Praktisi Bisnis Adhytia Pratama Ungkap Kunci Bisnis Naik Kelas
Networking Lebih Berharga dari Modal Besar

Jakarta - Banyak pelaku usaha meyakini bahwa kesuksesan bisnis ditentukan oleh kerja keras, pola pikir positif, hingga strategi pemasaran yang tepat. Namun, entrepreneur sekaligus praktisi bisnis Adhytia Pratama menyampaikan sudut pandang berbeda saat menjadi pemateri dalam rangkaian Pesta Wirausaha Nasional (PWN) Komunitas Tangan Di Atas (TDA) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (20/06/2026).
Di hadapan ribuan peserta, Adhytia membongkar faktor yang menurutnya sering kali tidak banyak dibicarakan oleh para pengusaha sukses ketika berbagi cerita perjalanan bisnisnya.
Menurutnya, ada dua hal utama yang sangat menentukan ketika seseorang ingin membawa bisnis berkembang lebih besar, yakni koneksi dan kapital.
“Kalau kita gali lebih dalam, faktanya dua hal yang paling berpengaruh adalah koneksi dan kapital. Koneksi itu siapa yang kita kenal, sementara kapital adalah modal. Pertanyaannya, kalau kita tidak punya keduanya, apakah berarti kita tidak bisa berhasil? Nah, di situlah pentingnya networking,” kata Adhytia.
Dalam paparannya, ia mencontohkan bagaimana sejumlah perusahaan besar dunia dapat berkembang dengan dukungan jaringan dan modal yang kuat. Ia menyebut nama Alice Walton, pewaris Walmart yang saat ini menjadi salah satu perempuan terkaya di dunia, serta Françoise Bettencourt Meyers dari L’Oréal Group.
Meski demikian, Adhytia menegaskan bahwa keterbatasan modal bukan alasan bagi seseorang untuk berhenti membangun bisnis.
Menurutnya, bagi pelaku UMKM, membangun jaringan secara sistematis dan konsisten dapat menjadi strategi yang sangat efektif, bahkan seperti konsep guerrilla marketing yang lebih mengandalkan kreativitas dibanding besarnya anggaran.
“Tidak mungkin kalau bukan karena networking saya bisa ada di sini. Yang saya bagikan hari ini bukan soal marketing atau entrepreneurship semata, tetapi networking. Ini yang paling masuk akal dalam perjalanan hidup saya,” ujarnya.
Dari Honda Revo hingga Panggung Nasional
Adhytia kemudian membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia mengaku pernah berada dalam kondisi ekonomi sulit setelah keluarganya kehilangan hampir seluruh aset yang dimiliki.
Sebagai anak tertua, ia harus ikut membantu keluarga sambil berjuang membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dalam kondisi tersebut, ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki modal besar untuk memulai bisnis. Karena itu, satu-satunya aset yang bisa ia bangun adalah relasi.
“Saya sudah yakin bahwa saya tidak mungkin punya kapital. Tapi saya mungkin punya koneksi. Kapital tidak bisa saya ciptakan dalam waktu singkat, tetapi koneksi bisa saya bangun,” katanya.
Kesadaran tersebut membuatnya aktif mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan komunitas bisnis. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti acara digital marketing dengan biaya tiket Rp150 ribu.
Saat itu, ia datang bukan hanya untuk mendapatkan materi, melainkan mencari kesempatan membangun hubungan dengan orang-orang yang dianggap dapat membuka akses baru.
“Saya datang ke acara itu naik Honda Revo. Saya mengincar satu orang yang menurut saya bisa saya dekati. Saya berpikir sederhana, kalau saya tidak punya modal, setidaknya saya bisa membangun koneksi,” ujarnya.
Networking sebagai Senjata UMKM
Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, Adhytia juga menyoroti berbagai cerita sukses di dunia bisnis yang menurutnya sering kali belum disampaikan secara lengkap.
Menurutnya, banyak pengusaha sukses berbicara tentang pentingnya mindset, kerja keras, dan integritas. Namun, ada faktor lain yang juga memiliki peran besar, yaitu jaringan dan akses kepada orang-orang yang tepat.
“Mereka bilang rahasia sukses itu mindset positif, kerja keras, integritas. Itu semua penting. Tapi sering kali mereka tidak cerita bahwa deal besar yang mereka dapat terjadi karena mereka mengenal pengambil keputusannya,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak peserta PWN TDA 2026 untuk mulai memandang networking sebagai investasi jangka panjang yang memiliki nilai besar dalam perjalanan bisnis.
Menurut Adhytia, bagi pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan anggaran pemasaran, membangun relasi yang tepat merupakan bentuk guerrilla marketing yang paling efektif.
Melalui jaringan yang kuat, sebuah bisnis dapat memperoleh akses pasar, peluang kolaborasi, mentor, hingga kesempatan investasi yang sulit dicapai hanya dengan mengandalkan promosi berbayar.
“Kalau saya boleh jujur, perjalanan hidup saya berubah bukan karena saya punya uang. Perjalanan hidup saya berubah karena saya bertemu orang-orang yang tepat,” tuturnya.
Pesan tersebut mendapat sambutan dari peserta yang memenuhi ruang acara. Bagi banyak pelaku usaha yang sedang berupaya mengembangkan bisnis, networking bukan lagi sekadar aktivitas bertukar kartu nama, melainkan strategi pertumbuhan yang dapat menjadi pembeda antara bisnis yang berjalan di tempat dan bisnis yang mampu naik kelas.
