Konten dari Pengguna

Ketika Mobil Tua Mulai Ditinggalkan, Siapa yang Akan Mengingatnya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Refansyah Amru khalid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar ini diambil dari : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar ini diambil dari : Shutterstock

Suatu hari nanti, mungkin jalanan akan dipenuhi mobil-mobil yang hampir tidak mengeluarkan suara. Tidak ada lagi suara mesin yang bergetar ketika dinyalakan di pagi hari, tidak ada suara starter yang sedikit berat setelah mobil terlalu lama terparkir, dan tidak ada lagi suara perpindahan gigi yang terdengar kasar tetapi justru terasa begitu akrab bagi pemiliknya.

Mobil akan menjadi semakin pintar, semakin nyaman, semakin aman, dan semakin senyap. Namun, di tengah semua kemajuan itu, mungkin ada sesuatu yang perlahan hilang: karakter.

Sebab bagi sebagian orang, mobil bukan hanya benda yang membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Mobil bisa menjadi bagian dari cerita hidup. Ada mobil yang pernah digunakan untuk mengantar anak sekolah setiap pagi, membawa keluarga pergi berlibur, menemani seseorang mencari nafkah, atau menjadi kendaraan pertama yang digunakan seseorang ketika belajar mengemudi.

Kita mungkin pernah melihat sebuah mobil tua dengan cat yang mulai kusam, lampu yang sedikit menguning, atau interior yang sudah tidak lagi terlihat sempurna. Bagi sebagian orang, mobil seperti itu mungkin sudah waktunya dijual atau bahkan dibuang. Tetapi bagi pemiliknya, ceritanya bisa sangat berbeda.

Mungkin mobil tersebut sudah menemani keluarga selama puluhan tahun. Mungkin ada banyak perjalanan yang tidak pernah tercatat, tetapi masih tersimpan dalam ingatan. Bahkan mungkin ada seseorang yang sudah tidak lagi memiliki orang yang dulu sering duduk di dalam mobil itu. Yang tersisa hanyalah kendaraan tua yang masih dirawat karena memiliki nilai yang tidak bisa dihitung dengan uang.

Generasi sekarang mungkin terbiasa dengan mobil yang cukup dinyalakan menggunakan sebuah tombol. Tekan, lalu mesin hidup. Semuanya terasa mudah.

Namun dahulu, menyalakan mobil bisa menjadi sebuah ritual kecil. Kunci dimasukkan, diputar, kemudian mesin berusaha hidup. Kadang langsung menyala, kadang harus menunggu beberapa saat. Setelah itu terdengar suara mesin yang khas.

Setiap mobil memiliki suaranya sendiri. Ada yang halus, ada yang kasar, ada yang terdengar berat, dan ada pula yang ketika pedal gas diinjak sedikit saja sudah membuat seluruh garasi ikut bergetar.

Suara-suara seperti itu mungkin terasa biasa ketika kita masih mengalaminya. Tetapi sesuatu yang biasa sering kali baru terasa berharga setelah tidak lagi ada.

Tidak bisa disangkal bahwa mobil modern jauh lebih canggih. Teknologi keselamatan semakin berkembang, konsumsi bahan bakar semakin efisien, kenyamanan semakin baik, dan berbagai sistem elektronik membuat berkendara menjadi lebih mudah.

Kita tentu tidak bisa menolak perubahan. Dunia otomotif memang akan terus bergerak maju.

Namun, perkembangan tersebut juga membuat hubungan manusia dengan mobil menjadi sedikit berbeda.

Dahulu, pemilik mobil mungkin harus benar-benar mengenal kendaraannya. Mereka bisa mengetahui ada sesuatu yang tidak beres hanya dari suara mesin yang berubah. Mereka tahu kapan oli perlu diganti, kapan kopling mulai terasa berbeda, atau kapan sebuah bunyi kecil dari bagian mesin tidak boleh diabaikan.

