TDA Ciamis Gelar NYATE, Pelaku UMKM Belajar Bangun Branding

Ciamis - Nama sebuah usaha bukan sekadar identitas. Di baliknya ada pesan, nilai, dan kesan yang ingin ditanamkan kepada konsumen. Hal itu dibedah dalam kegiatan NYATE (Nyarita Teori jeng Eksekusi) yang digelar TDA Ciamis di Warung Sate Ciamis, samping Yogya Cikoneng, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti anggota TDA Ciamis, TDA Tasikmalaya, serta pegiat UMKM di Ciamis. Hadir sebagai pemateri Teguh Gumilar atau yang akrab disapa Kang Ege, BOD TDA Pusat sekaligus praktisi branding dan bagian dari Tim Kadin Jawa Barat.
Branding Bukan Sekadar Nama dan Logo
NYATE menjadi ruang pertemuan antara teori dan praktik. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep branding, tetapi juga membedah bagaimana sebuah brand memiliki posisi yang jelas di benak konsumen. Zoy bertindak sebagai pembawa acara sebelum kegiatan dilanjutkan dengan sesi utama bersama Kang Ege.
Dalam paparannya, Kang Ege mengingatkan bahwa branding tidak berhenti pada persoalan membuat nama atau logo usaha. Sebuah brand harus mampu meninggalkan kesan tertentu di benak konsumen. Karena itu, pelaku usaha perlu menentukan positioning produk yang ingin dibangun.
“Positioning produk kita harus jelas di benak konsumen. Jangan sampai ketika mendengar nama brand kita, tidak ada satu pun value yang terbersit di benak konsumen. Tentukan kesan apa yang hendak dibangun, usahakan spesifik. Sampainya pesan itu penting, tetapi kesan itu tidak kalah pentingnya,” ujar Kang Ege.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta menanyakan persoalan branding yang mereka hadapi dalam bisnis masing-masing. Diskusi pun berkembang ke hal-hal yang lebih teknis dan dekat dengan keseharian para pelaku UMKM.
Bukan hanya materi, pertemuan tersebut juga membuka ruang bagi para pegiat UMKM untuk saling mengenal dan terhubung. Beberapa peserta yang sebelumnya belum saling mengenal mulai membangun komunikasi dan jejaring setelah bertemu dalam kegiatan NYATE.
Ketua TDA Ciamis Asep menyambut optimistis pertemuan tersebut. Menurutnya, keberadaan TDA diharapkan menjadi ruang yang mendorong para pelaku UMKM untuk terus bertumbuh.
“Bersama TDA, mudah-mudahan rekan-rekan UMKM yang ada bisa semakin pesat bertumbuh. Karena salah satu nilai yang kita pegang adalah silaturahmi dan tangan di atas, yaitu semangat untuk terus memberi,” ujar Asep.
Dari Hobi Menjadi Bisnis
Kehadiran Kang Ege di Ciamis tidak berhenti di forum NYATE. Dia menyempatkan diri mengunjungi Alwildan Sainspreneur, sebuah pesantren di Ciamis yang mengembangkan pendidikan dengan memadukan sains dan entrepreneurship.
Di hadapan para santri, Kang Ege membawakan materi Dari Hobi Menjadi Bisnis. Para santri diajak melihat bahwa dunia usaha tidak harus dimulai ketika seseorang sudah memasuki usia dewasa.
Para santri yang tertarik mulai berbisnis sejak muda diberikan sejumlah pesan sederhana, mulai dari meminta maaf kepada orang tua, meminta doa orang tua, aktif berorganisasi, hingga membiasakan diri tidak mudah mengeluh dengan mengatakan capek.
“Banyak orang dewasa mengatakan, nanti kalau sudah pensiun aku mau bisnis apa ya? Kenapa menunggu pensiun? Kenapa tidak dipersiapkan sejak kecil?” tutur Kang Ege.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana ruang belajar TDA tidak hanya berbicara mengenai omzet dan strategi penjualan. Ada pula upaya membangun cara berpikir, memperluas jejaring, serta menumbuhkan keberanian untuk mulai mengeksekusi gagasan.
Melalui NYATE, TDA Ciamis kembali mempertemukan teori dengan realitas di lapangan. Dari warung sate, para pelaku UMKM berdiskusi tentang bagaimana membangun brand yang memiliki makna dan kesan. Dari sana pula lahir koneksi baru yang diharapkan terus berkembang menjadi kolaborasi.
