Konten dari Pengguna

Penyesatan Struktural Sebuah Refleksi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Realino Nurza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendapat ini dapat diperdebatkan, tetapi layak menjadi bahan refleksi: salah satu bentuk penyesatan struktural yang paling sulit dikenali bukanlah ketika seseorang diajarkan sesuatu yang salah, melainkan ketika seluruh sistem mengarahkan jutaan orang menuju tujuan yang pada akhirnya tidak lagi dibutuhkan oleh realitas. Dalam kondisi seperti ini, individu merasa telah melakukan semua hal yang dianggap benar—belajar dengan tekun, memperoleh nilai tinggi, menyelesaikan pendidikan, bahkan meraih gelar—namun ketika memasuki dunia kerja, ia menemukan bahwa pasar tidak membutuhkan apa yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun. Masalahnya bukan terletak pada kemampuan individu semata, tetapi pada ketidaksesuaian antara arah sistem pendidikan, perkembangan ekonomi, dan dinamika kebutuhan masyarakat. Ketika ketidaksesuaian ini berlangsung dalam skala besar, dampaknya bukan hanya berupa pengangguran, melainkan kekacauan sistemik yang memengaruhi masa depan karier, stabilitas sosial, dan cita-cita generasi.

Sumber foto: https://chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: https://chatgpt.com

Penyesatan struktural berbeda dengan kesalahan individu. Kesalahan individu dapat diperbaiki melalui pembelajaran ulang atau perubahan keputusan. Sebaliknya, penyesatan struktural terjadi ketika institusi yang dipercaya sebagai penunjuk arah justru membangun ekspektasi yang tidak lagi sesuai dengan kenyataan. Sejak usia dini, seseorang diarahkan untuk percaya bahwa pendidikan formal adalah jalan utama menuju kehidupan yang mapan. Narasi ini telah menjadi keyakinan kolektif selama puluhan tahun. Orang tua bekerja keras agar anak dapat masuk sekolah terbaik. Sekolah berlomba meningkatkan angka kelulusan. Perguruan tinggi berlomba menghasilkan lulusan sebanyak mungkin. Pemerintah mengukur keberhasilan melalui angka partisipasi pendidikan. Namun sangat sedikit pihak yang bertanya apakah kompetensi yang dihasilkan benar-benar memiliki permintaan di masa depan.

Masalah tersebut muncul karena sistem pendidikan memiliki sifat yang lambat berubah, sementara pasar berkembang sangat cepat. Kurikulum membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbarui. Proses akreditasi, penyusunan buku, pelatihan guru, hingga perubahan regulasi berlangsung secara bertahap. Sebaliknya, teknologi dapat mengubah struktur pekerjaan hanya dalam hitungan bulan. Kemajuan kecerdasan buatan, otomatisasi, robotika, dan digitalisasi menyebabkan banyak jenis pekerjaan berkurang atau bahkan menghilang lebih cepat daripada kemampuan institusi pendidikan untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, lulusan yang baru memasuki dunia kerja sering kali telah membawa kompetensi yang sebagian sudah kehilangan relevansinya.

Lebih jauh lagi, pendidikan sering kali masih berorientasi pada penciptaan pekerja, bukan pencipta nilai. Banyak peserta didik dibentuk dengan asumsi bahwa setelah lulus mereka akan mencari pekerjaan di perusahaan, menjadi pegawai negeri, atau memasuki institusi yang telah tersedia. Padahal pertumbuhan jumlah pencari kerja jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan lapangan pekerjaan formal. Ketika semua orang dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja, sementara hanya sedikit yang dipersiapkan menjadi pencipta pekerjaan, ketidakseimbangan menjadi tidak terhindarkan. Persaingan semakin keras, standar penerimaan semakin tinggi, dan jutaan lulusan akhirnya saling berebut peluang yang semakin terbatas.

Penyesatan ini menjadi semakin dalam karena sistem sosial masih menggunakan ukuran keberhasilan yang berasal dari masa lalu. Gelar akademik sering kali dianggap sebagai simbol utama keberhasilan, meskipun dalam banyak industri kemampuan praktis, kreativitas, adaptasi, dan pengalaman nyata mulai memiliki nilai yang sama atau bahkan lebih tinggi. Banyak perusahaan kini lebih memperhatikan portofolio dibandingkan ijazah, kemampuan menyelesaikan masalah dibandingkan nilai akademik, serta kecepatan belajar dibandingkan lama masa studi. Namun masyarakat tetap mendorong generasi muda mengejar simbol yang belum tentu lagi menjadi faktor penentu keberhasilan ekonomi.

Konsekuensinya tidak hanya berupa kesenjangan antara pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga krisis psikologis. Seorang anak sejak kecil membangun cita-cita berdasarkan narasi yang diberikan oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ia percaya bahwa apabila berhasil mengikuti seluruh tahapan pendidikan, maka kehidupan yang stabil akan menantinya. Ketika realitas menunjukkan hal yang berbeda, muncul rasa gagal yang sebenarnya bukan sepenuhnya berasal dari kesalahan pribadi. Individu merasa telah mengkhianati cita-citanya, padahal yang berubah adalah struktur ekonomi di sekelilingnya. Rasa frustrasi, kehilangan arah, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi menjadi konsekuensi yang semakin sering terlihat.

