Belajar dari Spanyol, TDA Bangun Sistem dan Kaderisasi Pemimpin

Jakarta – Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) menjadikan kemenangan Spanyol atas Argentina pada final Piala Dunia 2026 sebagai inspirasi dalam memperkuat organisasi. Bagi TDA, keberhasilan sebuah tim lahir dari sistem yang berjalan baik, bukan semata karena kehadiran individu-individu terbaik.
Prinsip itu menjadi pijakan Community Leadership TDA 9.0 dalam membangun organisasi yang mampu menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus mencetak lebih banyak pemimpin baru.
Chief Community Leadership TDA 9.0 M. Muamar Khadafi menegaskan organisasi sebesar TDA tidak boleh bergantung pada satu figur. Yang harus diperkuat adalah sistem agar regenerasi berjalan secara alami.
“Kalau analoginya sepak bola, pelajaran yang bisa diambil adalah tim besar tidak bergantung pada satu pemain, tetapi pada sistem yang membuat setiap pemain memahami perannya. Begitu juga dengan TDA. Komunitas sebesar TDA tidak boleh bergantung pada satu figur, tetapi harus memiliki sistem yang mampu melahirkan banyak pemimpin,” ujar Bang Dafi.
Menurutnya, Community Leadership TDA 9.0 memfokuskan diri pada penyusunan standar organisasi, penguatan kaderisasi, serta dokumentasi proses organisasi. Langkah tersebut diharapkan menjaga kualitas pengelolaan TDA di seluruh wilayah dan daerah.
“Dengan sistem yang kuat, pergantian kepemimpinan bukan menjadi ancaman, tetapi menjadi bagian alami dari proses bertumbuh,” kata pria yang kerap dipanggil Bang Dafi.
Leadership, Capability, dan Ecosystem
Bang Dafi menjelaskan, struktur organisasi TDA 9.0 disusun layaknya sebuah tim sepak bola yang setiap pemainnya memiliki posisi dan tanggung jawab berbeda, tetapi saling melengkapi.
TDA 9.0 mengusung tiga pilar utama, yakni Leadership, Capability, dan Ecosystem.
“Leadership membangun manusianya, Capability membangun kompetensinya, dan Ecosystem menghubungkan semuanya agar saling menguatkan,” jelasnya.
Ketiga pilar tersebut diterjemahkan dalam lima fokus Community Leadership, yaitu membangun organisasi, membangun pemimpin, memperkuat kebersamaan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membangun ketangguhan perempuan pengusaha.
“Ketika setiap peran berjalan dalam satu sistem, organisasi akan bertumbuh secara berkelanjutan,” kata Bang Dafi.
Let’s Go Together sebagai Cara Kerja Organisasi
Semangat Let’s Go Together, lanjut Bang Dafi, tidak hanya menjadi slogan komunikasi. Nilai tersebut mulai diterapkan dalam berbagai proses organisasi, termasuk pergantian kepemimpinan di tingkat wilayah maupun daerah.
TDA mendorong setiap proses suksesi dilakukan melalui musyawarah yang melibatkan senior, pengurus, dan berbagai unsur organisasi.
“Semua duduk bersama, menyatukan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk mencari pemimpin terbaik. Kami percaya keputusan terbaik lahir dari proses musyawarah yang mengutamakan kepentingan organisasi,” ujarnya.
Menurutnya, makna Let’s Go Together bukan sekadar berjalan bersama, tetapi juga menjaga keberlanjutan organisasi secara kolektif.
“Harapannya, Let’s Go Together bukan hanya dimaknai berjalan bersama, tetapi juga membangun dan menjaga TDA bersama,” katanya.
Membantu Entrepreneur Keluar dari Fase Survival
Selain memperkuat organisasi, TDA juga ingin membantu anggotanya melewati fase survival dalam berbisnis menuju fase pertumbuhan.
Bang Dafi mengatakan banyak pengusaha memulai usaha dengan menghadapi tekanan operasional, menjaga arus kas, mencari pasar, hingga menyelesaikan berbagai persoalan bisnis seorang diri.
“Banyak pengusaha memulai usahanya dari fase survival. Fase ketika seorang pengusaha harus bertahan menghadapi berbagai tantangan, bahkan terkadang harus menghadapinya sendirian,” ujarnya.
Melalui komunitas, proses belajar dapat berlangsung lebih cepat karena anggota memperoleh pengalaman para senior, mentoring, jejaring, dan peluang kolaborasi.
“Setelah bergabung dengan TDA, kami merasakan bagaimana komunitas ini membantu mempersingkat proses belajar melalui pengalaman para senior, program mentoring, berbagi jejaring, dan membuka peluang kolaborasi,” kata Bang Dafi.
Ia menilai keberhasilan seorang entrepreneur tidak hanya ditentukan kemampuan pribadi, tetapi juga kualitas ekosistem yang mendukungnya.
“Bagi kami, TDA bukan sekadar komunitas, tetapi sebuah ekosistem yang membantu para pengusaha bertumbuh dari survival menuju growth. Seorang entrepreneur tidak harus menghadapi setiap tantangan sendirian,” jelasnya.
Tiga Warisan Community Leadership TDA 9.0
Pada periode kepengurusan TDA 9.0, Community Leadership menargetkan tiga warisan utama.
Pertama, membangun sistem kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin baru di setiap wilayah dan daerah.
Kedua, mewujudkan tata kelola organisasi yang semakin rapi dan terstandarisasi agar kualitas TDA merata di seluruh Indonesia.
Ketiga, melanjutkan warisan para pendiri dan pengurus sebelumnya sehingga TDA tetap menjadi ruang bertumbuh, berkontribusi, dan saling menguatkan bagi para pengusaha.
“Organisasi yang baik bukan diukur dari hebatnya satu periode, tetapi dari kemampuannya meneruskan estafet kepemimpinan dengan melahirkan generasi penerus yang lebih baik,” kata Bang Dafi.
Menurutnya, seperti halnya sepak bola, keberhasilan organisasi tidak dibangun oleh satu figur semata. Organisasi akan terus menang ketika sistem berjalan baik, setiap orang memahami perannya, dan regenerasi berlangsung secara konsisten.
Melalui penguatan organisasi, kaderisasi, dan kepemimpinan kolektif, TDA 9.0 ingin memastikan semangat Let’s Go Together benar-benar menjadi cara kerja yang hidup di seluruh wilayah dan daerah.
