TDA Palopo Angkat Kisah Pengusaha yang Bangkit Setelah Menutup Dua Usaha

Palopo – Tidak semua perjalanan wirausaha diwarnai ekspansi bisnis atau pembukaan cabang baru. Muhammad Erick Gunawan, anggota Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Palopo, justru memilih bangkit setelah dua kali menutup usahanya dengan meneruskan usaha bubur ayam warisan sang ibu.
Erick merupakan mantan Ketua TDA Luwu Raya periode 7.0 sebelum komunitas tersebut bertransformasi menjadi TDA Palopo. Perjalanannya sebagai pengusaha tidak selalu berjalan mulus.
Ia pernah membangun Durian Baper, brand yang menghadirkan berbagai olahan durian, mulai dari es teler durian hingga es krim durian. Usaha itu sempat berkembang dan memiliki pelanggan setia.
Namun, perubahan kondisi pasar membuat bisnis tersebut akhirnya harus dihentikan. Erick kemudian kembali mencoba peruntungan melalui Nasi Telur Ken Ito, usaha kuliner dengan menu andalan telur berpadu saus khas.
“Harapannya, konsep baru tersebut dapat menjadi peluang baru. Namun setelah lebih dari dua tahun beroperasi, usaha itu pun kembali harus ditutup,” jelasnya.
Dua kali menutup usaha bukan pengalaman yang mudah. Namun, bagi Erick, setiap kegagalan merupakan bagian dari proses belajar sebagai seorang wirausaha.
Kini ia memulai langkah baru dengan meneruskan resep bubur ayam warisan sang ibu. Baginya, usaha tersebut bukan sekadar menjadi sumber penghasilan, tetapi juga cara menjaga cita rasa dan nilai-nilai keluarga.
“Usaha ini meneruskan warisan yang telah dibangun orang tua selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Ketua TDA Palopo periode 8.0, Mustakar yang akrab disapa Om Rail, mengatakan kisah Erick mencerminkan realitas dunia kewirausahaan yang jarang mendapat perhatian.
“Media sering kali hanya menampilkan cerita tentang pembukaan cabang baru atau omzet yang terus meningkat. Padahal, ada banyak pengusaha yang sedang berjuang mempertahankan usahanya agar tetap hidup. Dan menurut saya, itu juga layak diapresiasi,” katanya.
Menurut Om Rail, pengalaman Erick memberikan pelajaran penting bagi para pelaku UMKM.
“Syarat pertama untuk bisa bertumbuh adalah tetap hidup. Selama seorang pengusaha tidak menyerah, selalu ada kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan memulai kembali. Menutup satu usaha bukan berarti perjalanan telah berakhir,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengalaman Erick juga menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin komunitas tidak selalu berada di puncak kesuksesan. Sebagai mantan Ketua TDA Luwu Raya periode 7.0, Erick pernah menginspirasi banyak pelaku usaha.
Kini, melalui keberaniannya memulai kembali dari nol, ia kembali memberi pelajaran bahwa kerendahan hati untuk bangkit setelah gagal sama berharganya dengan keberhasilan.
Bagi TDA Palopo, kisah seperti ini memiliki nilai yang sama pentingnya dengan cerita ekspansi bisnis. Komunitas tidak hanya ingin merayakan keberhasilan, tetapi juga menghargai setiap proses perjuangan para anggotanya.
Di balik usaha yang harus ditutup, kerap lahir pengusaha yang lebih matang. Begitu pula di balik keberanian memulai kembali, selalu ada harapan menuju keberhasilan berikutnya.
Semangat itulah yang terus dijaga TDA Palopo, yakni bertumbuh bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan selalu berani bangkit dan melangkah lagi.
