Konten dari Pengguna

'Minangcabo' ke Kaisaran di Nusantara

Realino Nurza

Realino Nurza

#Founder grl-capital.com #Penulis Sistem Fiat Panduan Untuk Pemula

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexel.com (Arsitektur Minangkabau).
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexel.com (Arsitektur Minangkabau).

Manuskrip yang disebut sebagai Oendang-Oendang Adat Limbago merupakan sebuah manuskrip yang memberikan keterbaruan Informasi dan data bagi para peneliti dan peminat naskah kuno, sejarahwan, serta anak anak keturunan Minangkabau yang sedang mencari garis identitas serta kepastian asal usul.

Manuskrip yang diteliti diantaranya Naskah Tambo, Oendang Oendang, Adat, dan Limbago, serta Silsilah dengan kode naskah Or.12.82 disalin ulang oleh Sultan Abdul Majid Gagar Alam pada tahun 1856 Masehi. (Gatra 28 Juni 2021)

Tulisan yang terbit pada waktu lalu di media Gatra, memberikan sebuah kesan tentang belum selesainya perjalanan mencari jati diri bangsa. Serta pentingnya melihat garis yang lebih jauh dari keterhubungan sejarah nusantara. Sering kita melihat identitas yang begitu kuat bagi para perantauan Minang yang walaupun mereka berasal dari kawasan geografis yang dalam sejarah mereka menyatakan ada kerajaan tersendiri hidup di negeri mereka. Tetap mereka melabelkan diri sebagai perantau minang asal daerah tertentu. Dengan kesan yang timbul dari pemerhati seperti kita adalah kuatnya ikatan identitas serta partisipasi pada identitas tersebut.

Dalam sisi modern serta psikologi perantau, penulis melihat bahwa garis identitas sering terkunci pada sebuah suku, nagari serta daerah geografis. Di mana identitas yang lebih luas, yang membentuk kehadiran suku, nagari dan daerah geografis lebih pada sejarah yang terbentuk setelah abad ke 17, di mana pengaruh kuat kolonial menyebabkan identitas dari waktu yang lebih awal tidak muncul. Selain disebabkan sumber dokumen dokumen terkait bukti bukti sejarah masih tersimpan dalam koleksi museum atau perpustakaan negara negara kolonial tersebut.

Siapa yang menyangka, bahwa kemunculan Oendang-Oendang Adat Limbago membuka ranah serta kazanah baru bagi para peneliti, untuk menggali lebih dalam serta memburu manuskrip manuskrip yang akan membantu kita melihat identitas kebangsaan kita sebagai bagian dari nusantara yang tidak terpisahkan. Cerita rakyat yang dituliskan dalam Tambo menjadi acuan banyak orang dari akademisi sampai budayawan, serta masyarakat banyak. Sementara, dalam kenyataanya, ada kelangkaan sumber yang bisa membantu Masayarakat Minangkabau lebih paham bagaimana dalam sejarah mereka pernah menjadi satu satunya Ke "Kaisaran di Nusantara" dengan pengaruh yang sangat jauh, serta dengan pengetahuan akan "Ketatanegaraan" yang adaptif serta berorientasi pada distribusi kesejahteraan. (Kekaisaran Minagcabo).

Selain itu, temuan temuan baru berbasis dokumen yang semakin menguatkan keberadaan kekaisaran ini adalah kemunculan atlas Catalan (Fosil73) yang dieksplorasi oleh arkeolog nasional Alfa Noranda melalui blog pribadinya. Di mana terlihat gambar seseorang yang diduga Adityawarman. seperti dikutip:

Pada Atlas Catalan terdapat juga gambar seorang Raja Bermahkota yang sedang duduk diatas Lapik. Tokoh Raja yang duduk di Trapobana ini cukup menarik untuk ditelusuri, peta yang dibuat dalam rentang tahun 1370an Masehi ini mengidentifikasi ada seorang raja yang menguasai pulau tersebut. Sebagaimana yang diketahui pada rentang tahun 1347 sampai dengan 1375 Penguasa Pulau Emas/Svarnnadwipa di Swarnnabhuni adalah Adityawarman bergelar Udayadityavarman (or Adityavarmodaya) Pratapaparakramarajendra Maulimalivarmadewa6. Sehingga sangat mungkin dalam peta tersebut gambar Raja tersebut adalah Gambar dari Adityawarman.

Lalu, apa selanjutnya? Tulisan ini adalah bagian dari cara memanggil bagi para pecinta sejarah, peneliti, budayawan, dan orang banyak, mungkin ini waktunya bagi kita kembali menalar ulang, akan eksistensi kita melalui bukti bukti yang mungkin saja masih tersimpan di museum atau perpustakaan nun jauh di sana. Dan membuat kita sulit memastikan bahwa kita adalah negara bangsa yang memiliki keterikatan persaudaraan serta pernah berjaya dalam membangun nilai nilai ke-Nusantaraan yang semakin terlupakan.