Demokratisasi Moneter, Uang Adalah Hak Pengetahuan Publik

Founder grl-capital.com. Penulis Sistem Fiat Panduan Untuk Pemula, founder channel Belajar Fungsi Uang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita terbiasa menganggap demokrasi sebagai persoalan politik. Kita membicarakan pemilu, hak memilih, kebebasan berpendapat, representasi masyarakat, dan bagaimana kekuasaan negara seharusnya diawasi oleh publik. Namun ada satu wilayah yang sangat menentukan kehidupan masyarakat tetapi jarang dibicarakan dalam kerangka demokrasi, yaitu uang dan sistem moneter. Hampir seluruh aktivitas ekonomi kita menggunakan uang sebagai medianya. Harga barang ditentukan dalam uang, upah dibayarkan dalam uang, utang dihitung dalam uang, pajak dibayarkan dalam uang, aset dinilai dalam uang, dan berbagai kontrak ekonomi masa depan juga menggunakan uang sebagai dasar perhitungan. Jika uang mempunyai peran sebesar itu dalam kehidupan masyarakat, maka pengetahuan mengenai bagaimana uang diciptakan dan bagaimana uang menjalankan berbagai fungsinya seharusnya tidak hanya menjadi urusan teknokrat, bank, atau ekonom.

Di sinilah gagasan demokrasi moneter menjadi penting. Demokrasi moneter bukan berarti setiap orang harus mempunyai kemampuan menciptakan uang atau setiap keputusan bank sentral harus ditentukan melalui pemungutan suara. Demokrasi moneter lebih sederhana tetapi sekaligus lebih mendasar, yaitu masyarakat mempunyai hak untuk memahami sistem moneter yang menentukan sebagian besar hubungan ekonomi dalam kehidupannya. Selama ini penciptaan uang sering diperlakukan sebagai persoalan teknis yang terlalu rumit untuk dibicarakan secara luas, sehingga masyarakat lebih banyak mengenal uang dari sisi penggunaannya daripada dari sisi penciptaannya. Kita tahu bagaimana membelanjakan uang, tetapi tidak selalu memahami bagaimana uang muncul di dalam sistem dan bagaimana penciptaan tersebut kemudian memengaruhi kehidupan ekonomi.
Pendekatan melalui 50 fungsi uang dapat membuka persoalan tersebut dengan cara yang berbeda. Lima puluh fungsi uang tidak perlu dipahami sebagai daftar panjang yang harus dihafalkan, tetapi sebagai kaca mata untuk melihat apa yang terjadi setelah uang diciptakan. Ketika uang diciptakan, ia tidak berhenti sebagai tambahan jumlah alat pembayaran. Uang kemudian menjalankan berbagai fungsi yang menghubungkan aktivitas ekonomi, hubungan sosial, institusi, dan kekuasaan. Ia dapat menjadi alat pertukaran, satuan hitung, penyimpan nilai, dasar kredit, alat pembayaran kewajiban, dasar kontrak, media pemindahan nilai, sarana akumulasi, dan berbagai fungsi lainnya. Karena itu, semakin luas kita memahami fungsi uang, semakin luas pula kita dapat melihat konsekuensi dari proses penciptaan uang.
Cara pandang ini penting karena penciptaan uang sering kali dibicarakan hanya melalui jumlahnya. Kita bertanya apakah uang beredar meningkat, apakah inflasi naik, apakah suku bunga turun atau naik, tetapi jarang melihat apa yang terjadi setelah uang tersebut diciptakan. Padahal uang yang baru diciptakan akan masuk melalui saluran tertentu dan kemudian menjalankan fungsi tertentu. Ketika masuk melalui kredit, ia menciptakan hubungan antara kreditur dan debitur. Ketika digunakan untuk membeli aset, ia dapat memengaruhi harga dan kepemilikan aset. Ketika digunakan untuk membiayai produksi, ia dapat memperbesar kapasitas ekonomi. Ketika digunakan untuk konsumsi, ia memengaruhi permintaan. Ketika digunakan untuk membayar kewajiban kepada negara, ia menjadi bagian dari hubungan fiskal antara negara dan masyarakat. Dengan demikian, penciptaan uang selalu memiliki konsekuensi yang bergantung pada fungsi yang kemudian dijalankan oleh uang tersebut.
