TDA 9.0 Fokus Perkuat Manfaat bagi Anggota

Jakarta - Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) memulai kepengurusan TDA 9.0 dengan fokus memperkuat manfaat komunitas bagi anggota.
Arah tersebut disampaikan dalam Kick-Off TDA 9.0 yang digelar secara daring, Minggu (9/8/2026). Kegiatan diikuti 400-an peserta. Mereka terdiri atas pengurus pusat, wilayah, daerah, serta anggota TDA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Presiden TDA Ferdian Brillian mengatakan kepengurusan baru tidak ingin melihat TDA 9.0 sebagai perjalanan yang dimulai dari awal. Organisasi telah memiliki fondasi, jejaring, program, dan pengalaman yang dibangun melalui periode-periode sebelumnya.
“Kita tidak memulai dari nol. Kita melanjutkan estafet pelayanan komunitas pengusaha TDA,” kata Ferdian.
TDA saat ini mencatat memiliki lebih dari 70.000 anggota. Mereka tersebar di lebih dari 119 kabupaten dan kota, dengan lebih dari 2.000 aktivitas setiap tahun.
Komunitas tersebut juga memperkirakan aktivitas ekonomi yang terkait dengan ekosistem anggotanya memiliki economic contribution lebih dari Rp6 triliun per tahun.
Modal tersebut menjadi pijakan TDA 9.0 untuk bergerak ke tahap berikutnya.
Dari komunitas belajar menuju ruang mobilitas pengusaha
Salah satu perspektif yang dibawa TDA 9.0 adalah menjadikan komunitas sebagai ruang mobilitas sosial dan vertikal bagi pengusaha.
Pendekatan ini berangkat dari kenyataan bahwa kebutuhan entrepreneur berubah mengikuti perkembangan bisnisnya.
Pengusaha pada tahap awal, misalnya, lebih banyak membutuhkan pengetahuan, pendampingan, dan akses yang membantu bisnisnya bertumbuh. Ketika skala bisnis meningkat, kebutuhan mulai bergeser menuju jaringan, kolaborasi, dan pengembangan kepemimpinan.
Sementara bagi entrepreneur yang telah berada pada tingkat bisnis lebih matang, keberadaan komunitas dapat menjadi ruang untuk memperbesar kontribusi kepada anggota lain maupun masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, TDA tidak hanya ingin menjadi tempat pengusaha berkumpul. TDA ingin menjadi ekosistem yang memungkinkan anggota bergerak dari belajar, bertumbuh, memimpin, hingga memberikan dampak.
Untuk mendekatkan manfaat organisasi dengan kebutuhan anggota, TDA 9.0 memperkenalkan pendekatan “Butuh–Betah”.
Konsep Butuh menempatkan TDA sebagai tempat yang relevan ketika pengusaha membutuhkan pembelajaran, mentor, jaringan, kolaborasi, solusi, maupun akses terhadap peluang bisnis.
Sedangkan Betah berkaitan dengan kemampuan komunitas menciptakan pengalaman, hubungan, dan manfaat yang membuat anggota tetap terlibat sekaligus bersedia memberikan kontribusi kembali kepada ekosistem.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjawab salah satu tantangan TDA. Yakni, bagaimana organisasi dengan anggota dari beragam sektor, wilayah, dan tingkat perkembangan bisnis tetap mampu memberikan manfaat yang relevan.
Karena itu, salah satu indikator yang ingin diperkuat selama tiga tahun mendatang adalah partisipasi anggota, bukan semata pertumbuhan jumlah anggota.
Regenerasi hingga dialog kebijakan
Tantangan lain yang mendapat perhatian khusus adalah regenerasi.
Menurut Ferdian, regenerasi dari generasi milenial menuju Gen Z menjadi salah satu agenda penting TDA 9.0.
Perubahan tersebut tidak hanya terkait usia anggota dan pengurus yang semakin matang. Pola belajar, cara membangun jaringan, hingga cara generasi baru memandang entrepreneurship dan komunitas juga terus berubah.
Karena itu, TDA 9.0 menempatkan program kaderisasi sebagai salah satu agenda awal kepengurusan.
Langkah tersebut diharapkan melahirkan generasi baru anggota sekaligus pemimpin komunitas yang dapat membawa TDA tetap relevan terhadap perubahan dunia usaha.
Selain memperkuat manfaat bagi anggota, TDA 9.0 juga ingin meningkatkan peran eksternal organisasi.
Salah satu arah yang dibawa adalah memperkuat posisi TDA sebagai mitra dialog pemerintah dalam merumuskan ekosistem kewirausahaan Indonesia.
TDA tidak ingin keterlibatan komunitas pengusaha berhenti pada kehadiran dalam kegiatan atau forum pemerintah. Organisasi ingin pengalaman dan aspirasi entrepreneur dari berbagai daerah dapat menjadi masukan dalam diskusi mengenai kebijakan kewirausahaan.
Dengan basis anggota yang tersebar di berbagai wilayah serta latar belakang bisnis yang beragam, TDA melihat komunitas dapat menjadi salah satu sumber perspektif mengenai persoalan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
Agenda tersebut akan mulai diperkuat melalui dialog dengan pemerintah, bersamaan dengan penguatan organisasi wilayah dan kaderisasi pengurus serta anggota.
TDA 9.0 membawa sembilan arah strategi. Mulai dari pembangunan tim pengurus, penguatan komunikasi dua arah, pengembangan kepemimpinan dan kapasitas bisnis, kolaborasi ekosistem, pemanfaatan teknologi, hingga perluasan dampak sosial.
Namun, berbagai strategi tersebut diarahkan pada tujuan yang lebih sederhana: memastikan anggota benar-benar merasakan manfaat keberadaan komunitas.
Bagi TDA 9.0, keberhasilan organisasi pada akhirnya bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan sejauh mana TDA membantu perjalanan entrepreneur di berbagai fase bisnisnya.
“Menjadi pengusaha terasa lebih mudah karena ada TDA” menjadi arah yang ingin diwujudkan kepengurusan dalam tiga tahun mendatang.
