Kopi Gunungwangi: Berjaya di Hilir, Sekarat di Hulu

Mahasiswa Program Studi Manajemen, IPB University yang menyukai otomotif, musik dan sepakbola. Mempunyai minat di bidang Manajemen Sumberdaya Manusia dan juga Manajemen Keuangan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rayvin Virgiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berjaya di Hilir, Sekarat di Hulu?
Citranya sudah sangat dikenal, namun saat ini sedang sekarat. Bena
r, itulah gambaran singkat dari Kopi yang berasal dari Desa Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Dikalangan penikmat kopi, khususnya Daerah Jawa Barat citra Kopi Gunungwangi tidak perlu diragukan lagi. Dengan aroma khas gula merah dan rasa kopi yang kuat menjadikan Kopi Gunungwangi meraih peringkat kedua dalam hal kelezatan se-Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020 (Maulana, H. 2020). Menurut penuturan Abah Misbah selaku ketua dari Kelompok Tani Kopi Saktiwangi dan juga pemilik dari merek M.Co Coffee, produksi kopi yang ada di hulu per tahun 2024 mengalami penurunan yang signifikan dengan kemampuan panen per tahun hanya sebesar 10 ton, sedangkan pada medio tahun 1997-2020 petani mampu melakukan panen sebanyak 20 hingga 30 ton per tahun.
Lalu apa yang terjadi pada Kopi Gunungwangi?
Permasalahan ini bermula ketika diterapkannya kebijakan pembatasan kegiatan pertanian atau perkebunan disekitaran Gunung Ciremai, yakni dengan dibuatnya Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai suatu solusi konservasi kehutanan. Sejak diresmikannya Taman Nasional Gunung Ciremai pada tahun 2004 (Dewi et al. 2019) petani kopi di Desa Gunungwangi sudah merasakan dampak kesulitan dalam mengakses tanaman kopi yang sudah tumbuh sejak lama di kaki Gunung Ciremai. Negoisasi dengan pembuat kebijakan terus berlanjut dari diresmikannya Taman Nasional Gunung Ciremai sampai dengan beberapa tahun belakang para petani diperbolehkan kembali untuk bercocok tanam sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai dengan syarat tidak boleh ditanami oleh tanaman palawija. Sayangnya ketika akses pemanfaatan Taman Nasional Gunung Ciremai sudah diberikan, di sisi lain para petani yang dulunya aktif dan muda kini sudah rentan dan berumur untuk bertani. Selain itu karena sudah lama tidak digunakan dan diurus, akses ke perkebunan kopi dan fasilitas untuk merawatnya sudah tidak lagi terawat. Di sisi lain, permintaan pasar akan Kopi Gunungwangi sangat besar dan dituntut untuk memenuhi permintaan terseebut. Abah Misbah juga menuturkan selain akses, regenerasi petani kopi di Desa Gunungwangi merupakan penyebab lain penurunan produksi kopi asli dari Desa Gunungwangi.
Sulitnya akses menuju kebun Kopi Gunungwangi
Salah satu kebun kopi yang ada pada kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai adalah Blok Hutan Cibihuk. Selama masa KKN-T Inovasi, penulis berkesempatan untuk langsung terjun ke lapangan. Blok Cibihuk merupakan salah satu blok hutan yang memiliki potensi produk hasil kebun seperti kopi ataupun karet yang cukup menjajikan. Jarak terdekat dari Desa Gunungwangi menuju Blok Cibihuk sekitar 3,5 kilometer dengan kondisi medan jalan setapak yang sangat sulit, kontur tanah yang mengharuskan perjalanan naik dan turun menambah kesulitan medan ini untuk diakses. Terlebih lagi ketika kondisi cuaca sedang hujan, tanah utama yang menjadi akses akan menjadi lumpur dan licin ketika dilalui. Sehingga dapat menyebabkan penurunan efisiensi kerja dari para petani, terlebih ketika mereka membawa hasil panen yang berat dan mudah rusak apabila terjatuh. Layaknya efek domino, akses yang buruk tidak hanya memengaruhi kemampuan petani untuk mengangkut hasil panen, namun juga perdampak pada produktivitas keseluruhan. Seperti sulitnya dalam membawa pupuk, bibit, dan peralatan kebun menyebabkan efektivitas produksi menurun signifikan serta kemampuan pengangkutan hasil panen karena keterlambatan yang disebabkan akses juga akan mengurangi kualitas dari kopi yang dihasilkan.
Alternatif kebijakan untuk Kopi Gunungwangi
Meskipun tantangan sulit selalu menerpa seperti akses dan regenerasi petani, semangat untuk mepertahankan Kopi Gunungwangi dari masyarakat desa masih tetap tinggi. Semangat ini perlu dijaga dan didorong dengan beberapa alternatif kebijakan untuk melestarikan kopi asli dari Desa Gunungwangi. Bebereapa alternatif kebijakan yang dapat diambil yakni:
Perbaikan infrastruktur jalan yang meliputi pembangunan jalan aspal dan peningkatan kualitas jalan desa menuju blok hutan kopi terdekat seperti Blok Hutan Cibihuk. Dengan adanya perbaikan infrastruktur jalan dapat memudahkan petani kopi untuk menuju kebun kopi terdekat.
Pemberian subsidi untuk alat transportasi bagi petani yang meliputi pemberian kendaraan khusus kepada petani seperti sepeda motor roda dua ataupun roda tiga dengan konsep seperti gerobak. Hal ini dapat memudahkan petani dalam mengangkut hasil panen dari tanaman kopi.
Sosialisasi dan pemberdayaan mengenai pentingnya menjaga kelestarian Kopi Gunungwangi kepada para pemuda sebagai generasi penerus. Hal ini mencakup pengikutsertaan remaja pada kegiatan-kegiatan pertanian, kampanye pentingnya menjaga hasil bumi asli dari Desa Gunungwangi, dan juga penyesuaian upah yang diberikan sehingga dapat menarik minat para pemuda.
Artikel ini ditulis oleh: Afkar Roshif Ibrahim, Alika Sinung Puruhita, Bannaty Addhya Wardah, Imam Surya Akbar, Nova Rahmah, Rayvin Virgiawan, Salma Sabiila, Sarah Putri Saleha.
Kelompok 7 Kabupaten Majalengka KKN-T IPB University.