Dari sini terlihat bahwa penciptaan uang juga mempunyai persoalan distribusi. Uang baru tidak masuk kepada seluruh masyarakat secara bersamaan dan melalui saluran yang sama. Ada pihak yang memperoleh akses melalui kredit, ada yang menerima melalui pendapatan, ada yang memperoleh melalui transaksi aset, dan ada yang baru berhadapan dengan dampaknya ketika perubahan harga sudah terjadi. Karena posisi setiap pihak berbeda, dampak penciptaan uang juga tidak mungkin selalu sama. Orang yang mempunyai akses terhadap kredit dan modal berada dalam posisi yang berbeda dengan orang yang hanya mengandalkan pendapatan tetap. Pemilik aset berada dalam posisi berbeda dengan mereka yang menyimpan sebagian besar kekayaannya dalam bentuk uang. Debitur berada dalam posisi berbeda dengan kreditur. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sistem moneter bukan hanya mekanisme teknis untuk mempermudah transaksi, tetapi juga salah satu mekanisme yang ikut menentukan distribusi kesempatan ekonomi.
Pada titik ini uang mulai terlihat sebagai persoalan kekuasaan. Siapa yang mempunyai akses terhadap uang dan kredit memiliki kemampuan yang berbeda untuk menggunakan sumber daya ekonomi. Kemampuan memperoleh pembiayaan dapat menentukan siapa yang mampu membeli aset, membangun usaha, memperluas produksi, atau bertahan ketika kondisi ekonomi memburuk. Karena itu, ketika kita membicarakan penciptaan uang, sebenarnya kita juga sedang membicarakan bagaimana daya beli dan kemampuan ekonomi didistribusikan di dalam masyarakat. Inilah alasan mengapa sistem moneter tidak seharusnya dianggap terlalu teknis untuk menjadi pembicaraan publik.
Demokrasi moneter berarti membuka ruang agar masyarakat memahami hubungan tersebut. Masyarakat tidak harus menjadi ahli kebijakan moneter untuk dapat memahami bagaimana uang diciptakan. Mereka tidak perlu menguasai seluruh mekanisme pasar keuangan untuk dapat mempertanyakan siapa yang mendapatkan manfaat dari penciptaan uang dan siapa yang menanggung konsekuensinya. Mereka juga tidak harus memiliki pandangan yang sama mengenai sistem moneter. Justru demokrasi membutuhkan ruang bagi perbedaan pandangan, selama perbedaan tersebut dibangun dari pemahaman yang cukup mengenai sistem yang sedang diperdebatkan.
Di sinilah 50 fungsi uang mempunyai peran penting. Dengan melihat berbagai fungsi uang secara bersamaan, kita dapat memahami bahwa penciptaan uang bukan hanya persoalan menambah alat tukar, tetapi proses yang kemudian menghasilkan berbagai hubungan ekonomi. Uang dapat menjadi klaim terhadap sumber daya, menjadi kewajiban yang harus dibayar, menjadi dasar kontrak, menjadi alat untuk memindahkan daya beli melalui waktu, menjadi instrumen akumulasi, dan menjadi bagian dari hubungan antara negara, institusi keuangan, perusahaan, dan masyarakat. Semakin banyak fungsi yang kita lihat, semakin jelas pula bahwa penciptaan uang mempunyai dampak yang jauh lebih luas daripada angka jumlah uang beredar.
Karena itu, demokrasi moneter pada dasarnya adalah persoalan demokratisasi pengetahuan. Selama masyarakat hanya memahami bagaimana menggunakan uang sementara mekanisme penciptaan dan fungsi uang hanya dipahami oleh kelompok tertentu, maka terdapat kesenjangan pengetahuan yang besar di dalam sistem moneter. Masyarakat menerima manfaat sekaligus menanggung konsekuensi dari sistem tersebut, tetapi tidak selalu mempunyai kemampuan untuk membaca proses yang menghasilkan manfaat dan konsekuensi itu. Demokrasi politik dapat memberikan masyarakat hak untuk memilih pemerintah, tetapi hak tersebut tidak otomatis membuat masyarakat memahami bagaimana sistem moneter bekerja.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena perubahan moneter dapat berlangsung tanpa terlihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat mungkin hanya melihat harga rumah yang semakin mahal, biaya hidup yang meningkat, akses kredit yang berubah, harga aset yang bergerak, atau nilai mata uang yang mengalami perubahan. Semua fenomena tersebut sering dianggap sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, padahal dapat memiliki hubungan dengan bagaimana uang diciptakan, ke mana uang tersebut mengalir, dan fungsi apa yang dijalankannya setelah masuk ke dalam sistem. Dengan memahami fungsi uang, masyarakat mempunyai kesempatan untuk melihat hubungan yang sebelumnya tampak terpisah.
