Pendapatan Rendah, Pendidikan Tinggi

Founder grl-capital.com. Penulis Sistem Fiat Panduan Untuk Pemula, founder channel Belajar Fungsi Uang
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Overeducated Under-Earner
Ada sebuah fenomena yang semakin menarik untuk diperhatikan di Indonesia: semakin banyak orang memperoleh pendidikan tinggi, tetapi pendidikan tersebut tidak selalu menghasilkan peningkatan pendapatan yang sepadan. Gelar bertambah, sertifikat bertambah, kemampuan membaca teori semakin tinggi, tetapi daya beli, kepemilikan aset, keamanan finansial, dan posisi tawar ekonomi tidak selalu ikut meningkat. Fenomena ini dapat disebut sebagai overeducated under-earner, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan, pengetahuan, atau kapasitas intelektual yang relatif tinggi, tetapi memperoleh pendapatan yang rendah dibandingkan dengan ekspektasi ekonomi yang dibangun oleh pendidikan tersebut. Persoalannya bukan sekadar bahwa seorang sarjana mendapatkan gaji yang kecil, melainkan adanya jarak yang semakin lebar antara persepsi seseorang mengenai nilai dirinya, investasi yang telah dikeluarkan untuk pendidikannya, dan imbal hasil ekonomi yang akhirnya diterima dari pasar.

Pendidikan selama puluhan tahun diposisikan sebagai tangga mobilitas sosial. Anak-anak didorong untuk belajar dengan baik, melanjutkan sekolah, masuk universitas, memperoleh gelar, kemudian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Logika tersebut sebenarnya sederhana: semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi produktivitas, dan semakin tinggi produktivitas seharusnya semakin tinggi pula pendapatan. Persoalan muncul ketika logika tersebut tidak lagi berjalan secara otomatis. Ketika jumlah orang berpendidikan tinggi meningkat jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pekerjaan dengan produktivitas dan kompensasi tinggi, gelar yang sebelumnya menjadi pembeda berubah menjadi sekadar persyaratan minimum. Sarjana menjadi hal yang biasa, magister semakin banyak, sertifikasi semakin beragam, tetapi pekerjaan yang mampu memberikan economic return sesuai dengan investasi pendidikan tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Kondisi tersebut menciptakan persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. Ketika seseorang merasa telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membangun pengetahuan dan kompetensi tetapi kehidupannya secara ekonomi tidak mengalami mobilitas yang diharapkan, pertanyaan yang muncul perlahan dapat berubah. Pada awalnya seseorang mungkin bertanya, “Apa yang salah dengan diri saya?” Namun setelah melihat bahwa persoalan serupa dialami oleh banyak orang di sekitarnya, pertanyaan tersebut dapat berkembang menjadi, “Apa yang salah dengan sistemnya?” Pergeseran pertanyaan ini sangat penting karena kekecewaan yang awalnya bersifat personal dapat berubah menjadi kritik terhadap institusi. Perusahaan dianggap tidak memberikan kompensasi yang layak, negara dianggap gagal menciptakan lapangan pekerjaan bernilai tambah tinggi, sistem pendidikan dianggap menjual harapan yang tidak sesuai dengan realitas ekonomi, sementara sistem keuangan dan kepemilikan aset mulai dipandang sebagai struktur yang membuat sebagian orang semakin mudah menjadi kaya sementara kelompok lain hanya memperoleh pendapatan dari tenaga dan waktu mereka.
Di sinilah pendidikan memiliki hubungan yang menarik dengan munculnya gagasan-gagasan pemberontakan terhadap realitas. Pendidikan tidak hanya memberikan seseorang keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memberikan bahasa dan kerangka berpikir untuk menjelaskan pengalaman hidupnya. Seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi mungkin hanya mengatakan bahwa hidupnya sulit, tetapi seseorang yang telah mempelajari ekonomi, sosiologi, politik, sejarah, filsafat, atau hukum memiliki kemampuan untuk menghubungkan pengalaman pribadi tersebut dengan struktur yang lebih besar. Ia mulai berbicara tentang ketimpangan, distribusi kekayaan, konsentrasi modal, relasi kekuasaan, eksploitasi tenaga kerja, inflasi, kepemilikan aset, struktur pasar, bahkan mengenai siapa yang memiliki kemampuan menciptakan dan mengendalikan uang. Pendidikan dengan demikian dapat mengubah rasa tidak puas yang sebelumnya bersifat pribadi menjadi sebuah kritik terhadap struktur sosial.
