Konten Media Partner

James Gwee Ungkap Cara Dongkrak Penjualan Saat Krisis

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Dari Energi hingga Digital Marketing

James Gwee di PWN 2026, JICC, Jakarta. foto/Gatot Subroto/TDA
zoom-in-whitePerbesar
James Gwee di PWN 2026, JICC, Jakarta. foto/Gatot Subroto/TDA

Jakarta - Praktisi sales dan motivator bisnis James Gwee membagikan strategi meningkatkan penjualan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan dalam sesi bertajuk Sales Explosion: Meledakkan Sales di Era Krisis pada gelaran Pesta Wirausaha Nasional (PWN) Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (20/06/2026).

Di hadapan ribuan peserta yang terdiri dari pelaku UMKM, pengusaha, dan anggota Komunitas Tangan Di Atas (TDA), James menegaskan keberhasilan penjualan tidak hanya ditentukan oleh produk maupun harga, tetapi juga energi yang dimiliki seorang pemimpin dan tim dalam menjalankan bisnis.

“Energy is everything. Jika Anda tidak punya energi, Anda tidak punya apa-apa. Sebaliknya, jika Anda punya energi, Anda punya segalanya,” kata James Gwee saat membuka pemaparannya.

Energi Jadi Faktor Penting dalam Penjualan

Menurut James, energi dalam komunikasi menjadi salah satu faktor yang kerap diabaikan pelaku usaha. Ia menjelaskan, cara menyampaikan pesan dengan keyakinan, penekanan, dan antusiasme memiliki pengaruh besar dalam menarik perhatian pelanggan.

“Produk yang bagus pun tidak akan menarik kalau disampaikan tanpa energi. Sebaliknya, produk biasa bisa laku karena cara penyampaiannya memiliki gereget dan keyakinan,” ujarnya.

James juga mengingatkan pentingnya peran pemimpin dalam membangun semangat tim. Ia menyebut energi dalam sebuah tim merupakan cerminan langsung dari energi seorang pemimpin.

“The energy of your team is a reflection of the energy of the leader. Energi tim adalah cerminan energi pemimpinnya. Kalau leader-nya loyo, jangan berharap timnya semangat,” tegasnya.

Dalam sesi tersebut, James mengajak para pengusaha mengubah pola pikir dalam strategi penjualan. Menurutnya, banyak bisnis masih berfokus mencari pelanggan, padahal strategi yang lebih efektif adalah membangun bisnis yang membuat pelanggan datang dengan sendirinya.

“Mana yang lebih enak, kita yang cari pelanggan atau pelanggan yang cari kita? Jelas pelanggan yang cari kita. Closing lebih cepat, lebih sedikit penolakan, dan peluang transaksinya jauh lebih tinggi,” katanya.

Bangun Personal Branding Agar Pelanggan Datang Sendiri

James mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun menjalankan bisnis pelatihan, dirinya tidak mengandalkan tim sales yang aktif menawarkan jasa dari pintu ke pintu. Sebaliknya, ia membangun personal branding melalui berbagai kanal media hingga pelanggan mengenal dan mencari dirinya.

“Saya tampil di radio, televisi, menulis di majalah, dan sekarang di media sosial. Tujuannya sederhana, supaya orang mengenal saya lalu mencari saya. Ketika mereka yang mencari, peluang closing bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya.

Ia menilai perkembangan teknologi saat ini memberikan peluang besar bagi para pelaku usaha untuk membangun pasar tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Menurut James, platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dapat dimanfaatkan untuk membangun audiens sekaligus memperkuat hubungan dengan pelanggan.

“Sekarang Anda tidak punya alasan lagi. TikTok gratis, Instagram gratis, YouTube gratis. Yang penting konsisten membangun konten dan menunjukkan value yang bisa membantu pelanggan,” katanya.

James menjelaskan, setiap platform digital memiliki fungsi berbeda dalam mendukung strategi pemasaran bisnis.

TikTok, kata dia, dapat digunakan untuk menjangkau calon pelanggan baru. Instagram berperan membangun hubungan dengan pengikut yang sudah mengenal brand, sedangkan YouTube menjadi media untuk menunjukkan kualitas dan kedalaman konten.

“Kalau pelanggan mau mencari Anda, maka Anda harus hadir secara konsisten di tiga media sosial ini: TikTok, Instagram, dan YouTube,” ujarnya.

Strategi Promosi Harus Ciptakan Rasa Urgensi

Selain membahas branding dan digital marketing, James turut membagikan strategi menciptakan lonjakan penjualan melalui promosi yang mampu menarik perhatian pasar.

Menurutnya, diskon maupun hadiah harus memiliki daya tarik kuat agar calon pembeli merasa mendapatkan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

“Kalau mau kasih diskon jangan pelit. Kalau mau kasih hadiah jangan pelit. Tujuannya membuat orang merasa rugi kalau tidak membeli,” kata James.

Namun, ia mengingatkan bahwa strategi promosi juga harus dibarengi dengan unsur keterbatasan agar mampu menciptakan antusiasme pembeli.

“Diskon dan hadiah tanpa batas itu murahan. Orang harus dibuat tertarik dulu, lalu diberi tahu bahwa jumlahnya terbatas. Di situlah orang akan berebut dan antre,” jelasnya.

Melalui sesi Sales Explosion: Meledakkan Sales di Era Krisis, James Gwee menegaskan bahwa keberhasilan penjualan di tengah krisis tidak hanya bergantung pada produk dan harga.

Menurutnya, kombinasi energi pemimpin, kekuatan personal branding, konsistensi digital marketing, serta kemampuan menciptakan daya tarik menjadi faktor penting agar pelanggan datang dan bisnis mampu berkembang.