Anak Sulung Bukanlah Orang Tua Cadangan

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Syari'ah dan Hukum jurusan Hukum Keluarga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aidi Almas Syam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba perhatikan yang tersebar di media sosial belakangan ini. Ada banyak unggahan anak perempuan berusia belasan tahun menggendong adiknya yang masih bayi, menyuapi, memandikan, sampai menidurkan. Dilengkapi dengan sebutan "calon ibu sejati" atau "kakak terbaik sedunia". Komentarnya dipenuhi pujian masyarakat. mereka terharu, lalu membagikannya lagi melalui platform media sosial lainnya. Tidak ada yang bertanya: di mana orang tuanya?
Itulah masalahnya. Kita telah lama menormalisasi sesuatu yang seharusnya kita waspadai, yaitu anak sulung yang dipaksa secara halus maupun terang-terangan untuk mengambil alih peran orang tua. Fenomena ini memiliki nama dalam psikologi: parentifikasi, yaitu kondisi ketika anak mengambil tanggung jawab dewasa lebih cepat dari usianya, baik secara instrumental seperti mengurus rumah dan adik, maupun secara emosional seperti menjadi tempat curahan hati orang tua. Dalam keluarga besar, anak sulung seringkali mengambil peran pengasuh bagi adik-adiknya, terutama ketika orang tua belum matang secara emosional dan tidak mampu mengelola kebutuhan dirinya sendiri.
Bedanya, dulu fenomena ini berlangsung diam-diam di balik pintu rumah. Sekarang, hal ini dipertontonkan dan malah dirayakan di depan publik melalui media sosial. Dan justru pada titik inilah letak bahayanya semakin besar. Yaitu ketika sesuatu yang merugikan anak diberi label positif seperti dewasa sebelum waktunya, berbakti, bertanggung jawab. Maka tidak ada lagi alasan untuk mempertanyakannya. Validasi publik membuat orang tua merasa wajar melepas tanggung jawab, dan anak sulung merasa wajib menerimanya karena dianggap sebagai pujian, bukan beban yang tidak seharusnya ditanggung dan justru menjadi sebuah kewajiban.
Padahal, akibat dari pembalikan peran ini jauh dari indah. Hasil sampingan parentifikasi yang hampir tidak terhindarkan adalah kehilangan masa kecil itu sendiri. Anak yang seharusnya bermain, belajar, dan mengenali emosinya sendiri, justru terlatih untuk menahan kebutuhan pribadi demi mengurus orang lain. Anak-anak yang mengalami parentifikasi cenderung kesulitan dalam perkembangan emosionalnya, merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, kesulitan menjalin hubungan yang sehat, dan berisiko mengalami masalah kesehatan mental di kemudian hari. Ironisnya, semakin "kompeten" seorang anak sulung mengurus rumah tangga kecilnya, semakin besar pula tepuk tangan yang ia terima dan semakin jauh ia dari kesempatan untuk sekadar menjadi anak-anak.
Fenomena ini tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Banyak anak sulung, terutama perempuan, membawa pola yang sama hingga dewasa, terus-menerus merasa wajib menyelesaikan masalah keluarga, sulit menolak permintaan, dan menempatkan kebutuhan diri di urutan paling akhir. Sebagian dari mereka kemudian terjebak menjadi generasi sandwich. Ia menanggung adik yang masih sekolah dan orang tua yang menua, sekaligus, tanpa pernah benar-benar punya waktu untuk membangun hidupnya sendiri. Ironinya, pola asuh yang membuat mereka demikian sering justru disebut sebagai bukti bahwa mereka "dibesarkan dengan baik".
Kita perlu jujur mengakui bahwa ini bukan soal kedewasaan, melainkan soal orang tua yang gagal menjalankan fungsinya dan menitipkan kegagalan itu kepada anak yang kebetulan lahir lebih dulu. Status sebagai anak pertama bukan kontrak kerja pengasuhan. Tidak ada keharusan moral yang mewajibkan seorang anak menjadi penopang adik-adiknya hanya karena urutan kelahiran. Kalau memang dibutuhkan bantuan dari anak yang lebih besar, itu pun harus berada dalam batas wajar, sesuai usia, dan tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua, bukan dialihkan begitu saja dengan dalih melatih kemandirian.
Yang perlu diubah pertama-tama bukan hanya pola asuh di rumah, tetapi juga cara kita sebagai publik merespons konten semacam itu di media sosial. Berhenti memuji anak kecil yang mengasuh adiknya seolah itu pencapaian membanggakan. Sebaliknya, mulai bertanya: kenapa beban itu jatuh ke pundak seorang anak? Pertanyaan sederhana ini penting, sebab cara kita memberi tepuk tangan turut menentukan standar apa yang dianggap normal oleh generasi orang tua selanjutnya.
Anak sulung boleh diajari tanggung jawab, tapi tidak seharusnya dijadikan cadangan ketika orang tua merasa lelah atau tidak mampu. Sebab pada akhirnya, seorang kakak tetaplah anak-anak yang juga berhak dijaga, bukan satu-satunya yang menjaga.
