Gigitan Viral Food Vlogger: Antara Cita Rasa dan Citra Digital

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rebekka Rismayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena food vlogger telah menjadi bagian penting dari lanskap media sosial saat ini. Mereka menjelajahi kafe, mencicipi kuliner, lalu membagikan ulasan secara publik. Jutaan pengikut dan jangkauan yang luas membuat para konten kreator ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk preferensi masyarakat.
Menurut Adzkiyak (2021), food vlogger adalah orang yang membuat konten ulasan makanan dari tempat-tempat populer, serta memberikan rekomendasi yang dikemas dalam video menarik dan diunggah di media sosial.
Dampak food vlogger terhadap bisnis kuliner sangatlah nyata. Ulasan positif dari vlogger terkenal dapat mendongkrak penjualan, bahkan menciptakan tren. Sebaliknya, ulasan negatif bisa mencederai reputasi suatu usaha.
Contoh terbaru adalah kasus donat viral milik seorang artis. Beberapa food vlogger memberi ulasan yang memicu pro dan kontra, terutama mengenai rasa dan kemasan. Alih-alih mendapat promosi positif, produk tersebut justru menuai perdebatan di ruang digital. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi netizen terhadap konten vlogger bersifat beragam dan dinamis.
Ketika sebuah ulasan viral, respons publik bisa bervariasi. Ada yang melihatnya sebagai publisitas gratis, namun tak sedikit yang mempertanyakan kualitas produk maupun integritas sang vlogger. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat memaknai konten influencer.
Sejalan dengan survei YouGov (2024), 54% konsumen Indonesia menyatakan bahwa mereka lebih percaya pada ulasan netizen biasa dibanding influencer. Ulasan dari sesama pengguna dianggap lebih jujur dan minim kepentingan komersial. Perubahan ini menjadi pengingat penting bagi food vlogger untuk menjaga kredibilitas.
Menilik konteks retorika dari Aristoteles (2004), ethos atau kredibilitas tidak ditentukan oleh popularitas semata, tetapi oleh karakter, niat baik, serta kemampuan menyampaikan opini yang adil dan jujur. Maka, menjaga integritas dan transparansi dalam setiap ulasan adalah penentu untuk mempertahankan kredibilitas para food vlogger dan menjaga kepercayaan audiens.
Nasrullah (2023) juga menyatakan bahwa influencer saat ini bukan sekadar penyampai pesan, tapi aktor utama dalam pembentukan opini publik. Literasi digital kemudian menjadi sangat esensial untuk menyeimbangkan efeknya.
Hal ini menegaskan bahwa masyarakat juga memiliki peran penting. Di tengah banjirnya informasi, kemampuan untuk memilah, memverifikasi, dan mengevaluasi konten menjadi krusial. Audiens perlu menyikapi ulasan dengan sikap kritis, serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum membentuk opini pribadi.
Sementara itu, pemilik usaha juga dituntut untuk adaptif. Perlunya membangun narasi positif, terbuka terhadap kritik, dan menjadikan masukan publik sebagai evaluasi menjadi strategi jitu dalam menghadapi dinamika media sosial. Upaya ini justru dapat memperkuat citra positif merek di mata konsumen.
Pada akhirnya, food vlogger menawarkan peluang besar bagi promosi kuliner, namun juga membawa tantangan etis. Keseimbangan antara kepentingan komersial, objektivitas ulasan, dan kepercayaan publik adalah kunci. Di ekosistem digital yang makin kompleks, kolaborasi antara pelaku usaha, pembuat konten, dan audiens sangat penting, agar ruang kuliner digital tetap sehat, kritis, dan bermanfaat bagi semua pihak.
