Pencarian populer
Workaholic Bikin Anda Rentan Alami Gangguan Kejiwaan
Jika ada yang bilang Anda seorang workaholic, jangan keburu bangga. Bisa jadi ini menandakan kencenderungan gangguan kejiwaan. Apa kaitannya?
Workaholic merupakan istilah yang menggambarkan seorang pekerja keras yang rela menghabiskan waktu lama untuk bekerja, bahkan mengorbankan waktu istirahatnya. Perilaku ini punya sisi positif dan negatif. Salah satu sisi negatif workaholic adalah pelakunya rentan mengalami gangguan kejiwaan. Kapan Anda harus khawatir?
Sisi positif dan negatif seorang workaholic
Orang yang punya perilaku ini biasanya dianggap teladan di tempatnya bekerja, karena dianggap mampu menyelesaikan semua pekerjaan dengan sempurna hingga terperinci. Umumnya, para workaholic ini diandalkan atau disenangi oleh atasan atau rekan-rekan kerjanya dalam suatu pekerjaan. Tak jarang predikat “employee of the month” disematkan kepadanya, atau sering mendapatkan pujian dan penghargaan atas kerja kerasnya. Namun, di balik ini, ada sisi negatifnya.
“Orang-orang yang gila kerja biasanya mengesampingkan hal lain demi pekerjaannya, termasuk kepentingan pribadi, keluarga, dan kehidupan sosialnya. Jika dibiarkan terus, mereka jadi tak punya waktu untuk menikmati hidup. Dampak negatif yang mungkin terjadi adalah terganggunya keseimbangan kehidupan antara bekerja, istirahat, olahraga, makan, dan interaksi sosial,” jelas dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter.
Selain itu, dr. Reza juga menambahkan bahwa tidak teraturnya pola makan serta minimnya waktu olahraga dan istirahat juga rentan memengaruhi kondisi fisiknya. “Tak jarang seorang workaholic mengalami gangguan penyakit metabolik dan penyakit kronis lainnya.”
Tak hanya itu, stres akibat pekerjaan dan kurangnya waktu untuk berinteraksi dengan keluarga atau teman juga bisa membuat seseorang yang gila kerja juga rentan mengalami gangguan kesehatan mental.
Kaitan antara workaholic dan gangguan kejiwaan
Terdapat beberapa penelitian yang mengaitkan antara workaholic dan gejala gangguan kejiwaan. Salah satunya adalah penelitian di Norwegia yang melibatkan 16.426 pekerja sebagai partisipan. Lewat penelitian ini, ditemukan bahwa terdapat hubungan antara workaholic dengan beberapa gangguan kejiwaan seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), ansietas (kecemasan), dan depresi.
Adapun hasil penelitian yang lebih terperinci adalah sebagai berikut:
  • Sekitar 32,7 persen karyawan workaholic juga memenuhi kriteria gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif, dibandingkan 12,7 persen pada karyawan yang bekerja biasa-biasa saja.
  • Sekitar 25,6 persen karyawan workaholic juga memenuhi kriteria gangguan obsesif-kompulsif, dibandingkan 8,7 persen pada karyawan lain.
  • Sekitar 33,8 persen karyawan workaholic memenuhi kriteria ansietas, dibandingkan 11,9 persen karyawan lainnya.
  • Sekitar 8,9 persen karyawan workaholic memenuhi kriteria depresi, dibandingkan 2,6 persen pada karyawan yang lain.
Dari hasil yang dipaparkan di atas, ada beberapa dugaan mengenai hubungan antara workaholic dan gangguan kejiwaan. Para peneliti berspekulasi, seseorang dengan kecenderungan ADHD akan mengalami workaholic karena gangguan pemusatan pikiran yang dialami membuat mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
Selain itu, workaholic juga kerap digunakan oleh para pengidap ADHD untuk menyalurkan tenaga yang tidak ada habisnya. Bagi mereka yang memiliki sifat obsesif- kompulsif, workaholic dapat menjadi suatu kompulsi (tindakan) untuk menyalurkan obsesi yang ada dalam pikirannya.
Efeknya bisa berbeda lagi bagi orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan. Gila kerja dapat membantu mereka melawan rasa cemas dan depresi karena orang yang workaholic sangat dihormati dan dihargai. Oleh sebab itu, orang yang mudah cemas biasanya bekerja keras untuk mendapatkan pengakuan tersebut.
Gila kerja dan risiko gila
Kaitan antara workaholic dan gangguan kejiwaan juga menarik perhatian para peneliti dari Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa workaholic bisa sebabkan gangguan kejiwaan, selain menemukan hal serupa dengan penelitian sebelumnya, bahwa adanya gangguan kejiwaan tertentu dapat memicu seseorang menjadi workaholic.
“Pada orang normal yang tidak memiliki gangguan kejiwaan, bekerja terlalu lama tanpa memikirkan waktu istirahat, merawat diri, serta melewatkan interaksi dengan keluarga dan teman-teman bisa membuatnya terisolasi,” dr. Reza menjelaskan. Akibatnya, segala beban masalah dan stres akan dibendung sendiri. Seseorang yang seperti ini secara psikologis lebih rentan mengalami gangguan jiwa akibat stres, hingga mungkin menjadi gila.
“Pasalnya, kejenuhan beban kerja dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan seseorang mengalami burnout syndrome atau timbulnya rasa terbebani oleh tuntutan tertentu,” kata dr. Reza singkat.
Workaholic memang bisa dirasa membanggakan karena hasil yang jelas terlihat. Namun, dengan adanya risiko gangguan kejiwaan, apakah jerih payah yang dilakukan ini sepadan? Agar terhindar dari risiko ini, cobalah atur ulang prioritas dengan tetap menjaga keseimbangan hidup.
Saran dari dr. Reza, “Sisihkan waktu istirahat dan olahraga yang cukup di tengah pekerjaan yang menumpuk. Penuhi juga kebutuhan nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh tetap optimal. Demi menjaga kesehatan mental, aturlah waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Bila minimnya waktu menjadi kendala, setidaknya jaga dan lakukan komunikasi. Bisa dengan bertukar pesan, foto, atau video lucu, sekadar berkabar lewat pesan singkat, atau manfaatkan fitur video call.”
Perkembangan karier dan kondisi finansial mungkin bisa diraih dengan memacu diri menjadi seorang workaholic. Namun, apalah artinya jika ambisi tersebut mengesampingkan kebahagiaan hidup Anda yang sebenarnya. Supaya terhindar dari gangguan kejiwaan, imbangi kerja keras Anda dengan pola hidup sehat dan beri penghargaan terhadap diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang Anda suka—because you deserve it!
(RN/ RH)
Baca artikel selengkapnya, klik di sini
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: