Konten dari Pengguna

Prodi: Antara Relevansi dan Tuntutan Artificial Intelligence

Rebecca La Volla Nyoto

Rebecca La Volla Nyoto

Merupakan seorang dosen, peneliti, dan mahasiswa doktoral yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dengan minat mendalam pada kajian sosial-teknologi, dinamika masyarakat digital, dan adopsi teknologi informasi.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rebecca La Volla Nyoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi laboratorium komputer (sumber: magnific.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi laboratorium komputer (sumber: magnific.com)

Dalam riset terbaru Boston Consulting Group di 2026, diproyeksikan bahwa dua hingga tiga tahun ke depan, lebih dari setengah pekerjaan di AS akan mengalami perubahan akibat Artificial Intelligence (AI). Bukan sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk. Yang paling merasakan dampak ini nantinya adalah lulusan yang baru memulai karir, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "fresh graduates".

Di AS sendiri, tingkat pengangguran untuk fresh graduates kian meingkat tiap tahunnya. Harvard Business School mengungkap, lowongan pekerjaan yang sifatnya "rutin" atau berulang pun ikut turun sebesar 13% sejak munculnya ChatGPT.

Mengapa fresh graduates paling terdampak?

Jawabannya simple. Berkaitan dengan knowledge management. Pekerja senior yang sudah lama berada di industri memiliki pengetahuan yang melekat di dirinya, atau "tacit knowledge" yang sangat dibutuhkan perusahaan untuk mengambil keputusan yang sesuai. Sesuatu yang masih belum bisa digantikan dengan AI secara presisi. Fresh graduates juga masih belum memiliki kemampuan ini karena belum terekspos lingkungan dan budaya kerja, sehingga belum memiliki knowledge yang dibutuhkan.

Beban bagi fresh graduates sebenarnya juga dirasakan oleh prodi sebagai ujung tombak pendidikan tinggi yang ikut menanggung beban. Prodi memiliki tanggungjawab untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap untuk bekerja. Artinya, kurikulum yang sama tidak dapat digunakan berulang tanpa ada perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam perkembangan yang ada, prodi ikut didorong melalui perubahan yang dihadirkan oleh eksistensi AI di bidang pendidikan. Penggunaan AI mulai berada di puncak headline media dan menjadi perhatian dunia. Lantas bagaimana peran prodi di perguruan tinggi?

Ketika Prodi Bertemu Realita

Prodi populer seperti akuntansi, hukum, desain grafis, dan administrasi bisnis yang dulu menjadi pilihan banyak orang pun ikut ditekan. AI sudah mulai mampu mengerjakan banyak tugas yang sifatnya rutin di bidang ini. Bahkan bisa lebih cepat dan murah. Jadi, pendidikan pun harus ikut bergerak ke arah yang sama.

Survei mengungkapkan, adanya fenomena penggantian pilihan prodi. Pertimbangan ini datang dari rasa takut mahasiswa terhadap kehadiran AI yang berpotensi menggantikan pekerjaan di bidang studi yang mereka ingin/sedang tempuh. Terdapat celah antara kepercayaan mahasiswa dan kemampuan prodi dalam menjamin ilmunya tetap relevan dengan perkembangan industri.

Gap yang Tidak Terlihat

Ketika fresh graduates kesulitan bersaing di dunia kerja, ada kecenderungan untuk menyalahkan individu. Entah dianggap kurang adaptif, atau kurang inisiatif untuk mencari pekerjaan. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Banyak pihak yang terlibat dalam persoalan lapangan kerja. Perguruan tinggi dan mahasiswa harus sama-sama cepat bergerak. Meskipun keduanya masih meraba-raba cara paling baik untuk merespon perubahan yang dinamis. Perguruan tinggi sendiri harus bisa menempatkan AI sebagai pertimbangan untuk membangun kurikulum yang kreatif dan adaptif terhadap AI. Bukan sepenuhnya melarang atau menghindari penerapan. Ini karena ditakutkan bahwa penolakan sepenuhnya perguruan tinggi terhadap AI berdampak pada kemampuan adaptasi lulusan terhadap perubahan di dunia luar.

Kesimpulannya, kebijakan penggunaan AI yang bijak bukan berarti serba membolehkan penggunaannya tanpa batasan konteks penerapan yang jelas, ataupun serba membatasi. Melainkan, perlu merangkai landasan kesadaran terlebih dahulu di berbagai tingkat, melalui penerapan kebijakan yang jelas di dunia akademik dan sosialisasi. Penerapan kebijakan yang jelas dan literasi yang baik dapat membantu membangun pemikiran mahasiswa tentang kapan AI menjadi alat bantu yang sah dan kapan justru menghambat kemampuan berpikir dan kognitif mereka. Kurikulum yang responsif pun tidak harus dirombak total. Kadang, hanya cukup dengan membuka forum yang dapat menerima pandangan dari sisi industri, pengajar, dan mahasiswa, agar terbentuk ide konstruktif akan kebutuhan seluruh pihak. Bergerak dari forum, diharapkan setelahnya prodi dapat membangun mata kuliah pilihan yang sesuai dengan perkembangan terkini industri, mengembangkan proyek berbasis industri, dan mengarahkan mahasiswa untuk membangun portofolio yang mencerminkan kemampuan nyata yang baru dan aplikatif.

Berbicara dari perumpamaan di bidang teknologi informasi, secara mutlak tidak ada sistem yang langsung sempurna begitu dikembangkan. Yang ada hanyalah versi pertama, dievaluasi, lalu diperbaiki untuk menjadi versi lanjutan yang lebih baik..

Pendidikan tinggi dapat mengadopsi logika yang sama. Tidak harus sempurna dulu untuk mulai bergerak dan berproses. Dari teori Hype Cycle Gartner, banyak institusi yang berada di puncak ekspektasi, bergerak karena tekanan, dan bukan karena kesiapan. Muncul pertanyaan lanjutan yang ditujukan ke perguruan tinggi di Indonesia. Sudah siapkah kita?