Nyasak Jembatan Sewo: Antara Tradisi, Perut Lapar, dan Nyawa yang Berharga

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Refaliza Ailiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ketika arus mudik mulai membanjiri jalur Pantura, terdapat pemandangan yang selalu terlihat di atas Jembatan Sewo, batas antara Kabupaten Subang dan Indramayu, Jawa Barat. Ratusan orang berdiri berbaris di tepi jalan, masing-masing memegang sapu blarak (mirip seperti sapu lidi), menunggu dengan sabar lemparan koin dan uang kertas dari para pemudik yang melintas.
Bagi mereka yang baru pertama kali melewati lokasi Jembatan Sewo ini, pemandangan ini mungkin terasa asing dan membingungkan. Namun, bagi jutaan pemudik di Pantura, hal ini merupakan tanda bahwa mereka telah tiba di Sewo, perbatasan kota Subang dan Indramayu.
Tradisi ini berasal dari legenda rakyat mengenai Saedah dan Saeni, dua saudara yang semasa hidup mencari nafkah di jembatan tersebut hingga meninggal dunia akibat tertabrak kendaraan. Keyakinan bahwa melempar uang di Jembatan Sewo dapat menghindarkan diri dari malapetaka dalam perjalanan telah berkembang dan tertanam kuat di kalangan masyarakat Pantura selama beberapa dekade.
Namun, seiring berjalannya waktu, unsur mistis tersebut bertransformasi menjadi hal yang lebih pragmatis sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagi banyak warga di Desa Sewo dan Sukra serata sekitarnya, aspal panas di tepi jalan menjadi tempat mereka meraih penghasilan tambahan, terutama saat jumlah kendaraan meningkat drastis saat musim mudik Lebaran. Dibalik setiap gerakan sapu, terdapat anak yang menunggu di rumah, beras yang harus dibeli, dan baju lebaran yang ingin diberikan.
Dua Dimensi yang Sulit Terpisahkan
Ratusan warga dengan membawa sapu blarak terlihat berbaris di Jalur Pantura, khususnya di Jembatan Sewo, pada pertengahan Maret ini. Mereka setia menantikan para pemudik yang akan melemparkan koin atau uang kertas, bahkan nekat berebut hingga ke tengah jalan raya.
Disinilah terdapat dilema besar. Tradisi ini memiliki dua dimensi yang sulit dipisahkan. Dimensi budaya yang penuh makna, dan dimensi bahaya yang jelas mengancam keselamatan jiwa. Pemandangan warga yang berdesakan dan menciptakan kebisingan di jalan demi uang ini tentu memengaruhi kenyamanan serta kelancaran para pengguna jalan yang melintas. Seorang pemudik bernama Adi bahkan memberikan pendapatnya secara jujur "Sebenarnya itu agak mengganggu. Namun, mungkin itu sudah menjadi adat mereka".
Pernyataan tersebut mewakili perasaan jutaan pemudik, campuran antara rasa iba, kagum, dan khawatir. Kita tergerak untuk melempar koin sebagai bentuk sedekah perjalanan, tetapi juga merasa ngeri melihat mereka berlari-lari di antara deru kendaraan besar.
Seberapa Dalam Negara Turut Hadir?
Pada tahun ini, pemerintah telah mengambil langkah yang lebih serius dibandingkan sebelumnya. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan mendadak ke Desa Sewo, Subang, dan memberikan instruksi untuk menghentikan seluruh aktivitas penyapuan koin selama 15 hari demi menjaga keamanan arus mudik. Sebagai bentuk kompensasi, warga yang terdaftar akan menerima uang santunan lebaran agar mereka dapat merayakan hari raya dengan layak tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalan.
Tercatat sebanyak sekitar 1.500 warga penyapu koin yang mendapatkan bantuan kompensasi ini, yang disalurkan langsung di halaman Kantor Kuwu Desa Karanganyar pada 18 Maret 2026.
Langkah ini layak mendapatkan apresiasi. Negara tidak hanya melarang, tetapi juga menyediakan pengganti. Ini merupakan pendekatan yang lebih manusiawi. Namun, kita perlu merenungkan lebih dalam, apakah santunan sementara ini cukup untuk menangani persoalan struktural yang telah berlangsung selama puluhan tahun?
Sebagian besar penyapu koin di Jembatan Sewo adalah warga miskin yang memiliki keterbatasan dalam akses pendidikan, keterampilan, dan peluang kerja. Selama akar masalah ini belum diselesaikan, larangan ini hanya akan bersifat sementara. Tahun depan, saat arus mudik kembali tiba, aktivitas penyapuan koin tersebut kemungkinan besar akan kembali terjadi.
Sedekah yang Perlu Ditinjau Kembali
Satu aspek yang perlu kita renungkan sebagai pemudik adalah apakah melempar koin ke jalan merupakan bentuk kepedulian yang tepat?
Niat kita memang mulia. Kita ingin berbagi kebahagiaan saat Lebaran. Kita percaya itu adalah sedekah perjalanan. Namun, tanpa kita sadari, lemparan koin tersebut juga mendorong orang-orang untuk nekat berlari di tengah jalur Pantura yang padat. Kapolres Indramayu, AKBP Fajar Gumilang, juga mengeluarkan imbauan tegas kepada para pemudik untuk tidak melakukan aktivitas melempar uang ke jalan. Tindakan ini bukan untuk menghapuskan tradisi, melainkan demi keselamatan kita semua.
Jika kita ingin bersedekah kepada warga Sewo dan sekitarnya, ada cara yang lebih aman dan lebih bijak melalui lembaga sosial setempat, program pemberdayaan, atau langsung menyalurkan bantuan kepada komunitas mereka tanpa menciptakan situasi berbahaya di atas jembatan.
Jembatan Sewo dan Cermin kita
Jembatan Sewo akan selamanya menjadi bagian dari ingatan bersama jutaan orang yang pulang ke kampung halaman, sebuah lokasi dimana mitos, perekonomian, dan keselamatan bertemu.
Tradisi Nyasak (Nyapu duit) bukan hanya sekedar fenomena menarik yang layak untuk difoto dan diunggah di media sosial. Ini merupakan cermin yang memantulkan realitas kemiskinan yang masih belum teratasi, serta solidaritas masyarakat yang tetap hadir di tengah laju modernisasi yang pesat.
Lebaran adalah waktu untuk merayakan kemenangan, kebersamaan, dan berbagi. Namun, kemenangan sejati bagi warga Sewo tidak hanya terletak pada penerimaan santunan tahunan, melainkan ketika mereka tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa demi selembar uang yang jatuh dari tangan pengendara yang lewat.
Semoga arus mudik Lebaran 2026 ini membawa keselamatan bagi kita semua hingga tiba di tujuan, termasuk ratusan warga di tepi Jembatan Sewo yang juga berhak atas kehidupan yang lebih aman dan bermartabat.
