Konten dari Pengguna

Semakin Jujur, Semakin Viral?: Menelisik Fenomena Konten Curhat di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rebekka Rismayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

"Maaf ya, aku cuma mau jujur..."

Belakangan, media sosial semakin dipenuhi oleh konten-konten yang "akhirnya buka suara". Ada kreator yang mengaku mengalami burnout setelah bertahun-tahun bekerja tanpa henti. Ada akun yang menceritakan kegagalan bisnisnya, konflik relasi personal, ada pula yang membagikan sisi hidup yang selama ini disembunyikan.

Menariknya, cerita-cerita personal seperti ini hampir selalu memikat perhatian khalayak. Ribuan komentar berdatangan. Video dibagikan berkali-kali.

Tidak sedikit pula yang justru mendapatkan lebih banyak pengikut setelah berani menunjukkan sisi rapuhnya. Ini sejalan dengan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 yang menyatakan bahwa mayoritas pengguna internet di Indonesia gemar melihat konten hiburan, salah satunya konten infotainment/gosip.

Fenomena tersebut kemudian membawa kesan bahwa semakin jujur cerita personal seseorang di media sosial, semakin relate pengalamannya dengan audiens, maka semakin tinggi pula peluang viralnya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menggelitik; Apakah media sosial sedang mendorong kita menjadi lebih jujur dan autentik? Atau konten autentik justru jadi sebuah strategi di dunia digital?

Beberapa waktu lalu, media sosial identik dengan konten liburan, kesuksesan, atau kehidupan yang tampak sempurna. Dulu orang berlomba-lomba untuk bisa memperlihatkan kehidupan terbaiknya; tubuh ideal, liburan mewah, hidup kaya dan bahagia, serta relasi personal yang tampak sempurna.

Namun saat ini situasinya berubah. Kerentanan, kesedihan, dan perjuangan hidup menjadi bentuk konten personal yang banyak mendapatkan empati dan komentar positif. Bukan berarti pencitraan sudah hilang, yang berubah hanya bentuknya.

Ilustrasi curhat masalah pribadi di media sosial Foto: Shutterstock

Di perspektif ilmu komunikasi, teori dramaturgi milik Erving Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial menyerupai sebuah panggung. Di hadapan orang lain, yang disebut sebagai front stage, kita menampilkan versi terbaik dari diri kita. Kita menentukan cara berpakaian, berbicara, lalu kisah mana yang dibagikan kepada orang lain.

Media sosial, menurut Teng (2025), telah memperluas “panggung” tersebut. Proses mengelola kesan atau impression management menjadi semakin penting karena penontonnya tidak lagi belasan orang, melainkan ribuan atau bahkan jutaan pengguna.

Maka dari itu, sebelum unggahan dipublish, terdapat banyak keputusan yang dipilih; cerita mana yang ingin dibagikan, foto mana yang bisa digunakan, kalimat apa yang menarik untuk disampaikan, sampai pada penentuan waktu terbaik untuk mengunggahnya. Dapat dikatakan pula bahwa cerita yang paling jujur sekalipun tetap melewati proses penyuntingan dari si pemilik konten.

Inilah yang menjadi paradoks komunikasi digital hari ini. Konten yang terlihat spontan, jujur, dan apa adanya dianggap sebagai konten yang autentik di media sosial. Padahal di balik layar, terdapat proses memilah, menentukan, serta menyusun cerita agar lebih menarik dan dipahami oleh audiens.

Di sisi lain, algoritma platform media sosial berperan penting dalam memberikan ruang yang lebih besar pada konten yang memancing interaksi. Cerita yang “relate”, lalu memancing komentar, simpati, maupun diskusi biasanya berpeluang meraih audiens yang lebih luas.

Penggunapun kemudian belajar bahwa cerita yang terasa personal seringkali “berhasil” dan viral. Autentisitas akhirnya tidak menjadi kondisi yang spontan, melainkan merupakan hasil dari sebuah keputusan komunikasi.

Ilustrasi perempuan curhat Foto: Shutterstock

Tentu, banyak cerita dari pengalaman personal yang memang lahir dari ketulusan seseorang untuk berbagi pengalaman, memperoleh dukungan, serta memberikan pelajaran positif bagi orang lain. Namun kita juga perlu menyadari bahwa di panggung media sosial, semakin personal kontennya, semakin terasa “real” dan relate ceritanya, maka semakin besar peluangnya memperoleh perhatian algoritma.

Ketika kejujuran terus mendapatkan atensi, kejujuran juga dapat menjadi sebuah strategi komunikasi dalam mengupayakan jangkauan dan kedekatan dengan audiens.

Di era algoritma, setiap unggahan merupakan hasil keputusan komunikasi yang dibangun, disusun, dan ditunjukkan di atas panggung digital yang disebut media sosial.

Maka kita perlu lebih bijak dalam membagikan cerita, sekaligus lebih kritis ketika mengonsumsi cerita orang lain. Literasi digital hari ini bukan hanya mampu membedakan informasi benar dan salah, namun memahami bahwa setiap konten, bahkan konten yang jujur dan autentik, ada proses presentasi diri yang perlu kita telaah secara kritis dan menyeluruh.