya harapkan dari kegiatan ini adalah masyarakat dapat membiasakan mengonsumsi minuman sehat setiap harinya di tengah pandemi COVID-19 ini.

Alasan saya mengambil program ini sendiri berawal dari pertimbangan pribadi saya mengenai kondisi di Indonesia saat ini yang banyak terjadi kenaikan kasus positif COVID-19. Mengingat pentingnya hal ini, saya akhirnya memutuskan untuk melaksanakan program pembuatan jamu tradisional dari jahe, kunyit, dan temulawak tersebut kepada warga Desa Cepokokuning.

Oleh karena itu sebelum memutuskan untuk mengambil program ini saya berdiskusi dengan Pak Amat Budianto, ketua RT 02, yang saya temui pada Selasa, 20 Juli 2021: "Setelah saya berdiskusi dengan warga RT 02, mereka cenderung kurang sadar akan pentingnya mengonsumsi minuman sehat. Kalau makanan sendiri saya rasa karena situasi pandemi seperti ini, warga sini lebih sering mengonsumsi masakan rumah sehingga saya rasa lebih rendah risiko tertularnya daripada harus membeli berpergian dari rumah. Nah saya rasa, program jamu tradisional tersebut bisa sedikit membuka wawasan warga tentang pentingnya pola asupan sehat baik itu makanan atau minuman."

Sambutan baik ketua RT tersebut mendorong saya untuk mengerahkan seluruh kemampuan saya, sekaligus memberikan motivasi kepada saya agar program saya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak. Setelah berdiskusi dengan ketua RT, akhirnya diputuskan waktu pembagian jamu dilakukan pada Jumat, 30 Juli 2021. Pembagian jamu saya lakukan dengan sistem door-to-door guna mencegah kerumunan.

Pelaksanakaan Pembagian Jamu Tradisional ke Warga RT 02 Cepokokuning

Pada tanggal 30 Juli diselenggarakan pembagian jamu tradisional dari rumah ke rumah, kegiatan ini disambut positif oleh warga setempat yang karenanya membuat saya merasa senang karena dapat berkontribusi bagi warga Desa Cepokokuning.

Pada kegiatan ini saya memfokuskan diri selain membagikan jamu tradisional juga mengedukasi tentang bahan-bahan dan cara pembuatan jamu yang mudah ditemui sehingga bisa dikonsumsi setiap hari.

Gambar 2. Desain Label Minuman Jamu Tradisional "Jamu Tauuuu" (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Serangkaian kegiatan pembagian ini mendapatkan komentar positif dari salah satu warga, yaitu Ibu Luluk yang berkata: "Terima kasih banyak atas jamunya dik, jamunya enak gak pedas dan juga gak pahit-pahit banget. Setelah minum ini badan jadi anget dan rasa capek ilang gak kerasa lagi. Ada keterangan bahan-bahan dan pembuatannya juga jadi bisa ditiru dan dibuat sendiri buat konsumsi setiap hari"

Akhir kata, program ini saya harap dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai minuman jamu sebagai minuman penunjang kesehatan di tengah merebaknya penyebaran COVID-19 sehingga diberlakukannya kebijakan PPKM yang berlangsung hingga saat ini. Selain diharapkan untuk mematuhi protokol kesehatan dan ikut mendukung pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19, masyarakat juga dihimbau untuk senantiasa memperhatikan pola hidup mereka secara khusus yaitu asupan makanan dan minuman yang sehat. Jamu tradisional berlabel “Jamu Tauuu” ini adalah salah satu asupan sehat yang saya merasa terhormat dapat memperkenalkannya ke warga Desa Cepokokuning.