Motoran Bareng TDA Salatiga Bahas Bisnis, Keluarga, dan Perjalanan

Magelang - Sebanyak 21 anggota komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Salatiga mengikuti Motoran Bareng TDA Salatiga di kawasan Nepal Van Java, Kabupaten Magelang, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut memadukan touring dengan sharing session bersama pengusaha kuliner Hengki Wibowo.
Rangkaian kegiatan dimulai dari Salatiga pukul 06.30. Peserta tiba di kawasan Kampung Nepal Van Java sekitar pukul 10.00 untuk menyusuri kawasan tersebut.
Sekitar pukul 11.00, peserta melanjutkan perjalanan ke Nestra Lounge and Cafe, Kabupaten Magelang, untuk mengikuti sharing session bertema “Menyelaraskan Bisnis, Keluarga, dan Eksplorasi Nusantara”.
Dari korporasi ke bisnis kuliner
Dalam sesi tersebut, Hengki menceritakan perjalanan dari kepala cabang perusahaan shipping line hingga memilih menjadi pengusaha kuliner.
Keputusan itu diambil ketika berusia 35 tahun. Menurut pengalaman yang dibagikannya kepada peserta, tekanan pekerjaan korporasi membuat kondisi fisik dan pikirannya semakin terbebani. Ia kemudian memilih meninggalkan fasilitas pekerjaan dan membangun bisnis kuliner dari kota kecil.
Selama sekitar 11 tahun membangun usaha, Hengki mengembangkan Roemah Djampe hingga menjadi bagian dari sumber penghidupan keluarganya. Salah satu alasan utama berwirausaha adalah keinginannya memiliki lebih banyak waktu untuk membangun bonding bersama istri dan anak-anak sekaligus memiliki ruang untuk melakukan perjalanan.
“ Go Ahead, Jangan Nunggu Proper ”
Salah satu pesan yang dibagikan Hengki adalah agar aktivitas perjalanan tidak selalu menunggu kondisi yang dianggap sempurna.
Menurut pengalamannya, perjalanan dan riding dapat dimulai dengan kendaraan yang tersedia. Ia mencontohkan pengalamannya menjelajahi jalur Trans Sulawesi menggunakan Yamaha Lexy.
Prinsip tersebut dirangkum dalam pesan “Go Ahead, Jangan Nunggu Proper”. Pesan itu menjadi ajakan untuk tidak menjadikan kendaraan mahal atau kondisi finansial tertentu sebagai syarat untuk mulai mengeksplorasi perjalanan.
Namun, kebebasan melakukan perjalanan tetap membutuhkan perencanaan. Hengki menekankan pentingnya menentukan jalur touring dan titik-titik wisata kuliner yang akan dikunjungi sebelum perjalanan dimulai.
Bisnis yang Memberikan Ruang untuk Keluarga
Pengalaman touring bersama keluarga telah membawanya menjelajahi berbagai wilayah Indonesia, mulai Brebes, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan Maluku.
Ia juga membagikan pengalaman perjalanan ke Enrekang, kawasan Suku Bajo, Toraja, hingga Banda Neira. Selain itu, Hengki berbagi rencana perjalanan berikutnya untuk menjelajahi Danau Maninjau dan Singkarak serta menikmati kuliner pempek di sekitar Jembatan Ampera.
Perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung tanpa risiko. Hengki menceritakan pengalaman tersesat di jalur selatan Jawa Barat, mengalami insiden rem blong di Gunung Lio, Brebes, hingga tersesat setelah mengikuti navigasi digital di Yogyakarta.
Pengalaman itu menjadi pembelajaran bahwa perjalanan membutuhkan persiapan, informasi dari komunitas, serta kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi tidak terduga.
Touring juga menjadi bagian dari bisnis
Bagi Hengki, perjalanan juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan bisnis. Pengalaman backpacking ke luar negeri, mencari rempah di pasar, hingga perjalanan ke berbagai daerah menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan Roemah Djampe di Salatiga.
Ia juga memanfaatkan aktivitas perjalanan untuk membuat konten kuliner dan membangun personal branding. Aktivitas yang awalnya merupakan perjalanan bersama keluarga dapat sekaligus menjadi bagian dari komunikasi bisnis.
Dalam pengelolaan usaha, Hengki berbagi mengenai pentingnya delegasi. Operasional bisnis dipercayakan kepada tim dan keluarga, sementara pengetahuan mengenai bumbu inti tetap dijaga di lingkungan keluarga.
Komunitas dan Keseimbangan Hidup
Kegiatan Motoran Bareng TDA Salatiga juga menjadi ruang bagi anggota untuk bertukar pengalaman mengenai manajemen risiko perjalanan, keluarga, bisnis, dan pemanfaatan komunitas sebagai sumber informasi.
Peserta mendiskusikan cara membuat perjalanan lebih menarik bagi anggota keluarga, termasuk dengan memasukkan agenda wisata kuliner dan eksplorasi destinasi baru.
“Rezeki tidak hanya dinilai dari income, tetapi ruang bagi pengusaha untuk memiliki waktu bersama keluarga, membangun pengalaman, dan berbagi manfaat dengan lingkungan,” kata Hengki.
Nilai keseimbangan hidup juga tercantum sebagai salah satu nilai berkomunitas TDA. Dalam kerangka TDA 9.0, pengembangan entrepreneur diarahkan melalui proses Bersama Belajar, Bersama Bertumbuh, Bersama Naik Kelas, dan Bersama Memberi Dampak.
Bagi TDA Salatiga, kegiatan seperti ini menjadi ruang informal bagi anggota untuk memperkuat silaturahmi sekaligus mendapatkan pembelajaran dari pengalaman sesama pengusaha. Format berbagi pengalaman langsung dari member juga sejalan dengan arah program TDA 9.0 yang mengembangkan Sharing Session dan Inspiring Member sebagai kanal untuk mengangkat perjalanan pengusaha dari berbagai daerah.
Outlook
Motoran Bareng TDA Salatiga menunjukkan bahwa aktivitas komunitas pengusaha dapat menjadi ruang pertemuan antara bisnis, keluarga, pengalaman, dan persahabatan. Dari perjalanan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan cerita mengenai destinasi, tetapi juga perspektif tentang bagaimana membangun usaha yang memungkinkan pengusaha memiliki waktu untuk keluarga dan tetap terhubung dengan komunitas.
Pesan yang mengemuka dalam sesi tersebut adalah bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari uang yang diperoleh. Waktu bersama keluarga, teman seperjalanan, kesempatan menjelajah, dan kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain juga menjadi bagian dari nilai yang dibangun melalui perjalanan kewirausahaan.
Tentang Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas
Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas merupakan organisasi kewirausahaan yang berdiri sejak 2006 dengan visi menjadi komunitas pengusaha yang memberikan kontribusi positif bagi peradaban.
TDA memiliki lebih dari 62.000 anggota yang tersebar di 119 daerah, 29 wilayah, serta memiliki perwakilan di lima negara. TDA menjalankan berbagai program edukasi, mentoring, workshop, pengembangan komunitas, business matching, kolaborasi ekosistem, dan kegiatan sosial untuk memperkuat kepemimpinan, kapabilitas, serta jejaring entrepreneur Indonesia.
