Konten dari Pengguna

Paradoks Perilaku dan Pikiran dalam Komunitas Bitcoin

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengaku Proletar, Padahal Sudah Elite: Paradoks Komunitas Bitcoin Indonesia

Ada paradoks menarik dalam komunitas Bitcoin Indonesia. Di satu sisi, Bitcoin sering dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem keuangan yang dianggap terlalu terpusat. Negara, bank sentral, bank komersial, dan sistem fiat sering ditempatkan sebagai bagian dari struktur yang membuat masyarakat bergantung pada lembaga tertentu.

Di sisi lain, sebagian orang yang paling keras mengkritik struktur tersebut justru perlahan mengalami perubahan posisi ekonomi. Mereka memiliki Bitcoin dalam jumlah besar, mempunyai bisnis, membangun jaringan, memiliki akses informasi yang lebih baik, dan mampu mengalokasikan modal untuk investasi jangka panjang.

Secara ekonomi, mereka mungkin sudah tidak berada pada posisi yang sama dengan masyarakat kebanyakan. Namun secara identitas, mereka masih merasa sebagai orang kecil yang sedang melawan elite.

Di situlah paradoksnya.

Bitcoin sejak awal memang memiliki daya tarik yang kuat bagi mereka yang merasa tidak memiliki kendali terhadap sistem keuangan. Bitcoin menawarkan gagasan bahwa seseorang dapat menyimpan dan memindahkan kekayaan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada bank. Tidak ada bank sentral yang dapat dengan mudah menambah jumlah Bitcoin sesuai kebutuhan politik. Tidak ada satu lembaga yang dapat begitu saja mengubah aturan jaringan.

Gagasan tersebut sangat mudah diterima sebagai narasi pembebasan.

Masalahnya muncul ketika Bitcoin berhasil mengubah posisi ekonomi seseorang.

sumber foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/mobil-mainan-kuning-97355/

Seseorang yang pada awalnya membeli Bitcoin dengan jumlah kecil mungkin melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok yang sedang melawan sistem. Tetapi jika Bitcoin kemudian mengalami kenaikan nilai dan aset tersebut menjadi bagian besar dari kekayaannya, posisi sosial orang tersebut ikut berubah.

Ia bukan lagi sekadar pengguna sistem alternatif.

Ia sudah menjadi pemilik modal.

Perubahan ini sering kali tidak disadari. Identitas seseorang biasanya bergerak lebih lambat daripada kondisi ekonominya. Cara seseorang melihat dirinya dibentuk oleh pengalaman masa lalu. Jika dahulu ia merasa tidak memiliki akses terhadap kekayaan, ia akan tetap membawa pengalaman tersebut meskipun kondisi ekonominya sudah berubah.

Akibatnya muncul situasi yang agak aneh.

Seseorang bisa memiliki aset bernilai miliaran rupiah, memiliki bisnis, memiliki jaringan luas, dan mempunyai kemampuan mengambil risiko yang tidak dimiliki kebanyakan masyarakat, tetapi masih menggunakan bahasa “orang kecil melawan elite”.

Tentu saja memiliki kekayaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi elite. Tetapi elite juga tidak selalu berarti pejabat negara, konglomerat, atau pemilik perusahaan raksasa.

Elite dapat dipahami secara lebih sederhana sebagai kelompok yang memiliki akses terhadap sumber daya jauh lebih besar dibandingkan kelompok lain.

Dalam pengertian tersebut, seseorang yang memiliki modal besar, informasi yang lebih baik, jaringan bisnis, kemampuan mengakses teknologi, dan kemampuan menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan keuntungan sudah memiliki posisi yang berbeda dari masyarakat yang hidup dari penghasilan bulanan.

Bitcoin dapat mempercepat perubahan posisi tersebut.

Di sinilah komunitas Bitcoin Indonesia menjadi menarik untuk diamati. Sebagian anggotanya mungkin masuk ke dalam Bitcoin karena merasa menjadi korban sistem fiat. Mereka melihat inflasi menggerus daya beli, melihat utang terus bertambah, dan melihat bagaimana kebijakan moneter dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.

