Frustrasi Karena Uang

Founder grl-capital.com. Penulis Sistem Fiat Panduan Untuk Pemula, founder channel Belajar Fungsi Uang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita hidup hampir setiap hari bersama uang, tetapi anehnya sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar memahami bagaimana uang bekerja. Kita menggunakan uang untuk membeli makanan, membayar rumah, membayar sekolah, menggaji karyawan, menabung, berutang, berinvestasi, bahkan mengukur keberhasilan hidup. Namun ketika uang menjadi masalah, kita sering hanya melihat akibatnya. Harga naik, pendapatan terasa tidak cukup, cicilan semakin berat, tabungan tidak bertambah, biaya pendidikan semakin mahal, sementara kebutuhan hidup terus berkembang. Dari sana lahir sebuah perasaan yang sangat umum: frustrasi karena uang. Kita merasa sudah bekerja keras tetapi tetap kekurangan, sudah menabung tetapi nilainya terasa berkurang, sudah berusaha meningkatkan pendapatan tetapi selalu ada kebutuhan baru yang mengejar. Kita kemudian menganggap persoalannya adalah diri kita sendiri. Kurang bekerja keras, kurang pintar mengatur uang, kurang disiplin, atau kurang beruntung. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar yang jarang kita ajukan: sebenarnya uang itu bekerja dengan cara seperti apa?
Kita diajarkan bagaimana mendapatkan uang, tetapi hampir tidak pernah diajarkan bagaimana uang diciptakan. Kita diajarkan untuk mencari pekerjaan, membangun usaha, menabung dan berinvestasi, tetapi jarang diajak memahami dari mana uang yang kita gunakan berasal sebelum sampai ke tangan kita. Kita mengenal uang sebagai lembaran kertas, angka di rekening bank, saldo dalam aplikasi, atau nominal yang tercetak pada harga barang. Kita melihat bentuk akhirnya, tetapi tidak melihat proses yang melahirkannya. Akibatnya, kita sering memperlakukan uang seolah-olah jumlahnya sudah tersedia di luar sana dan tugas kita hanyalah berebut mendapatkannya. Jika seseorang mendapatkan lebih banyak, kita menganggap orang lain otomatis mendapatkan lebih sedikit. Jika harga naik, kita menganggap pedagang sebagai penyebab utama. Jika gaji tidak cukup, kita menyalahkan pendapatan. Jika utang bertambah, kita menyalahkan keputusan pribadi. Kita sibuk memperbaiki posisi kita di dalam sistem tanpa memahami bagaimana sistem itu sendiri menghasilkan uang, mendistribusikannya dan menentukan siapa yang pertama kali dapat menggunakannya.

Di sinilah sumber frustrasi yang lebih dalam sebenarnya berada. Uang bukan sekadar alat tukar yang berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Uang adalah bagian dari sebuah sistem yang memiliki aturan, institusi, mekanisme penciptaan dan struktur kekuasaan. Ketika kita menerima uang dari hasil bekerja, uang itu sudah melewati proses yang panjang sebelum sampai kepada kita. Ketika sebuah perusahaan mendapatkan kredit dari bank, ketika pemerintah membelanjakan anggaran, ketika bank menciptakan kredit baru, ketika aset keuangan diterbitkan, semuanya berkaitan dengan bagaimana klaim atas sumber daya ekonomi dibentuk dan dipindahkan. Dengan memahami proses tersebut, kita mulai melihat bahwa pertanyaan tentang uang sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi juga tentang siapa yang dapat menciptakannya, melalui mekanisme apa, berdasarkan jaminan apa, dan siapa yang memperoleh akses terlebih dahulu.
