TDA Gandeng IDEA Dorong Bisnis Anggota Jadi Korporasi

Jakarta - Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Pusat menggandeng PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA) untuk mendorong bisnis anggota bertransformasi menjadi korporasi menengah dan besar melalui mentoring, konsultasi, dan pendampingan intensif.
Kolaborasi tersebut dilakukan Komunitas TDA di bawah kepemimpinan Presiden TDA 9.0 Ferdian Brillian bersama PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA).
Presiden Direktur PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA) Eko Desriyanto mengatakan, kolaborasi itu dilatarbelakangi perjalanan IDEA sebagai salah satu success story perusahaan yang lahir dan besar di TDA.
IDEA, kata Eko, berawal dari lembaga kursus sebelum bertransformasi menjadi korporasi yang berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia.
“Hal ini diharapkan menjadi inspirasi bagian ribuan pengusaha TDA untuk mentransformasikan bisnisnya menjadi korporasi menengah dan besar. IDEA dalam hal ini akan mengambil peran mentoring, consulting dan pendampingan proses transformasi korporatisasi dari bisnis kecil-menengah menjadi korporasi menengah-besar,” jelasnya.
Pendampingan Korporatisasi Bisnis
Eko mengatakan, tujuan utama kolaborasi IDEA dan TDA adalah melakukan transformasi secara masif terhadap bisnis milik pengusaha TDA. Transformasi diarahkan hingga menjadi korporasi menengah dan besar.
Pendampingan dilakukan tim IDEA yang berpengalaman mentransformasikan bisnis kecil menjadi korporasi menengah.
Kerja sama tersebut ditandatangani Presiden TDA 9.0 dan Presiden Direktur IDEA Tbk pada Kamis, 30 Juli 2026. Penandatanganan berlangsung di kantor pusat PT Idea Indonesia Akademi Tbk di Jakarta Selatan dan kerja sama efektif berlaku sejak ditandatangani.
Program kolaborasi mencakup pendampingan korporatisasi bisnis anggota TDA melalui sembilan aspek utama. Pertama, menganalisis dan memperbaiki historisitas harta dan pajak pribadi maupun perusahaan.
Kedua, membangun entitas perusahaan sesuai tujuan jangka panjang. Ketiga, membangun aset kekayaan perusahaan. Keempat, memperbaiki legalitas perusahaan sesuai peraturan yang berlaku.
Kelima, memperbaiki standar pencatatan dan pelaporan keuangan sesuai PSAK. Keenam, memperbaiki business model agar lebih scalable.
Selanjutnya, memperbaiki sistem operasional perusahaan, people management system, serta strategic goal perusahaan.
“Jadi, yang menjadi sasaran utama program pengusaha TDA dengan size bisnis di atas 5 Miliar,” bebernya.
Eko menjelaskan, transformasi bisnis diarahkan dari owner-driven menjadi system-driven dan organization-driven company. Artinya, sistem operasional yang sebelumnya sangat bergantung pada owner atau founder diubah menjadi perusahaan yang dijalankan oleh sistem dan organisasi.
Metode pendampingan IDEA dimulai dengan wawancara untuk pengenalan dan pendalaman. Setelah itu dilakukan analisis untuk menghasilkan rencana transformasi hingga pendampingan proses transformasi perusahaan.
Target 10–20 Pengusaha per Tahun
Eko menegaskan sejumlah target dan indikator keberhasilan kolaborasi tersebut. Di antaranya, historisitas harta atau kekayaan pribadi dan perusahaan harus sesuai dengan pelaporan perpajakan.
Dengan begitu, tidak ada lagi kekhawatiran terkait pemeriksaan pajak pada masa mendatang.
Target lainnya adalah berdirinya entitas perusahaan dengan kaidah legal dan permodalan sesuai perundangan. Strategi membangun aset perusahaan juga diarahkan agar lebih efisien.
Selain itu, perusahaan ditargetkan memiliki legalitas lengkap sesuai aturan hukum dan perundangan. Pencatatan dan pelaporan keuangan juga harus sesuai standar korporasi.
Program tersebut juga menargetkan tersusunnya business model document yang scalable, business operation document, organization and people management document, serta strategic business plan document.
Eko berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong lebih banyak pengusaha TDA naik kelas.
Sebagai Presiden TDA 8.0 sekaligus anggota yang telah merasakan proses transformasi dari bisnis menuju korporasi, dia berharap setiap tahun sedikitnya 10–20 pengusaha kecil-menengah TDA dapat bertransformasi menjadi korporasi menengah dan besar.
Transformasi itu diharapkan berlangsung melalui langkah dan strategi yang tepat, efisien, dan cepat dengan program mentoring, consulting, dan pendampingan.
Menurut Eko, langkah tersebut dapat membantu mewujudkan visi TDA untuk berkontribusi terhadap ekonomi dan peradaban Indonesia secara signifikan.
“Saat ini, mayoritas pengusaha TDA berkutat pada level UMKM, bukan pada size bisnisnya tapi pada tata kelola perusahaannya, sehingga kiprahnya tidak banyak dilihat dan didengar oleh stakeholder masyarakat, ekosistem bisnis dan pemerintah Indonesia,” pesannya.