Kemudian mereka menemukan Bitcoin.

Bitcoin menjadi semacam jalan keluar.

Tetapi ketika jalan keluar tersebut berhasil, pertanyaan baru muncul: apa yang dilakukan setelah seseorang berhasil keluar?

Apakah ia ingin membangun sistem yang lebih terbuka, atau sekadar ingin berada di posisi yang lebih menguntungkan dalam sistem baru?

Ini adalah perbedaan yang sangat penting.

Sebab seseorang bisa menolak elite bukan karena menolak adanya elite, melainkan karena dirinya belum menjadi elite.

Ketika sudah memperoleh kekayaan dan kekuasaan, sikap tersebut bisa berubah.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang hanya terjadi di komunitas Bitcoin. Banyak gerakan sosial mengalami persoalan serupa. Mereka yang awalnya berada di luar struktur kekuasaan dapat masuk ke dalam struktur tersebut setelah memperoleh sumber daya yang cukup.

Pada titik tertentu, orang yang dahulu melawan sistem bisa berubah menjadi bagian dari sistem.

Bitcoin memiliki kemungkinan yang sama.

Bitcoin memang dapat mengubah siapa yang memegang aset. Tetapi perubahan alat tidak otomatis menghapus hierarki sosial.

Jika sebelumnya kekuasaan finansial terkonsentrasi pada bank dan lembaga keuangan, maka dalam ekosistem baru kekuasaan dapat muncul dari kepemilikan Bitcoin, perusahaan, teknologi, informasi, media, komunitas, dan jaringan.

Desentralisasi teknologi tidak selalu berarti desentralisasi kekayaan.

Ini persoalan yang sering luput dari pembicaraan.

Kita bisa memiliki sistem uang yang tidak dikendalikan oleh satu bank sentral, tetapi tetap memiliki masyarakat yang sangat timpang dalam kepemilikan aset. Kita bisa memiliki jaringan yang terbuka bagi siapa saja, tetapi orang yang memiliki modal lebih besar tetap mempunyai kemampuan lebih besar untuk membeli aset, bertahan ketika harga turun, dan mengambil keuntungan ketika harga naik.

Dengan kata lain, Bitcoin dapat mengubah struktur moneter tanpa otomatis mengubah struktur sosial.

Karena itu, ukuran keberhasilan komunitas Bitcoin tidak seharusnya berhenti pada berapa banyak orang yang berhasil menjadi kaya.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah apa yang dilakukan orang setelah menjadi kaya.

Apakah kekayaan tersebut digunakan untuk menciptakan akses yang lebih luas? Apakah digunakan untuk membangun bisnis, pendidikan, dan infrastruktur yang memungkinkan orang lain ikut memperoleh manfaat? Atau hanya digunakan untuk mengakumulasi lebih banyak aset?

Jika yang terjadi hanya akumulasi, maka ada kemungkinan bahwa komunitas Bitcoin hanya sedang menciptakan bentuk elite baru.

Elite lama mungkin menggunakan dolar, bank, obligasi, properti, dan perusahaan sebagai sumber kekuasaan. Elite baru bisa menggunakan Bitcoin, perusahaan Bitcoin, jaringan komunitas, teknologi, dan informasi.

Instrumennya berbeda, tetapi logika kekuasaannya bisa tetap sama.

Di sinilah paradoks perilaku muncul.

Sebagian orang sangat kritis terhadap konsumerisme dan budaya mengejar status. Mereka berbicara mengenai pentingnya hidup di luar sistem, menghindari utang konsumtif, dan tidak menjadi budak uang.

Namun ketika kekayaan bertambah, ukuran keberhasilan mereka sering kembali pada simbol-simbol yang sama: rumah, kendaraan, bisnis, perjalanan, aset, dan status sosial.

Tidak ada yang salah dengan memiliki semua itu.

Yang menarik adalah kontradiksi antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang dijalankan.