Karena itu, universitas memiliki posisi yang sangat unik dalam masyarakat. Di satu sisi, universitas merupakan institusi yang mempersiapkan seseorang untuk masuk ke dalam sistem yang sudah ada. Mahasiswa belajar bagaimana perusahaan bekerja, bagaimana negara bekerja, bagaimana pasar bekerja, bagaimana hukum bekerja, dan bagaimana institusi sosial dibentuk. Namun di sisi lain, justru karena mempelajari mekanisme tersebut, mahasiswa mendapatkan kemampuan untuk mempertanyakan mengapa sistem harus bekerja dengan cara seperti itu. Setelah memahami mekanisme pasar, seseorang dapat mulai mempertanyakan mengapa pasar menghasilkan ketimpangan. Setelah mempelajari kapital, seseorang dapat mempertanyakan mengapa kepemilikan modal terkonsentrasi. Setelah mempelajari negara, ia dapat bertanya siapa yang sebenarnya memiliki kekuasaan. Setelah mempelajari sistem moneter, ia dapat mempertanyakan siapa yang mempunyai kewenangan menciptakan uang dan siapa yang pertama kali menerima manfaat dari penciptaan tersebut. Dengan demikian, semakin seseorang memahami struktur sosial, semakin besar pula kapasitasnya untuk membayangkan struktur alternatif.
Namun terdapat paradoks yang sering luput diperhatikan. Pendidikan tinggi dapat meningkatkan cognitive capital dan cultural capital seseorang tanpa secara otomatis meningkatkan financial capital yang dimilikinya. Seseorang mungkin memiliki kemampuan membaca teori ekonomi, memahami sejarah, menguasai bahasa asing, melakukan penelitian, menulis dengan baik, dan memiliki kemampuan analitis yang tinggi, tetapi semua kemampuan tersebut belum tentu menghasilkan kepemilikan aset atau pendapatan yang memadai. Akibatnya muncul kelompok masyarakat yang secara intelektual relatif kaya tetapi secara finansial tetap berada dalam posisi yang lemah. Mereka mampu memahami bagaimana dunia bekerja, tetapi tidak selalu memiliki modal yang cukup untuk menentukan bagaimana dunia bekerja. Mereka memiliki pengetahuan untuk membaca sistem, tetapi belum tentu memiliki sumber daya untuk memengaruhi sistem.
Kondisi ini menjadi semakin kompleks ketika masyarakat mengalami kenaikan biaya hidup dan harga aset yang lebih cepat daripada kenaikan pendapatan. Generasi yang berpendidikan tinggi dapat memahami bahwa harga rumah meningkat, mengetahui bagaimana kredit bekerja, memahami investasi, bahkan memahami risiko inflasi, tetapi pengetahuan tersebut tidak otomatis memberikan kemampuan untuk membeli rumah atau mengakumulasi aset. Mereka mengetahui bahwa kepemilikan aset penting untuk membangun kekayaan jangka panjang, tetapi pada saat yang sama sebagian besar pendapatan mereka habis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pengetahuan yang seharusnya menjadi alat mobilitas akhirnya berubah menjadi alat untuk menyadari betapa sulitnya mobilitas tersebut. Inilah salah satu karakter penting dari overeducated under-earner: bukan hanya miskin secara relatif, tetapi sadar bahwa dirinya tertinggal.
Kesadaran semacam itu dapat menjadi bahan bakar bagi munculnya berbagai bentuk pemberontakan intelektual. Sebagian orang bergerak ke arah sosialisme karena melihat distribusi kekayaan sebagai persoalan struktural. Sebagian tertarik pada populisme karena melihat elite ekonomi dan politik sebagai kelompok yang terlalu dominan. Sebagian mencari libertarianisme karena menganggap negara terlalu banyak mengatur kehidupan ekonomi. Sebagian kembali kepada komunitas, agama, atau bentuk solidaritas sosial lainnya karena melihat institusi modern gagal memberikan rasa aman. Sebagian bahkan mencari sistem moneter alternatif seperti Bitcoin karena menganggap sistem uang yang ada terlalu bergantung pada otoritas pusat. Gagasan-gagasan tersebut secara ideologis sangat berbeda, tetapi memiliki satu kemungkinan akar yang sama: munculnya keinginan untuk mencari struktur alternatif ketika struktur yang ada dianggap tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.