Persoalan menjadi semakin menarik ketika kita menyadari bahwa tidak semua orang memasuki sistem moneter dari pintu yang sama. Ada pihak yang memperoleh akses terhadap uang baru melalui kredit, ada yang memperoleh uang melalui transaksi ekonomi, ada yang memperoleh keuntungan dari kepemilikan aset, dan ada pula yang baru mendapatkan uang setelah menjual waktu dan tenaganya. Uang yang sama dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang karena posisi seseorang dalam proses penciptaan dan distribusi uang juga berbeda. Seseorang yang memperoleh akses terhadap kredit ketika harga aset masih rendah memiliki kesempatan yang berbeda dengan seseorang yang baru memperoleh pendapatan setelah harga aset tersebut meningkat. Karena itu, kesenjangan ekonomi tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui perbedaan kerja keras atau kemampuan mengelola keuangan. Ada struktur moneter yang ikut menentukan bagaimana kesempatan ekonomi terbentuk.
Pertanyaan berikutnya bahkan lebih mendasar: siapa yang memiliki hak untuk menciptakan uang? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membayangkan bahwa uang adalah sesuatu yang diciptakan oleh negara dan kemudian diedarkan kepada masyarakat. Gambaran tersebut terlalu sederhana. Dalam sistem moneter modern, penciptaan uang melibatkan bank sentral, perbankan komersial, sistem kredit, instrumen keuangan dan berbagai mekanisme kelembagaan lainnya. Ketika bank memberikan kredit, misalnya, proses tersebut dapat menciptakan simpanan baru dalam sistem perbankan. Artinya, sebagian uang yang kita gunakan dalam ekonomi bukan sekadar uang yang sebelumnya sudah ada lalu dipindahkan, melainkan muncul melalui hubungan kredit dan pencatatan neraca. Uang dapat lahir karena adanya klaim terhadap masa depan.
Di titik ini, kita mulai memahami mengapa kredit begitu penting dalam kehidupan modern. Ketika seseorang meminjam uang untuk membeli rumah, uang tersebut bukan hanya memindahkan daya beli dari satu orang kepada orang lain. Kredit menciptakan hubungan antara masa sekarang dan masa depan. Rumah dapat dibeli hari ini dengan pendapatan yang belum sepenuhnya diperoleh. Bisnis dapat membangun pabrik hari ini dengan pendapatan yang diharapkan muncul bertahun-tahun kemudian. Pemerintah dapat membiayai pengeluaran hari ini dengan kewajiban yang akan ditanggung kemudian. Sistem ini memungkinkan aktivitas ekonomi berlangsung jauh lebih cepat daripada jika semua transaksi harus menunggu tabungan yang sudah tersedia. Tetapi kemampuan menciptakan uang melalui kredit juga berarti bahwa keputusan tentang siapa yang memperoleh kredit menjadi sangat penting. Akses terhadap uang baru tidak pernah benar-benar netral karena akses tersebut menentukan siapa yang dapat menggunakan daya beli sebelum orang lain.
Di sinilah masyarakat sering mengalami kebingungan. Kita merasa sedang berkompetisi dalam pasar, padahal sebagian dari kompetisi itu berlangsung di atas struktur moneter yang tidak pernah kita pelajari. Kita berkompetisi mendapatkan rumah ketika kredit tersedia dalam jumlah besar. Kita berkompetisi mendapatkan aset ketika likuiditas meningkat. Kita berusaha mengejar harga barang yang berubah karena kondisi moneter. Kita menuntut kenaikan gaji karena biaya hidup meningkat, sementara perusahaan juga menghadapi perubahan biaya modal dan permintaan. Pada akhirnya setiap orang merasakan tekanan dari sisi yang berbeda. Pekerja merasa pendapatannya tertinggal. Pengusaha merasa biaya meningkat. Pemilik aset melihat harga bergerak. Penabung merasa daya belinya tergerus. Peminjam mungkin merasa terbantu oleh akses terhadap kredit, tetapi kemudian harus menghadapi kewajiban pembayaran. Semua orang berhadapan dengan uang yang sama, tetapi tidak selalu dengan posisi yang sama.