Seseorang dapat mengatakan bahwa sistem fiat menciptakan manusia yang mengejar uang, tetapi pada saat yang sama menjadikan jumlah Bitcoin yang dimiliki sebagai ukuran status baru.

Jika sebelumnya orang bertanya, “Berapa gaji kamu?”, sekarang pertanyaannya berubah menjadi, “Berapa Bitcoin yang kamu punya?”

Instrumennya berubah, tetapi perilaku sosialnya belum tentu berubah.

Inilah yang membuat Bitcoin lebih menarik untuk dipelajari sebagai fenomena sosial daripada sekadar aset investasi.

Bitcoin bukan hanya tentang blockchain, harga, atau kelangkaan. Bitcoin juga memperlihatkan bagaimana manusia bereaksi ketika diberikan bentuk kekayaan baru.

Ketika seseorang memperoleh aset yang nilainya meningkat berkali-kali lipat, apakah ia menjadi lebih bebas? Atau justru menjadi semakin terikat pada harga aset tersebut?

Apakah ia benar-benar keluar dari sistem, atau hanya memindahkan ketergantungannya dari satu sistem ke sistem yang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kebebasan finansial tidak sama dengan kekayaan.

Orang yang memiliki banyak aset memang memiliki pilihan lebih banyak. Tetapi semakin besar aset yang dimiliki, semakin besar pula kepentingan untuk mempertahankan aset tersebut.

Pada titik tertentu, orang yang dahulu merasa sebagai pemberontak dapat mulai memiliki kepentingan yang sama dengan kelompok yang dahulu ia kritik: mempertahankan stabilitas kekayaan, mempertahankan jaringan, mempertahankan pengaruh, dan mempertahankan posisi.

Ini bukan berarti Bitcoin gagal.

Justru sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak secara otomatis mengubah manusia.

Bitcoin dapat mengubah aturan permainan uang, tetapi manusia tetap membawa perilaku, ambisi, status, dan naluri akumulasi ke dalam permainan baru tersebut.

Karena itu, tantangan komunitas Bitcoin Indonesia sebenarnya bukan hanya bagaimana membuat semakin banyak orang memiliki Bitcoin. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun budaya baru setelah kepemilikan tersebut bertambah.

Jika Bitcoin hanya menghasilkan perpindahan kekayaan dari pemilik aset lama kepada pemilik Bitcoin baru, maka perubahan yang terjadi mungkin hanya pergantian pemain.

Tetapi jika kekayaan tersebut digunakan untuk membangun akses, menciptakan kesempatan, memperluas literasi, membangun bisnis produktif, dan membuat masyarakat lebih mandiri secara ekonomi, maka Bitcoin dapat memiliki dampak yang lebih dalam.

Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan apakah seseorang masih bisa disebut proletar setelah menjadi kaya.

Persoalannya adalah apakah ia menyadari bahwa dirinya telah berubah.

Sebab seseorang yang terus menganggap dirinya sebagai korban setelah memperoleh kekayaan dan kekuasaan bisa saja tidak sadar bahwa ia sudah berada di sisi lain dari struktur yang dahulu ia kritik.

Di sinilah komunitas Bitcoin perlu bercermin.

Bitcoin mungkin memang dapat mengguncang sistem moneter lama. Tetapi siapa yang akan muncul setelah sistem itu berubah adalah pertanyaan yang berbeda.

Bisa jadi yang lahir bukan masyarakat tanpa elite.

Bisa jadi yang lahir hanyalah elite baru yang menggunakan bahasa revolusi lama.

Dan justru di situlah paradoks terbesar Bitcoin: sebuah gerakan yang dimulai dengan semangat melawan kekuasaan dapat, jika tidak disadari, menghasilkan orang-orang baru yang memiliki kekuasaan tetapi masih merasa dirinya sebagai pemberontak.

Penulis adalah praktisi berpengalaman dalam pengelolaan dana abadi (endowment fund), dana pensiun, dana sosial , asuransi sosial, serta peneliti bidang pembangunan berkelanjutan sejak 2004. Untuk pembelajaran lebih lanjut bisa mengunjungi website grl-capital.com.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membuat keputusan