Konten Media Partner

Meet The CEO PWN TDA 2026: Om Ben, Rikzy Arief, dan Hadiyatullah Bongkar Rahasia

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Bangun Brand yang Bertahan di Tengah Disrupsi

Meet The CEO PWN TDA 2026: Om Ben, Rikzy Arief, dan Hadiyatullah Bongkar Rahasia
zoom-in-whitePerbesar

Jakarta - Sesi Meet The CEO menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian peserta Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (20/06/2026).

Dipandu host Kang Ege, forum ini menghadirkan para pemimpin perusahaan dari berbagai sektor yang berbagi pengalaman membangun bisnis, menghadapi perubahan pasar, hingga menciptakan brand yang mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin dinamis.

Tiga narasumber yang hadir dalam sesi tersebut yakni Ben Wirawan atau Om Ben selaku CEO Torch, Rikzy Arief dari Pos Indonesia, serta M. Hadiyatullah selaku Founder Brighty.

Pos Indonesia Tekankan Pentingnya Adaptasi di Tengah Perubahan

Dalam paparannya, Rikzy Arief menekankan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci penting bagi perusahaan agar mampu bertahan dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan transformasi yang dilakukan Pos Indonesia yang kini memasuki usia hampir 280 tahun.

“Pos Indonesia sudah berusia 279 tahun dan tahun ini kami akan bertransformasi menuju usia 280 tahun. Artinya Pos Indonesia masih tetap bertahan dan berjaya. Tapi karena tua, kami harus adaptive dan agile terhadap perubahan pasar,” ujar Rikzy.

Menurutnya, salah satu kekuatan besar Pos Indonesia adalah jaringan yang luas dengan lebih dari 4.000 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia.

Infrastruktur tersebut, kata dia, menjadi aset yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk memperluas pasar maupun distribusi produk.

“Kami memiliki 4.096 kantor dari Sabang sampai Merauke. Ini adalah aset yang sangat terbuka untuk dikerjasamakan dengan para CEO dan pelaku usaha. Bisa digunakan sebagai showcase, penyimpanan barang, maupun berbagai bentuk kolaborasi lainnya,” jelasnya.

Selain jaringan kantor, Pos Indonesia juga memiliki lebih dari 30 ribu karyawan yang dinilai dapat menjadi pasar potensial bagi produk UMKM maupun anggota TDA.

Brighty Manfaatkan Tren Digital untuk Menciptakan Peluang Bisnis

Sementara itu, M. Hadiyatullah membagikan pengalaman membangun Brighty, brand perawatan ketiak yang lahir dari pengamatan terhadap tren digital pada awal masa pandemi.

Hadi menjelaskan, ide membangun brand tersebut muncul ketika melihat peluang besar dari perkembangan platform TikTok yang saat itu belum banyak dimanfaatkan oleh brand besar.

“Tahun 2020 saya melihat TikTok menjadi platform dengan downloader terbanyak di dunia. Saat itu belum banyak brand besar masuk ke sana. Saya melihat ada tren yang berkembang dan dari situ saya melakukan riset pasar,” kata Hadi.

Dari riset tersebut, ia menemukan peluang pada kategori perawatan ketiak yang belum banyak memiliki rangkaian produk lengkap.

“Saya melihat di Indonesia tidak ada produk rangkaian perawatan ketiak. Akhirnya saya membuat whitening underarm, underarm scrub, antiperspirant, waxing kit, hingga masker ketiak. Jadi produknya blue ocean dan channel penjualannya juga blue ocean,” ungkapnya.

Strategi tersebut kemudian menghasilkan respons positif sejak awal peluncuran. Hadi mengaku Brighty berhasil mencatatkan sekitar 300 invoice pada hari pertama penjualan.

“Produknya fit, market-nya fit, channel-nya fit. Jadi marketing cost menjadi jauh lebih efektif,” tambahnya.

Om Ben Ungkap Pentingnya Identitas dalam Membangun Brand

Pada sesi berikutnya, CEO Torch Ben Wirawan atau yang akrab disapa Om Ben membawakan materi mengenai pentingnya membangun brand yang relevan dan memiliki identitas kuat.

Ia mencontohkan perjalanan Harley-Davidson yang mampu bertahan lebih dari satu abad karena konsisten menjaga karakter dan identitas brand.

“Menjadi ikonik memang tidak mudah. Tetapi ketika sebuah brand sudah ada di kepala konsumen, itu menjadi sebuah keberkahan. Identitas yang kuat akan membuat brand lebih mudah bertahan dalam jangka panjang,” ujar Om Ben.

Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan perusahaan adalah meninggalkan identitas utama yang selama ini menjadi kekuatan brand.

Om Ben menyoroti perjalanan Harley-Davidson saat mencoba mengikuti tren motor murah ala Jepang pada era 1970-an. Strategi tersebut justru membuat konsumen kehilangan kepercayaan terhadap brand tersebut.

“Ketika Harley-Davidson mencoba menjadi seperti yang lain, mereka gagal. Namun ketika kembali pada identitasnya dan membangun komunitas melalui Harley Owners Group, penjualannya kembali meningkat,” jelasnya.

Ia juga mengangkat kisah Apple yang sempat mengalami masa sulit sebelum kembali berkembang melalui inovasi yang tetap mempertahankan karakter khas perusahaan.

Dari berbagai contoh tersebut, Om Ben menyampaikan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya bergantung pada produk yang bagus, tetapi juga kemampuan menjaga identitas brand serta membangun komunitas yang loyal.

“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjual produk, tetapi bagaimana membuat orang percaya dan merasa menjadi bagian dari brand yang kita bangun,” katanya.

Host Kang Ege menilai sesi Meet The CEO memberikan banyak pelajaran praktis bagi para pelaku usaha yang hadir. Mulai dari pentingnya membaca data pasar, membuka peluang kolaborasi, hingga menjaga relevansi brand di tengah perubahan zaman.

Melalui forum ini, peserta PWN TDA 2026 mendapatkan gambaran bahwa setiap bisnis memiliki tantangan berbeda. Namun, kunci keberhasilan tetap terletak pada kemampuan beradaptasi, memahami kebutuhan pasar, dan membangun identitas brand yang kuat di benak konsumen.