Karena itu, saya melihat 50 fungsi uang bukan sebagai tujuan akhir dari pembelajaran moneter, melainkan sebagai alat untuk membangun cara pandang yang lebih demokratis terhadap uang. Yang penting bukan menghafal lima puluh fungsi tersebut, tetapi menggunakan fungsi-fungsi itu untuk mengajukan pertanyaan terhadap proses penciptaan uang. Ketika uang diciptakan, siapa yang memperoleh akses pertama? Fungsi apa yang dijalankannya? Hubungan ekonomi apa yang terbentuk? Klaim dan kewajiban apa yang muncul? Bagaimana uang tersebut berpindah? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang menanggung risiko? Dan bagaimana seluruh proses tersebut akhirnya memengaruhi distribusi sumber daya dalam masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari pemahaman uang sebagai benda dan membawa kita menuju pemahaman uang sebagai sistem. Uang bukan hanya sesuatu yang kita pegang atau kita simpan, tetapi sebuah mekanisme yang menghubungkan nilai, waktu, utang, kredit, aset, produksi, konsumsi, negara, dan masyarakat. Ketika kita memahami berbagai fungsi tersebut, kita mulai melihat bahwa penciptaan uang pada akhirnya merupakan proses yang memiliki konsekuensi sosial dan politik, bukan hanya konsekuensi ekonomi.
Menurut saya, inilah alasan demokrasi moneter perlu mulai menjadi bagian dari percakapan publik. Masyarakat tidak harus diberikan kemampuan untuk menciptakan uang, tetapi masyarakat harus diberikan kemampuan untuk memahami bagaimana uang diciptakan dan apa yang terjadi setelahnya. Pengetahuan tersebut akan membuat masyarakat mampu menilai sistem moneter bukan hanya berdasarkan kepercayaan terhadap institusi, tetapi berdasarkan pemahaman terhadap fungsi dan konsekuensinya.
Pada akhirnya, demokrasi moneter bukanlah tuntutan agar semua orang menjadi ahli ekonomi. Demokrasi moneter adalah tuntutan agar uang, sebagai sesuatu yang sangat menentukan kehidupan masyarakat, tidak menjadi wilayah pengetahuan yang hanya dapat dipahami oleh segelintir orang. Lima puluh fungsi uang memberikan salah satu cara untuk membuka wilayah tersebut karena melalui fungsi-fungsi itu kita dapat melihat bagaimana penciptaan uang kemudian bekerja dalam kehidupan ekonomi dan bagaimana proses tersebut dapat memengaruhi distribusi daya beli, kekayaan, kesempatan, dan kekuasaan.
Jika demokrasi berarti masyarakat mempunyai hak untuk memahami sistem yang memengaruhi kehidupannya, maka pengetahuan mengenai uang seharusnya menjadi bagian dari hak tersebut. Kita tidak cukup hanya mempunyai hak untuk memilih siapa yang memerintah, tetapi juga perlu memahami sistem moneter yang membuat pemerintah, perusahaan, bank, dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonominya. Sebab pada akhirnya, masyarakat bukan hanya hidup di dalam sistem politik, tetapi juga hidup di dalam sistem moneter. Dan selama sistem moneter menentukan begitu banyak aspek kehidupan, memahami bagaimana uang diciptakan dan bagaimana berbagai fungsi uang bekerja merupakan salah satu syarat agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna uang, tetapi juga menjadi masyarakat yang sadar secara moneter.
Penulis adalah praktisi berpengalaman dalam pengelolaan dana abadi (endowment fund), dana pensiun, dana sosial , asuransi sosial, serta peneliti bidang pembangunan berkelanjutan sejak 2004. Untuk pembelajaran lebih lanjut bisa mengunjungi website grl-capital.com.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membuat keputusan
