Mahasiswa Rantau Pilih Bertahan Saat Idul Adha

Mahasiswa Sarjana Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Bosowa Makassar
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Moch Refa Amirul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, tidak sedikit mahasiswa perantau yang memilih tetap bertahan di tempat rantau dibanding pulang ke kampung halaman. Faktor biaya perjalanan, waktu libur yang singkat, hingga aktivitas akademik menjadi alasan utama.
Memasuki 8 Dzulhijjah pada Senin, 25 Mei 2026, suasana Iduladha mulai terasa. Namun di balik suasana tersebut, banyak perantau harus menahan rindu karena belum bisa berkumpul bersama keluarga di rumah.
Salah seorang mahasiswa mengaku keinginan untuk mudik sebenarnya selalu ada setiap menjelang lebaran. Akan tetapi, keadaan membuat dirinya harus tetap berada di rantau dan menjalani Iduladha jauh dari keluarga.
Menurutnya, waktu libur yang tidak terlalu panjang membuat perjalanan pulang kampung terasa kurang efektif. Setelah lebaran, aktivitas perkuliahan dan tanggung jawab akademik kembali berjalan seperti biasa.
Kondisi tersebut menjadi gambaran kehidupan anak rantau yang harus belajar bertahan dalam berbagai keadaan. Selain menyesuaikan kebutuhan hidup, mereka juga dituntut mampu mengatur pengeluaran selama menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman.
Meski tidak dapat merayakan Iduladha bersama keluarga, para perantau tetap berharap suasana lebaran tahun ini membawa keberkahan dan ketenangan, walaupun harus dirayakan sederhana di tanah rantau. *(RF)*
Mahasiswa Sosiologi di Universitas Bosowa