Karena itu, frustrasi karena uang sering kali merupakan frustrasi karena ketidaktahuan. Bukan ketidaktahuan dalam arti seseorang tidak tahu cara menggunakan uang, melainkan tidak memahami arsitektur yang membuat uang dapat memiliki nilai, bergerak, bertambah dan berkurang. Kita bisa sangat disiplin mencatat pengeluaran tetapi tetap tidak memahami mengapa harga berubah. Kita bisa rajin menabung tetapi tidak memahami hubungan antara jumlah uang, kredit, produktivitas dan daya beli. Kita bisa bekerja lebih keras tetapi tidak memahami mengapa pertumbuhan pendapatan tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan harga aset dan biaya hidup. Kita bisa memiliki strategi investasi tetapi tidak memahami bagaimana perubahan sistem moneter memengaruhi seluruh kelas aset. Akibatnya kita terus memperbaiki perilaku pribadi untuk menghadapi masalah yang sebagian sumbernya berada pada tingkat sistem.
Memahami uang kemudian menjadi jauh lebih penting daripada sekadar belajar menghemat uang. Kita perlu mengetahui bagaimana uang diciptakan, siapa yang berhak menerbitkannya, bagaimana kredit memperluas jumlah uang, bagaimana uang masuk ke dalam ekonomi, bagaimana ia berpindah dari satu sektor ke sektor lain, dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi harga serta perilaku manusia. Kita juga perlu memahami bahwa setiap bentuk uang membawa seperangkat aturan dan konsekuensi. Uang bukan benda yang sepenuhnya netral. Ia adalah sebuah institusi sosial yang menentukan bagaimana klaim terhadap sumber daya ekonomi dapat dicatat, dipindahkan dan diselesaikan.
Ketika pemahaman itu mulai terbentuk, hubungan kita dengan uang juga berubah. Kita tidak lagi melihat setiap persoalan finansial sebagai kegagalan pribadi. Kita mulai membedakan antara masalah pendapatan, masalah harga, masalah utang, masalah akses terhadap kredit, masalah distribusi dan masalah desain moneter. Kita juga mulai bertanya lebih kritis tentang siapa yang mendapatkan manfaat dari proses penciptaan uang dan siapa yang harus menanggung konsekuensinya. Pertanyaan tersebut bukan berarti kita harus mencari pihak yang dapat disalahkan atas setiap kesulitan ekonomi. Justru sebaliknya, pertanyaan itu membuat kita mampu melihat sistem secara lebih utuh.
Pada akhirnya, mungkin masalah terbesar kita bukan kekurangan uang, melainkan terlalu sedikit memahami uang yang kita gunakan. Kita menghabiskan sebagian besar hidup untuk memperoleh sesuatu yang mekanismenya tidak pernah benar-benar kita pelajari. Kita bekerja untuk mendapatkan uang, menyimpan uang, meminjam uang dan membelanjakan uang, tetapi jarang berhenti untuk bertanya siapa yang menciptakannya dan berdasarkan aturan apa. Selama uang hanya kita lihat sebagai angka di rekening atau lembaran yang berpindah tangan, frustrasi akan terus muncul setiap kali realitas ekonomi tidak sesuai dengan harapan kita. Tetapi ketika kita mulai memahami uang sebagai sebuah sistem penciptaan klaim, kredit, informasi, koordinasi dan alokasi sumber daya, kita tidak hanya belajar bagaimana menggunakan uang. Kita mulai memahami lingkungan tempat seluruh keputusan ekonomi kita berlangsung. Dan mungkin di situlah langkah pertama untuk mengurangi frustrasi karena uang dimulai: bukan dengan mencari lebih banyak uang terlebih dahulu, tetapi dengan memahami uang yang sudah kita gunakan setiap hari.
Penulis adalah praktisi berpengalaman dalam pengelolaan dana abadi (endowment fund), dana pensiun, dana sosial , asuransi sosial, serta peneliti bidang pembangunan berkelanjutan sejak 2004. Untuk pembelajaran lebih lanjut bisa mengunjungi website grl-capital.com.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membuat keputusan