Dalam jangka panjang, penyesatan struktural menghasilkan pemborosan sumber daya yang luar biasa besar. Bayangkan jutaan orang menghabiskan belasan hingga puluhan tahun mempelajari kompetensi yang permintaannya semakin kecil. Waktu, biaya pendidikan, tenaga pengajar, fasilitas, bahkan harapan keluarga telah diinvestasikan untuk menghasilkan keahlian yang akhirnya sulit diserap oleh pasar. Dari perspektif ekonomi, ini merupakan bentuk alokasi sumber daya yang tidak efisien. Negara mengeluarkan anggaran besar untuk mencetak tenaga kerja, tetapi sebagian dari tenaga kerja tersebut akhirnya tidak dapat berkontribusi secara optimal terhadap produktivitas nasional.

Di sisi lain, pasar justru mengalami kekurangan pada bidang-bidang baru yang berkembang pesat. Banyak industri mengalami kesulitan mencari tenaga dengan kemampuan analisis data, kecerdasan buatan, keamanan siber, energi terbarukan, desain sistem, atau kemampuan lintas disiplin. Ironisnya, kekurangan tenaga kerja terjadi bersamaan dengan tingginya angka pengangguran. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar jumlah pekerjaan, melainkan ketidakcocokan antara kompetensi yang dihasilkan dengan kebutuhan yang berkembang.

Penyesatan struktural juga memperlebar kesenjangan sosial. Mereka yang memiliki akses terhadap informasi, jaringan profesional, atau kemampuan belajar mandiri cenderung lebih cepat beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, mereka yang sepenuhnya bergantung pada jalur pendidikan formal lebih rentan tertinggal. Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi alat mobilitas sosial justru dalam beberapa kondisi gagal menjalankan fungsi tersebut. Bukan karena pendidikan tidak penting, melainkan karena pendidikan yang diberikan tidak lagi memiliki hubungan yang kuat dengan perubahan struktur ekonomi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sistem sering kali tetap mempertahankan narasi lama karena memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas. Mengakui bahwa sebagian model pendidikan sudah tidak relevan berarti mengakui perlunya perubahan besar pada kurikulum, metode pengajaran, pembiayaan, hingga orientasi kelembagaan. Perubahan semacam ini membutuhkan keberanian politik, investasi besar, dan kesiapan menghadapi ketidakpastian. Akibatnya, reformasi sering berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan yang terjadi di dunia nyata. Generasi yang sedang menempuh pendidikan akhirnya menjadi pihak yang menanggung biaya dari keterlambatan tersebut.

Namun, solusi terhadap persoalan ini bukanlah menolak pendidikan formal. Pendidikan tetap merupakan fondasi penting bagi perkembangan individu dan masyarakat. Yang perlu diubah adalah orientasinya. Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan yang bersifat statis, tetapi juga harus membangun kemampuan belajar sepanjang hayat. Dunia yang berubah cepat menuntut manusia mampu terus memperbarui kompetensinya. Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, bekerja sama lintas disiplin, memahami teknologi, dan belajar secara mandiri menjadi modal yang semakin penting dibandingkan sekadar menguasai satu bidang yang sempit.

Di sisi lain, hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri perlu dibangun secara lebih dinamis. Kurikulum seharusnya tidak hanya disusun berdasarkan tradisi akademik, tetapi juga berdasarkan perubahan kebutuhan ekonomi, perkembangan teknologi, dan tantangan sosial yang sedang muncul. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan, melainkan harus menghasilkan individu yang mampu menciptakan nilai, menemukan peluang baru, serta menyesuaikan diri dengan perubahan yang belum dapat diprediksi.

Pada akhirnya, penyesatan struktural bukanlah persoalan tentang individu yang salah memilih jurusan atau karier. Persoalan utamanya adalah ketika seluruh ekosistem membentuk keyakinan bahwa ada satu jalur yang pasti menuju masa depan, padahal dunia terus berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika sistem pendidikan, sistem karier, dan struktur ekonomi tidak lagi bergerak dalam irama yang sama, maka yang lahir bukan sekadar pengangguran atau ketidakpuasan kerja, melainkan kekacauan sistemik yang merusak hubungan antara usaha, harapan, dan hasil. Generasi muda kehilangan kepastian bahwa kerja keras akan selalu berbanding lurus dengan kesempatan, sementara masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa institusi mampu mempersiapkan masa depan mereka. Oleh karena itu, tantangan terbesar abad ini bukan sekadar meningkatkan akses terhadap pendidikan, tetapi memastikan bahwa pendidikan tetap memiliki keterhubungan yang nyata dengan dunia yang terus berubah, sehingga cita-cita individu tidak berubah menjadi ilusi yang dibangun oleh struktur yang gagal membaca arah zaman.

Penulis adalah praktisi berpengalaman dalam pengelolaan dana abadi (endowment fund), dana pensiun, dana sosial , asuransi sosial, serta peneliti bidang pembangunan berkelanjutan sejak 2004. Untuk pembelajaran lebih lanjut bisa mengunjungi website grl-capital.com.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membuat keputusan