Kunjungan Bisnis TDA Salatiga Dorong Pengusaha Manfaatkan Media Sosial

Salatiga - Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) wilayah Salatiga menggelar kunjungan bisnis di Dimas Store, Tengaran, Jumat (23/10/2026). Kegiatan bertajuk Dengan Modal Ngonten Saja, Orderan Bisa Tembus Luar Negeri diikuti 20 anggota untuk mempelajari pemasaran melalui media sosial dan pengembangan usaha hingga menjangkau pasar internasional.
Ketua TDA Salatiga Tyasa Regga Pratama mengatakan, peserta mempelajari pengalaman pemilik Dimas Store dalam mengembangkan bisnis sepeda dan suku cadangnya melalui konten digital secara konsisten. Berawal dari bengkel di belakang rumah, usaha tersebut kini melayani pengiriman sepeda ke berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara, termasuk Taiwan, Singapura, dan Malaysia.
“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana pemasaran yang menjangkau pasar lebih luas tanpa harus selalu mengandalkan iklan berbayar. Namun, prosesnya membutuhkan waktu, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar menyesuaikan konten dengan kebutuhan calon pelanggan,” jelas Regga.
Menurut Regga, kunjungan bisnis menjadi kesempatan bagi anggota untuk melihat langsung praktik usaha, memahami proses pemasaran digital, dan bertukar pengalaman dengan sesama pengusaha. Pembelajaran yang diperoleh bukan semata-mata tentang cara membuat konten, melainkan juga membangun kebiasaan pemasaran yang terintegrasi dengan operasional bisnis.
“Pelaku usaha dapat memulai dari perangkat yang tersedia, memperlihatkan produk secara konsisten, mempelajari respons pasar, lalu memperbaiki pendekatan berdasarkan hasil yang diperoleh,” ungkapnya.
Pengalaman Dimas Store memperlihatkan bahwa perluasan pasar membutuhkan proses bertahap. Mulai dari keberanian memulai, konsistensi memperkenalkan produk, pengelolaan pelanggan, hingga pembagian pekerjaan ketika usaha berkembang. Melalui kegiatan ini, TDA Salatiga mendorong anggota untuk belajar dari praktik nyata, saling mendukung, dan menemukan cara yang relevan untuk mengembangkan usaha masing-masing.
Konten Sederhana untuk Menjangkau Pelanggan
Pemilik Dimas Store menekankan pentingnya mengubah kebiasaan menggunakan media sosial menjadi aktivitas pemasaran yang terarah. Konten yang dibagikan, menurutnya, tidak harus dibuat melalui proses produksi video yang rumit.
“Pelaku usaha dapat memulai dengan memperlihatkan produk, menjelaskan keunggulannya, dan menunjukkan aktivitas bisnis sehari-hari,” ungkapnya.
Ia mengatakan, konten menjadi sarana untuk memperkenalkan produk yang dijual. Ketika produk ditampilkan secara rutin, calon pelanggan memiliki kesempatan untuk mengenal usaha, bertanya tentang produk, hingga melakukan pembelian.
Pelaku usaha juga tidak perlu menunggu sampai mahir berbicara di depan kamera. Pemilik Dimas Store mengakui sempat kesulitan membuat konten pada awalnya. Namun, setelah terus belajar dan mencoba, ia mulai terbiasa.
Ia menyarankan pelaku usaha mempelajari konten yang relevan di media sosial, mengambil inspirasi, kemudian menyesuaikannya dengan karakter dan keunggulan bisnis masing-masing. Konsistensi menjadi salah satu tantangan utama dalam menjalankan strategi tersebut.
“Kesibukan operasional sering kali membuat pembuatan konten tertunda, padahal kehadiran yang rutin dapat membantu produk tetap dikenal oleh calon pelanggan. Kekurangan dalam konten pun dapat diperbaiki secara bertahap berdasarkan pengalaman dan respons audiens,” bebernya.
Dari Penjualan Lokal ke Pasar Internasional
Dalam menceritakan perjalanan usahanya, pemilik Dimas Store mengatakan bahwa sejak 2019, ia masih mengerjakan berbagai pekerjaan sendiri. Mulai dari mengemas sepeda, mengantar barang ke kargo, membeli perlengkapan pengiriman, hingga mencari barang.
Seiring berkembangnya usaha, sejumlah pekerjaan mulai dibagi kepada karyawan dan mitra operasional. Pengaturan ini memungkinkan pemilik lebih berfokus pada pengembangan bisnis, sementara pengiriman dan penanganan barang didukung oleh tim.
“Pemasaran digital juga membantu usaha tersebut memperluas jangkauan pelanggan,” ungkapnya.
Pemilik Dimas Store menyebut pesanan sepeda datang dari berbagai wilayah Indonesia dan beberapa negara di Asia. Dalam strategi pemasaran yang dibagikannya, ia mengaku tidak menggunakan iklan berbayar. Ia mengandalkan konten, interaksi dengan calon pembeli, serta kehadiran di komunitas jual beli sepeda.
Perubahan jenis produk yang dipasarkan juga menjadi bagian dari perjalanan bisnisnya. Menurut pengalaman yang dibagikan, sepeda yang dahulu dipasarkan dengan harga sekitar Rp800 ribu per unit kini dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta per unit.
Perkembangan tersebut berkaitan dengan fokus pada segmen produk dan pelanggan yang berbeda, serta proses membangun reputasi secara bertahap. Pengalaman ini menjadi bahan diskusi bagi peserta tentang pentingnya memilih saluran pemasaran yang sesuai, memahami karakter calon pelanggan, dan meningkatkan kapasitas usaha seiring bertambahnya permintaan.
Selain bisnis sepeda, pemilik Dimas Store menceritakan pengalamannya mengembangkan beberapa lini usaha lain, antara lain fotokopi, dimsum, konveksi, dan jasa cuci sepatu. Diversifikasi tersebut berangkat dari pengalaman menghadapi keterbatasan pendapatan ketika hanya mengandalkan satu usaha.
Ia kemudian berupaya membangun sumber pendapatan lain agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada satu lini usaha. Dalam diskusi, ia juga menyoroti pentingnya membangun tim.
Menurutnya, mengerjakan semua hal sendiri memang dapat menekan biaya tenaga kerja, tetapi berisiko membatasi kapasitas bisnis. Keterlibatan karyawan, termasuk dalam produksi konten, dapat mempercepat pekerjaan sekaligus memberi ruang bagi pemilik untuk memikirkan pengembangan usaha.
Ia mencontohkan tingginya volume komunikasi dengan pelanggan yang dapat mencapai sekitar 50–100 percakapan per hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penjualan perlu diikuti kesiapan operasional agar pelayanan pelanggan tetap terjaga.
Selain aspek teknis pemasaran, sesi berbagi juga membahas mentalitas pengusaha. Pemilik Dimas Store mengingatkan peserta agar tidak minder memperkenalkan produk sendiri dan tidak menjadikan keraguan orang lain sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Ia juga membagikan pandangan tentang pentingnya menjaga ibadah, meminta doa orang tua, serta menjalankan usaha dengan keyakinan dan tanggung jawab. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari cara menghadapi berbagai persoalan selama membangun bisnis.
Dalam sesi tanya jawab, peserta mendiskusikan pemilihan produk, pemanfaatan berbagai platform media sosial, strategi memasuki komunitas jual beli, serta pertimbangan menggunakan iklan berbayar. Pengalaman yang dibagikan menunjukkan bahwa pemasaran organik membutuhkan waktu dan ketekunan, sedangkan keputusan menggunakan iklan perlu mempertimbangkan biaya dan kemampuan usaha.
