Konten Media Partner

TDA Surabaya 9.0 Usung Nawasena, Bergerak Menuju Ekosistem Wirausaha

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
TDA Surabaya 9.0 Usung Nawasena, Bergerak Menuju Ekosistem Wirausaha
zoom-in-whitePerbesar

Surabaya — Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Surabaya resmi menuntaskan serah terima amanah kepengurusan periode 8.0 kepada 9.0 dalam sebuah acara yang digelar di Excotel Design Surabaya, Kamis (23/7). Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menandai dimulainya arah baru organisasi melalui visi Nawasena, sebuah gagasan yang membawa TDA Surabaya bergerak dari komunitas menuju ekosistem kewirausahaan.

Momen tersebut menjadi istimewa karena mempertemukan para Ketua TDA Surabaya dari berbagai periode dalam satu forum. Hadir di antaranya Andi Sufariyanto (Ketua TDA Surabaya 1.0 sekaligus Ketua Majelis Wali Amanah TDA 4.0), Ferry Andriyanto (Ketua 3.0), Kukuh Wira (Ketua 5.0 dan Ketua Wilayah Jawa Timur 6.0), Ade Fyrman (Ketua 6.0), Febri Nazuka (Ketua 7.0), hingga Ichlasul Amal Rangga Winata yang menuntaskan amanah sebagai Ketua TDA Surabaya 8.0 dan kini dipercaya sebagai Chief Ecosystem TDA 9.0.

Dari jajaran nasional, turut hadir Arief Wicaksono selaku Chief Marketing, Media & Technology TDA 9.0, Rizki Rahmadianti (Sekretaris Jenderal TDA 7.0), serta Ria Saktia (Direktur KMB TDA 7.0).

Kepengurusan 8.0 Ditutup dengan Pertumbuhan Organisasi

Selama masa kepengurusan 8.0, TDA Surabaya mencatat sejumlah capaian yang menunjukkan pertumbuhan komunitas. Sebanyak 115 kegiatan berhasil diselenggarakan, mulai dari TDA Cangkruk, TDA Workshop, Kelompok Mentoring Bisnis (KMB), TDA Peduli, hingga berbagai aktivitas TDA Club.

Jumlah anggota juga meningkat signifikan. Dari sekitar 3.700 anggota pada awal periode 2023, TDA Surabaya kini memiliki 5.368 anggota, terdiri atas 4.741 member basic dan 627 member eksklusif, atau tumbuh sekitar 45 persen.

Program Kelompok Mentoring Bisnis (KMB) menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan tersebut. Sepanjang periode 8.0, program ini melibatkan 49 mentor, menyelenggarakan 53 KMB Reguler, serta 59 KMB Lite untuk mendampingi para pelaku usaha.

Dalam sambutannya, Ketua TDA Surabaya 8.0, Ichlasul Amal Rangga Winata, menegaskan bahwa kekuatan terbesar TDA bukan terletak pada banyaknya program, melainkan pada budaya saling percaya yang dibangun di dalam komunitas.

"TDA adalah high trust community, di mana mata uangnya adalah trust dan kontribusi. Ini yang harus kita jaga," ujarnya.

Menurut Winata, keberagaman latar belakang anggota menjadi kekuatan yang memungkinkan setiap pengusaha belajar lebih cepat, memperluas jejaring, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan organisasi bukan sekadar jumlah kegiatan yang terlaksana, melainkan sejauh mana anggota benar-benar merasakan manfaat bergabung.

"Yang paling penting adalah member merasakan manfaat bergabung—bagaimana secara pribadi ia bertumbuh, bisnisnya bertumbuh, jaringannya bertumbuh, saling berkolaborasi, dan saling berbagi sebagai bentuk kontribusi di TDA," katanya.

Nawasena Jadi Kompas Kepengurusan Baru

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan kepada Penalar Arif Budiman, yang sebelumnya menjabat Sekretaris 1 pada kepengurusan 8.0.

Dalam pidato perdananya sebagai Ketua TDA Surabaya 9.0, Arif memperkenalkan Nawasena sebagai arah gerak baru organisasi.

Baginya, Nawasena bukan sekadar tema kepengurusan, melainkan visi jangka panjang yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Nawasena bukan tentang tiga tahun kita. Nawasena adalah tentang puluhan tahun setelah kita," ujarnya.

Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga komitmen utama, yaitu menumbuhkan lebih banyak entrepreneur, menghubungkan lebih banyak peluang, dan mewariskan lebih banyak pemimpin.

Dari Komunitas Menjadi Ekosistem

Gagasan utama yang dibawa kepengurusan baru adalah menggeser peran TDA Surabaya dari sekadar tempat berkumpul menjadi ekosistem yang mendorong setiap anggota bertumbuh.

"Komunitas mengumpulkan orang. Ekosistem membuat setiap orang bertumbuh," kata Arif.

Melalui pendekatan tersebut, anggota diharapkan tidak hanya hadir untuk mengikuti kegiatan, tetapi juga menemukan peluang bisnis, mitra kolaborasi, ruang belajar, hingga kesempatan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Visi Nawasena dijalankan melalui lima pilar utama, yakni Grow Together, Connect Together, Scale Together, Impact Together, dan Legacy Together. Kelima pilar tersebut dirancang untuk mendukung perjalanan anggota mulai dari belajar, berkembang, berkolaborasi, meningkatkan kapasitas bisnis, memberi dampak, hingga melahirkan pemimpin baru.

Menutup pemaparannya, Arif menyampaikan kalimat yang menjadi benang merah kepengurusan TDA Surabaya 9.0.

"Program hanyalah kendaraan. Perubahan adalah tujuan."

Bagi kepengurusan baru, keberhasilan Nawasena nantinya diukur dari semakin banyak entrepreneur yang berani memulai usaha, semakin banyak UMKM yang berkembang, semakin luas kolaborasi yang terbangun, serta lahirnya lebih banyak pemimpin baru yang melanjutkan estafet organisasi.

Semangat tersebut juga sejalan dengan arah gerak TDA 9.0 secara nasional melalui tagline Let's Go Together, yang mengajak seluruh anggota untuk tumbuh bersama dan menciptakan dampak yang lebih luas bagi ekosistem kewirausahaan di Indonesia.

Tentang TDA Surabaya

TDA Surabaya merupakan bagian dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA), komunitas kewirausahaan yang menjadi ruang belajar, berbagi pengalaman, mentoring, serta kolaborasi bagi para pelaku usaha dari berbagai skala bisnis. Berbagai program seperti Kelompok Mentoring Bisnis (KMB), workshop, diskusi, dan jejaring bisnis rutin dihadirkan untuk mendukung pertumbuhan anggotanya.

Bagi pelaku usaha yang ingin mengenal lebih dekat aktivitas dan program TDA Surabaya, informasi dapat diperoleh melalui akun Instagram @tda_surabaya atau dengan mengikuti agenda terbuka yang secara berkala diselenggarakan. Kesempatan untuk menjadi bagian dari komunitas juga terbuka bagi siapa pun yang ingin bertumbuh bersama dalam ekosistem kewirausahaan yang kolaboratif.