Wajah Dipilih, Jejak Ditinggalkan: Menyelami Sunyi dan Etika di Balik Layar

Mahasiswa Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Retina Dwikalida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada era yang semakin terhubung, kita sering merasa bahwa dunia berada di ujung jari. Dengan satu sentuhan, kita bisa hadir di berbagai ruang, berbincang dengan siapa saja, dan menjadi siapa pun. Namun, di balik kemudahan yang menenangkan itu, ada satu pertanyaan yang sering luput: siapa sebenarnya diri kita ketika cahaya layar menyala?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya ia mengalir panjang seperti lorong sunyi yang tidak terlihat ujungnya. “Wajah” yang kita pilih di ruang digital bukan sekadar foto profil atau nama pengguna. Ia adalah representasi diri yang kita izinkan untuk dilihat—kadang lebih rapi dari kenyataan, kadang lebih rapuh, kadang lebih jujur daripada versi yang berani kita tunjukkan di dunia nyata.
Kominfo melalui Indeks Literasi Digital Nasional 2023 mencatat bahwa 63% anak muda Indonesia membentuk persona digital yang berbeda dari diri aslinya. Alasan utamanya beragam: demi kenyamanan, perlindungan privasi, atau sekadar keinginan untuk mencoba hidup dalam peran lain. Data itu menunjukkan satu hal penting: ruang digital bukan hanya ruang tambahan, melainkan ruang identitas. Namun, setiap pilihan selalu menghasilkan jejak. Jejak dalam bentuk kata yang kita kirimkan, komentar yang kita unggah, nada yang kita gunakan, hingga apa yang sengaja kita diamkan. Dan seperti diingatkan oleh UU ITE, jejak digital tidak sekadar arsip teknis—ia dapat menjadi konsekuensi hukum, moral, dan sosial.
Saya pertama kali memahami hal ini melalui pengalaman bermain di platform permainan daring berbasis roleplay. Berbeda dengan permainan kompetitif biasa, dunia roleplay menuntut pemain untuk mendalami karakter, membangun alur cerita, dan berinteraksi layaknya kehidupan kedua. Di ruang ini, identitas nyata bukan hal utama. Kita tidak ditanya siapa nama asli kita, tinggal di mana, atau apa pekerjaan kita. Yang diuji justru bagaimana kita bersikap: cara berbicara, menyampaikan pendapat, memahami konteks, serta menghargai pemain lain.
Yang mengejutkan, justru di ruang tanpa identitas nyata itulah saya menemukan interaksi digital yang paling beretika. Banyak pemain yang saya temui memiliki wawasan luas, kemampuan komunikasi yang baik, dan kedewasaan yang tercermin dari bagaimana mereka membangun cerita bersama. Tidak sedikit pula yang menjalankan peran dengan totalitas—seolah karakter itu memang bagian dari hidup mereka. Dan di balik itu semua, ada satu nilai yang selalu hadir: rasa saling menghormati.
Saya sering bertanya-tanya mengapa interaksi di ruang permainan berbasis peran bisa terasa lebih tertata dan lebih manusiawi dibanding sebagian besar ruang media sosial. Jawaban yang saya temukan justru sederhana: karena orang-orang yang hadir memahami bahwa kebebasan digital tidak dapat berjalan tanpa etika. Tanpa etika, tidak ada alur cerita. Tanpa alur, tidak ada permainan. Dan tanpa permainan, ruang itu akan runtuh. Kesadaran itu tercipta bukan karena aturan ketat, tetapi karena kebutuhan bersama untuk menjaga kenyamanan ruang yang mereka pilih untuk dihuni.
Di titik inilah nilai etika digital Pancasila terasa relevan. Nilai hormat, tanggung jawab, integritas, dan kesadaran sosial bukan hanya jargon, tetapi prinsip praktis yang justru muncul paling jelas di tempat-tempat yang dianggap “sekadar hiburan”. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan platform, melainkan kemampuan menjaga ruang agar tetap manusiawi. Menariknya, pengalaman di dunia roleplay justru membuat saya lebih memahami bahwa etika tidak hanya diperlukan di ruang formal seperti perkuliahan atau pekerjaan, tetapi juga di ruang bermain.
Walau demikian, saya tidak menutup mata terhadap risiko. Ruang digital tetap menyimpan sisi gelapnya. Ada kalanya seseorang memanfaatkan anonimitas untuk bersikap kasar, memprovokasi, atau merusak cerita yang sudah dibangun bersama. Ada momen ketika suasana permainan berubah tegang hanya karena satu pemain gagal memahami konteks. Dunia digital yang menawarkan kebebasan, kadang justru membuat beberapa orang lupa bahwa mereka sedang berinteraksi dengan manusia lain—manusia yang punya perasaan, batasan, dan kenyamanan.
Menurut laporan APJII 2023, 88% interaksi digital anak muda Indonesia berdampak langsung pada kehidupan nyata, baik dalam hal reputasi, kepercayaan, maupun relasi sosial. Fakta ini memperjelas bahwa ruang digital sebenarnya tidak pernah sepenuhnya “terpisah”. Apa yang kita lakukan di dalamnya, sekecil apa pun, tetap membawa konsekuensi dalam dunia nyata. Hal ini mengingatkan saya pada petuah Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Nilai itu kini relevan bukan hanya saat memimpin di dunia nyata, tetapi juga ketika kita hadir dalam bentuk avatar atau nama samaran di layar.
Melalui perjalanan kecil itu, saya belajar bahwa dunia digital—betapapun samar bentuknya—tetap membutuhkan sisi manusiawi. Kita boleh memilih wajah yang ingin kita tunjukkan, tetapi jejak yang kita tinggalkan selalu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. Pada akhirnya, dunia digital mungkin hanya ruang tambahan. Namun bagi saya, ia adalah ruang belajar: ruang untuk memahami bagaimana manusia bersikap ketika diberi kebebasan penuh, ruang untuk menyadari bahwa etika adalah pijakan yang membuat setiap interaksi menjadi berarti.
Kita tidak bisa mengendalikan seluruh dunia digital. Tetapi kita selalu bisa mengendalikan cara kita hadir di dalamnya. Wajah yang kita pilih mungkin berbeda-beda, tetapi jejak yang kita tinggalkan—itulah yang pada akhirnya berbicara paling jujur tentang siapa kita.