Sekarang, banyak hal dapat dipantau oleh komputer. Jika terjadi masalah, sistem kendaraan akan memberikan peringatan.

Lebih praktis, tentu saja.

Tetapi bagi sebagian penggemar otomotif, ada sesuatu yang terasa semakin jauh: hubungan langsung antara manusia dan mesin.

Itulah sebabnya mobil tua masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian orang. Bukan karena mobil lama selalu lebih baik daripada mobil baru. Bukan juga karena teknologi modern tidak menarik.

Tetapi karena mobil tua memiliki cerita.

Sebuah mobil yang sudah berusia puluhan tahun mungkin tidak lagi memiliki performa seperti ketika pertama kali keluar dari pabrik. Mesinnya mungkin membutuhkan perhatian lebih. Suku cadangnya mungkin semakin sulit ditemukan. Perawatannya juga bisa menguras waktu dan biaya.

Namun ketika mobil itu kembali menyala setelah diperbaiki, ada kepuasan tersendiri yang mungkin sulit dijelaskan kepada orang yang tidak mengalaminya.

Ada perasaan bahwa sesuatu yang hampir hilang berhasil diselamatkan.

Mungkin beberapa puluh tahun dari sekarang, mobil-mobil tertentu yang dahulu begitu mudah ditemui di jalan hanya akan menjadi barang langka. Anak-anak pada masa itu mungkin melihat foto sebuah mobil tua dan bertanya, “Dulu mobil seperti ini dipakai untuk apa?”

Kemudian seseorang akan menjawab, “Dulu, mobil seperti ini ada di mana-mana.”

Saat itulah kita mungkin menyadari bahwa sebuah era telah benar-benar berakhir.

Namun mungkin mobil-mobil tersebut tidak akan benar-benar hilang.

Akan selalu ada orang yang memilih untuk mempertahankannya. Mereka yang rela mencari suku cadang, memperbaiki mesin, merawat bodi, membersihkan interior, dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya agar sebuah kendaraan tua tetap bisa berjalan.

Bukan karena mereka tidak menyukai mobil baru.

Mereka hanya merasa bahwa beberapa benda memang pantas diberi kesempatan untuk terus hidup.

Setiap mobil tua yang masih berjalan di jalan raya seolah membawa sedikit bagian dari masa lalu bersamanya. Ia mengingatkan kita bahwa dunia otomotif tidak selalu tentang kecepatan, teknologi, harga, atau jumlah fitur.

Terkadang, otomotif juga tentang perasaan.

Tentang suara mesin yang kita kenal sejak kecil. Tentang perjalanan bersama keluarga. Tentang seseorang yang mengajari kita mengemudi. Tentang perjalanan jauh yang pernah terasa begitu menyenangkan. Atau tentang seseorang yang mungkin sudah tidak lagi bersama kita, tetapi kenangannya masih terasa setiap kali kita membuka pintu mobil lama itu.

Jadi, ketika mobil tua mulai ditinggalkan, siapa yang akan mengingatnya?

Mungkin orang-orang yang pernah mengendarainya.

Orang yang pernah duduk di kursi belakangnya.

Orang yang pernah belajar mengemudi menggunakan mobil tersebut.

Atau seseorang yang hanya pernah melihatnya lewat jendela rumah ketika masih kecil.

Mobil tua mungkin suatu hari benar-benar hilang dari jalanan. Tetapi selama masih ada seseorang yang mengingat suara mesinnya, bentuk bodinya, aroma interiornya, atau perjalanan yang pernah dilaluinya, mobil itu sebenarnya belum benar-benar mati.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah mobil berharga bukan hanya mesin yang berada di balik kapnya.

Melainkan cerita yang pernah dibawanya.

Dan mungkin, beberapa puluh tahun dari sekarang, ketika jalanan dipenuhi kendaraan yang semakin canggih dan semakin senyap, kita justru akan merindukan sesuatu yang dulu kita anggap biasa.

Suara mesin tua yang terdengar dari kejauhan.