Konten dari Pengguna

IT Chapter 2: Teror Sentimen Badut Jahat atas Nostalgia Trauma

Redaksi Suara Mahasiswa UI

Redaksi Suara Mahasiswa UI

Pers Suara Mahasiswa UI Independen, Lugas, dan Berkualitas!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Redaksi Suara Mahasiswa UI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IT Chapter 2: Teror Sentimen Badut Jahat atas Nostalgia Trauma
zoom-in-whitePerbesar

Judul Film: IT Chapter 2

Tanggal Rilis: 6 September

Sutradara: Andy Muschietti

Durasi: 168 Menit

Genre: Horror

Pemeran: Isaiah Mustafa, James McAvoy, James Ransone, Jay Ryan, Bill Hader, Andy Bean, Jessica Chastain, Bill Skarsgard.

“Apa yang akan kalian lakukan jika rasa takut yang telah lama dilupakan terpanggil kembali? Dan apakah masa lalu kita dapat dihindari dari garis terdepan?”

Melanjuti film IT (2017), IT Chapter 2 hadir menjadi film sekuel yang diadaptasi dari salah satu buku fenomenal karya Stephen King, "IT" (1986). Film yang disutradarai oleh Andy Muschetti ini menceritakan kisah klasik the Losers Club setelah dua puluh tujuh tahun menghadapi badut jahat, Pennywise.

Narasi ini diawali dari Mike (Isaiah Mustafa) yang merupakan salah satu anggota Losers Club, menghubungi Bill (James McAvoy), Eddie (James Ransone), Ben (Jay Ryan), Richie (Bill Hader), Stanley (Andy Bean), dan Beverly (Jessica Chastain). Mereka mendengar berita bahwa badut yang dikira telah tiada, Pennywise, kembali meneror warga kota Derry, Maine. Ketika mendengar berita tersebut, salah satu di antara mereka memberikan reaksi yang tragis. Reuni Losers Club pun dihantui Pennywise yang lagi-lagi mengusik trauma masa lalu.

Dalam pertemuan Losers Club ini, Mike menyarankan anggota lainnya untuk bersama-sama menghadapi makhluk jahat itu dengan cara mengingat dan melampaui rasa takut yang selama ini dipendam. Mereka yang telah lama melupakan pun enggan melanjutkan penawaran Mike. Namun, Mike bersikeras untuk tetap mengajak anggota Losers Club bertahan melawan Pennywise demi kebaikan bersama.

Akhirnya, penawaran Mike disetujui. Para anggota Losers Club kemudian mengunjungi kembali lokasi-lokasi familiar dan sentimental. Masing-masing dari mereka berusaha untuk tidak terpengaruh dari gangguan sosok-sosok menyeramkan. Tentu, pertarungan mereka dalam melawan tipu daya makhluk jahat yang mereka sebut sebagai ‘It’ ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Bila kalian menanti jumpscare yang menantang dan seramnya IT Chapter 2, rasanya tidak banyak yang perlu dikhawatirkan. Beberapa gore dan CGI yang terlihat nyata, akan membuat kita sedikit tidak nyaman melihatnya. Namun, mengutip dari Vulture.com, berbagai sosok mengerikan yang muncul di antara para anggota Losers Club terkesan konyol dan tanpa tekstur. Kehadiran mereka pun membuat ketegangan menjadi seadanya saja. Kengerian yang diperlihatkan lebih pada menjijikkan dan menyisakan dampak yang tidak signifikan begitu mereka menghilang. Kemudian, bagaimana sosok Pennywise yang diperankan oleh Bill Skasgard, lambat laun juga tidak menjadi penting seramnya. Selain itu, penggalian narasi pun masih banyak yang perlu digali lebih dalam. Akibatnya, film ini justru menaruh perbelokan misteri, fantasi, romantis, dan nostalgia dari setiap alur cerita dan tokoh. Tetapi di sisi lain, pengembangan karakter pemeran Losers Club dari versi anak-anak ke versi dewasa terlihat natural. Aspek komedi yang dibawakan oleh beberapa karakter melalui lelucon ringan juga mampu menghidupkan suasana.

Meskipun film ini berdurasi hampir tiga jam, tidak akan terasa karena adanya scene dari kilas balik Losers Club semasa anak-anak yang cukup menyentuh. Kita sebagai penonton pun dapat merasakan kehangatan dalam setiap jejak petualangan mereka di masa anak-anak. Andy Muschietti menyebutkan film ini sebagai film ‘surat cinta masa anak-anak’ dalam wawancara WGN News. Ia memberikan sudut pandangnya terhadap buku Stephen King. Muschietti menjelaskan bahwa ia membaca buku ini dua kali; di masa remaja dan di masa sebelum ia membuat film ini. Ia meyakini bahwa adanya keterhubungan yang berbeda dan sentuhan pengalaman personal dalam membaca buku itu. Muschietti bisa memahami bagaimana Stephen King mampu memberikan nilai penting pada trauma di masa anak-anak mampu membentuk karakter di masa dewasa. Tanpa disadari, rasa takut yang dialami pun ikut tertekan dan terbawa pada pembentukan itu. Dengan proses inilah kita mampu memahami untuk melawan trauma tersebut dan hal itu menjadi elemen dramatis dalam proses diri kita.

Pada dasarnya, memori banyak dibentuk oleh siapa kita sebagaimana kita dapat merindukannya. Dengan kekuatan sentimen nostalgia, Film IT Chapter 2 mengambil langkah baru melalui momen personal dengan menggali lebih dalam luka lama. Tidak mudah bagi kita untuk memisahkan segala pengalaman yang ada di diri kita, terutama dalam menentukan tentang siapa diri kita. Dari film ini, kita dapat memahami semangat kerinduan terpendam dalam narasi pribadi.

Teks: Kiky Suhendar

Foto: Hollywood Reporter

Editor: Ramadhana Afida Rachman

Suara Mahasiswa UI 2019

Independen, lugas, dan berkualitas!