Tentu saja, tidak tepat jika seluruh kritik terhadap kapitalisme, negara, pendidikan, atau sistem keuangan dianggap berasal dari kegagalan ekonomi pribadi. Banyak kritik lahir dari penelitian, pengalaman sosial, pertimbangan moral, atau pemikiran yang serius mengenai keadilan. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan hubungan antara posisi ekonomi seseorang dan cara ia membaca realitas. Ketika seseorang merasa bahwa pendidikan dan kemampuannya tidak memperoleh imbal hasil yang layak, sensitivitas terhadap ketimpangan dan ketidakadilan dapat meningkat. Dalam kondisi tertentu, persoalan ekonomi pribadi dapat menjadi pintu masuk menuju kritik ideologis yang jauh lebih luas. Pendidikan memberikan instrumen untuk mengartikulasikan kritik tersebut, sementara frustrasi ekonomi memberikan pengalaman konkret yang membuat kritik itu terasa relevan.
Fenomena ini sangat penting bagi Indonesia karena ekspansi pendidikan tinggi berlangsung dalam struktur ekonomi yang belum tentu mampu menyerap seluruh aspirasi kelas terdidik. Banyak anak muda memasuki universitas dengan keyakinan bahwa gelar akan memberikan mobilitas sosial, tetapi setelah lulus mereka berhadapan dengan pekerjaan yang tidak selalu membutuhkan seluruh kompetensi yang telah mereka pelajari. Sebagian bekerja di bidang yang tidak berhubungan dengan pendidikannya, sebagian menerima pekerjaan dengan pendapatan yang tidak sesuai dengan ekspektasi, sementara sebagian lainnya terpaksa membangun berbagai pekerjaan informal dan ekonomi digital untuk menutupi kebutuhan. Masalahnya bukan bahwa semua orang harus memperoleh gaji tinggi setelah lulus universitas, tetapi bahwa terdapat ketidakseimbangan antara investasi pendidikan, ekspektasi sosial, struktur kesempatan ekonomi, dan tingkat pendapatan yang tersedia.
Karena itu, pendidikan Indonesia perlu mulai melihat persoalan ini bukan hanya dari sisi akses dan jumlah lulusan, tetapi dari kemampuan pendidikan mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi. Pendidikan yang hanya menghasilkan kemampuan untuk memahami realitas tanpa memberikan kemampuan untuk menciptakan nilai dari pemahaman tersebut pada akhirnya akan menghasilkan paradoks. Masyarakat menjadi semakin terdidik, tetapi tidak otomatis menjadi semakin sejahtera. Orang semakin mampu menjelaskan mengapa ketimpangan terjadi, tetapi belum tentu semakin mampu keluar dari posisi ekonomi yang membuat mereka tidak puas. Universitas semakin berhasil memproduksi pengetahuan, tetapi belum tentu sama berhasilnya dalam menghasilkan individu yang mampu mengubah pengetahuan menjadi produk, perusahaan, kepemilikan aset, teknologi, atau bentuk nilai ekonomi lainnya.
Dalam konteks inilah kita perlu membedakan antara pendidikan sebagai konsumsi pengetahuan dan pendidikan sebagai pembentukan kapasitas ekonomi. Seseorang dapat mengetahui teori ekonomi tanpa mampu mengelola keuangan, memahami bisnis tanpa mampu membangun arus kas, memahami teknologi tanpa mampu mengubahnya menjadi produk, dan memahami investasi tanpa memiliki modal yang cukup untuk mempraktikkannya. Bahkan seseorang dapat menjadi sangat kritis terhadap sistem kapitalisme tetapi tidak memahami bagaimana modal sebenarnya bekerja di tingkat perusahaan. Ketika pendidikan berhenti pada kemampuan memahami dan mengkritik, tetapi tidak berkembang menjadi kemampuan menciptakan dan memiliki, maka pendidikan dapat menghasilkan frustrasi yang semakin besar.
Masalah terbesar bukanlah ketika orang terdidik mulai memberontak terhadap realitas. Justru kemampuan untuk mempertanyakan realitas merupakan salah satu fungsi terpenting pendidikan. Masyarakat yang tidak mampu mempertanyakan sistem akan mudah menerima keadaan sebagai sesuatu yang permanen, padahal hampir semua institusi sosial yang ada sekarang merupakan hasil perubahan dari masa lalu. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa pemberontakan intelektual tersebut muncul dan ke mana arahnya. Apakah ia hanya menjadi kemarahan terhadap sistem, atau berkembang menjadi kemampuan membangun alternatif? Apakah seseorang hanya mampu menjelaskan mengapa sistem tidak adil, atau mampu menciptakan institusi yang lebih baik? Apakah kritik terhadap kapitalisme berhenti sebagai wacana, atau menghasilkan model bisnis baru? Apakah kritik terhadap sistem moneter berhenti sebagai teori, atau menghasilkan alternatif yang dapat digunakan masyarakat?
Di sinilah tantangan pendidikan Indonesia menjadi lebih besar daripada sekadar menghasilkan manusia yang pintar. Pendidikan harus mampu membangun kemampuan untuk mengubah pengetahuan menjadi produktivitas, produktivitas menjadi pendapatan, pendapatan menjadi modal, dan modal menjadi kemandirian. Tanpa kemampuan tersebut, kita berisiko menciptakan generasi yang memiliki kemampuan intelektual semakin tinggi tetapi memiliki daya tawar ekonomi yang tidak meningkat secara proporsional. Mereka mengetahui semakin banyak tentang dunia, tetapi memiliki semakin sedikit kendali terhadap posisi mereka di dalam dunia tersebut.
Pada akhirnya, overeducated under-earner bukan hanya persoalan tenaga kerja atau ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan. Ia adalah fenomena sosial yang berada di persimpangan antara pendidikan, ekonomi, politik, dan psikologi kelas. Ketika pendidikan menjanjikan mobilitas tetapi ekonomi tidak menyediakan mobilitas yang cukup, seseorang akan mencari penjelasan. Sebagian menyalahkan dirinya sendiri, sebagian mengubah strategi ekonominya, sebagian membangun usaha, sebagian mencari jalan melalui investasi, dan sebagian lainnya menyimpulkan bahwa sistemlah yang harus diubah. Dari sinilah berbagai gagasan pemberontakan dapat muncul ke permukaan, terutama di lingkungan pendidikan yang menyediakan ruang, bahasa, dan legitimasi intelektual untuk mempertanyakan realitas.
Pendidikan pada akhirnya bukan hanya menentukan seberapa tinggi seseorang dapat naik, tetapi juga seberapa tajam seseorang mampu melihat struktur yang membatasi kenaikannya. Ketika seseorang telah belajar cukup banyak untuk memahami bahwa tangga mobilitas sosial tidak selalu membawa dirinya ke atas, tetapi belum memiliki kemampuan ekonomi untuk membangun tangga sendiri, maka ketegangan antara pendidikan dan realitas akan semakin besar. Fenomena overeducated under-earner karena itu perlu dibaca bukan sebagai kegagalan individu semata, melainkan sebagai sinyal bahwa hubungan antara pendidikan dan mobilitas ekonomi sedang mengalami perubahan. Ketika jarak antara apa yang seseorang tahu, apa yang seseorang harapkan, dan apa yang mampu ia hasilkan secara ekonomi menjadi terlalu besar, pendidikan tidak lagi hanya menjadi alat untuk memasuki sistem. Pendidikan dapat berubah menjadi tempat lahirnya pertanyaan paling mendasar terhadap sistem itu sendiri.
Penulis adalah praktisi berpengalaman dalam pengelolaan dana abadi (endowment fund), dana pensiun, dana sosial , asuransi sosial, serta peneliti bidang pembangunan berkelanjutan sejak 2004. Untuk pembelajaran lebih lanjut bisa mengunjungi website grl-capital.com.
