Konten Media Partner

Presiden TDA Sebut Jejaring Sosial Kunci Mobilitas Ekonomi

TDAverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden TDA Sebut Jejaring Sosial Kunci Mobilitas Ekonomi
zoom-in-whitePerbesar

JAKARTA – Komunitas pengusaha dapat menjadi elevator sosial baru yang membuka jalan mobilitas ekonomi melalui jejaring, pengetahuan, dan modal sosial. Gagasan itu disampaikan Presiden Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Ferdian saat memberikan keynote speech pada puncak Dies Natalis ke-13 Universitas Agung Podomoro, Jumat (17/7).

Dalam paparan berjudul Social Mobility Through Entrepreneurship in TDA, Ferdian menilai hambatan terbesar mobilitas ekonomi bukan semata-mata kemampuan individu, melainkan keterbatasan akses terhadap jaringan sosial yang membuka peluang berkembang.

Ia mengutip riset ekonom Raj Chetty dan tim yang menyebut economic connectedness atau pertemanan lintas kelas sebagai salah satu prediktor penting mobilitas ekonomi.

“Informasi, modal, dan peluang tidak mengalir lewat pengumuman. Semuanya mengalir melalui jaringan sosial, sementara akses terhadap jaringan tersebut sering kali menjadi warisan yang tidak dimiliki semua orang,” ujar Ferdian.

Pemikiran itu kemudian dikaitkan dengan teori sosiolog Pitirim Sorokin mengenai saluran sirkulasi vertikal, yakni institusi yang memungkinkan seseorang melampaui batas kelas sosialnya. Jika sekolah, rumah ibadah, dan lembaga lain selama ini dikenal sebagai saluran klasik mobilitas sosial, menurut Ferdian, komunitas pengusaha dapat menjalankan fungsi serupa dalam konteks yang lebih modern.

“Di sekolah, koneksi lintas kelas sering kali terbentuk sebagai konsekuensi. Di komunitas pengusaha, koneksi itu dapat dirancang, diorganisasi, dan diperluas secara sistematis,” jelasnya.

Ferdian mengatakan, filosofi tersebut menjadi dasar penyelenggaraan berbagai program TDA, seperti Foundation Workshop Series, Growth Workshop Series, Corporate Workshop Series, mentoring bisnis, hingga business matching.

Program-program itu, menurutnya, bukan hanya meningkatkan kompetensi pelaku usaha, tetapi juga mempertemukan pengusaha dari berbagai tingkat pengalaman sehingga tercipta pertukaran pengetahuan, peluang kolaborasi, dan akses ke jejaring yang sebelumnya sulit dijangkau.

Ia menegaskan TDA tidak pernah menjanjikan kesuksesan bagi anggotanya. Organisasi itu hanya berupaya membuka akses terhadap faktor-faktor yang kerap menentukan peluang seseorang untuk berkembang.

“TDA tidak menjanjikan kesuksesan. Yang kami bangun adalah akses terhadap jejaring, pengetahuan, dan modal sosial yang selama ini sering terkunci oleh batas-batas kelas. Sisanya tetap ditentukan oleh kerja keras setiap individu.”

Didirikan pada 2006, TDA kini memiliki lebih dari 62.000 anggota yang tersebar di 119 daerah, 29 wilayah, serta perwakilan di lima negara. Organisasi tersebut secara rutin menggelar pelatihan, mentoring, business matching, dan berbagai program pengembangan kapasitas bagi pelaku usaha dari beragam skala bisnis.

Ferdian menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas kewirausahaan semakin penting untuk memperluas kesempatan bagi generasi muda.

Kampus, kata dia, memberikan fondasi akademik. Adapun komunitas menghadirkan ruang belajar berbasis pengalaman, jejaring profesional, dan kolaborasi di dunia usaha.

Ferdian mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif melalui semangat #LetsGoTogether.t

Dalam kerangka TDA 9.0, organisasi tersebut memfokuskan pengembangan pada penguatan kepemimpinan, peningkatan kapabilitas wirausaha, pengembangan ekosistem kolaborasi, serta penciptaan dampak sosial.